Wabah Pes Tertua di Dunia Ditemukan di Siberia, dari 5.500 Tahun Lalu - Kompas
Wabah Pes Tertua di Dunia Ditemukan di Siberia, dari 5.500 Tahun Lalu
KOMPAS.com - Para pemburu-pengumpul di Siberia sekitar 5.500 tahun lalu menjadi korban wabah pes yang mematikan. Penelitian mengungkap, sebagian besar korbannya adalah anak-anak.
Inilah bukti tertua wabah pes yang pernah ditemukan hingga saat ini.
Baca juga: BRIN Wanti-wanti Peluang Wabah Pes Kembali Menyebar di Indonesia
Kuburan Misterius di Tepi Sungai Angara
Selama bertahun-tahun, para arkeolog dibuat bingung oleh sebuah pemandangan tak biasa di empat pemakaman kuno di tepi Sungai Angara—sungai yang mengalir keluar dari Danau Baikal di Siberia.
Di sana, terlalu banyak anak yang dikuburkan dalam rentang waktu yang sangat singkat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tidak ada luka. Lalu, apa yang membunuh mereka?
Cara Mudah Nonton Piala Dunia 2026 lewat Streaming atau Gratis di TVRI
Jawabannya akhirnya ditemukan, dan hasilnya mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.
Baca juga: Terisolasi di Pulau Terpencil, Burung Wren Berevolusi Jadi Lebih Besar
Sebuah tim peneliti berhasil mengidentifikasi DNA purba dari bakteri Yersinia pestis—penyebab wabah pes—dalam sisa-sisa tulang para pemburu-pengumpul yang hidup sekitar 5.500 tahun lalu.
Temuan ini, yang diterbitkan pada Rabu, 17 Juni 2025 dalam jurnal Nature, menjadikannya bukti tertua wabah pes yang pernah membunuh manusia yang berhasil diidentifikasi hingga saat ini.
Dua Gelombang Wabah yang Menghancurkan Keluarga
Penelitian ini dipimpin oleh Ruairidh Macleod, peneliti genomik purba dari Universitas Oxford. Bersama timnya, ia mengekstrak DNA purba dari gigi 46 individu yang dimakamkan di keempat lokasi pemakaman tersebut.
Baca juga: Paus Langka di Hawaii Kritis, Kehilangan 226 Kg dalam 10 Minggu
Hasilnya mengejutkan: DNA Y. pestis ditemukan pada 18 dari 46 individu, berasal dari dua strain bakteri yang sebelumnya tidak dikenal. Infeksi ini terjadi dalam dua gelombang wabah yang berbeda:
- Gelombang pertama: sekitar 5.596 hingga 5.341 tahun lalu
- Gelombang kedua: sekitar 5.126 hingga 4.926 tahun lalu
Beberapa kuburan mengandung sisa-sisa lebih dari satu orang yang dimakamkan bersamaan—kemungkinan besar mereka meninggal dalam waktu yang berdekatan akibat wabah yang sama.
Salah satu kuburan berisi tiga gadis muda yang memiliki hubungan darah dekat. Kuburan lain berisi seorang keponakan dan bibinya.
"Pasti ada yang selamat—orang-orang yang mengenal korban ketika masih hidup—yang kemudian menguburkan mereka bersama dalam satu liang," kata Macleod dikutip Live Science.
Baca juga: Wabah Pes: Penyebab, Gejala, dan Jenisnya
Dari Marmot ke Manusia: Bagaimana Wabah Ini Menyebar?
Asal-Usul Infeksi
Para peneliti meyakini bahwa penyakit yang menyerang komunitas pemburu-pengumpul ini kemungkinan besar adalah pes pneumonik—salah satu bentuk pes yang menyerang paru-paru dan menyebar melalui udara saat penderita batuk atau bersin.
Penyakit ini kemungkinan besar menular dari marmot liar—hewan pengerat yang hingga kini diketahui sebagai reservoir alami bakteri Y. pestis di kawasan Asia Tengah dan Siberia.
Gen Misterius yang Membunuh Anak-anak
Salah satu temuan paling penting dari penelitian ini adalah ditemukannya gen unik pada kedua strain bakteri purba tersebut.
Baca juga: Jejak Api Tertua Ditemukan di Gua Afrika, Usianya 1,8 Juta Tahun
Gen ini mengkode protein yang memicu respons imun berlebihan dalam tubuh—sebuah kondisi yang dikenal sebagai badai sitokin (cytokine storm).
Reaksi imun yang terlalu keras ini justru bisa menjadi fatal, terutama pada anak-anak yang sistem imunnya merespons lebih agresif.
Hal ini, menurut para peneliti, bisa menjelaskan mengapa begitu banyak korban anak-anak ditemukan di lokasi pemakaman tersebut.
Baca juga: Harpun Berusia 100 Tahun Ditemukan di Tubuh Paus Tertua di Dunia
Menggugurkan Asumsi Lama tentang Epidemi
Wabah Bukan Hanya Milik Peradaban Pertanian
Selama ini, para ilmuwan berasumsi bahwa epidemi berskala besar baru bisa terjadi setelah munculnya pertanian dan kehidupan menetap—ketika populasi manusia cukup padat untuk menularkan penyakit secara masif.
Artinya, temuan di Siberia ini menantang asumsi tersebut secara langsung.
"Kami mendapat hasil yang benar-benar mengejutkan: kami menemukan banyak sekali kasus pes di sini, jauh lebih awal dari yang kami perkirakan," kata Macleod.
"Ini mungkin adalah bukti paling mendekati 'senjata yang masih berasap' yang pernah kita miliki untuk mendemonstrasikan ketematian wabah-wabah awal ini."
Baca juga: Wabah Pes dan Malaria Berdampak pada Evolusi Manusia, Bagaimana dengan Covid-19?
Pes Sudah Menyerang Sebelum Maut Hitam
Temuan ini juga memperkuat bukti bahwa wabah pes telah melanda manusia jauh sebelum Maut Hitam (Black Death)—epidemi dahsyat abad ke-14 yang menewaskan sekitar 25 juta orang atau antara 25-33 persen populasi Eropa Barat saat itu.
Wabah pes berulang sebelumnya juga sudah teridentifikasi pada petani di kawasan yang kini menjadi Skandinavia, antara 5.300 hingga 4.900 tahun lalu.
Namun, apakah strain-strain awal itu benar-benar mematikan ataukah hanya menyebabkan penyakit ringan masih menjadi perdebatan—karena bakteri tersebut belum memiliki beberapa gen penyebab penyakit yang dikenal.
Temuan di Siberia inilah yang kini memberikan "bukti terbaik yang bisa kita harapkan" bahwa strain pes prasejarah memang mematikan, kata Macleod.
Baca juga: Warga Arizona Meninggal Akibat Wabah Pes, Diduga Terkait Kematian Massal Anjing Padang Rumput
Mengapa Ini Penting untuk Masa Kini?
Pes bukan sekadar penyakit masa lalu. Bakteri Y. pestis masih menginfeksi manusia hingga hari ini, terutama di Afrika.
Di Amerika Serikat, rata-rata tujuh kasus pes dilaporkan setiap tahunnya. Namun kini, jika terdeteksi dini, pes bisa ditangani dengan antibiotik.
Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner dari Universitas Kopenhagen yang juga menjadi co-author studi ini, menekankan pentingnya memahami bagaimana penyakit ini berevolusi dari waktu ke waktu.
Baca juga: Bagaimana Ilmuwan Menentukan Usia Paus yang Hidup Ratusan Tahun?
"Memahami bagaimana penyakit ini berkembang di masa lalu sangat penting untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana Y. pestis mungkin berubah di masa depan," kata Willerslev.
Aida Andrades Valtueña, peneliti patogen purba dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Jerman yang tidak terlibat dalam studi ini, menilai temuan ini membantu memperkuat gagasan bahwa populasi prasejarah memang terdampak oleh wabah pes.
Namun ia menambahkan bahwa sekuensing DNA pes yang lebih lengkap masih diperlukan untuk memastikan apakah berbagai kasus tersebut benar-benar berasal dari satu wabah yang sama, bukan dari infeksi terpisah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang