Update Gempa Ganda di Venezuela, Setidaknya 188 Orang Meninggal - Tribunnews.

Ringkasan Berita:
- Wilayah utara Venezuela diguncang gempa ganda berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo, yang tercatat sebagai guncangan terbesar dalam lebih dari 100 tahun terakhir.
- Bencana ini mengakibatkan setidaknya 188 orang meninggal dunia, 1.520 orang mengalami luka-luka, dan 157 orang lainnya dinyatakan hilang.
- Kerusakan parah menimpa 250 bangunan, memicu pembentukan dana rekonstruksi sebesar 200 juta dolar AS (Rp3,57 triliun) serta pengerahan tim penyelamat internasional.
TRIBUNNEWS.COM - Venezuela tengah dilanda duka mendalam setelah gempa bumi ganda mengguncang wilayah utara negara tersebut pada Rabu (24/6/2026) petang waktu setempat, atau Kamis (25/6/2026) pukul 05.00 WIB.
Bencana besar ini telah menelan korban jiwa sedikitnya 188 orang, dengan jumlah korban diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berlanjutnya proses evakuasi.
Gempa Terbesar dalam Seabad
Gempa berkekuatan 7,5 magnitudo tersebut diketahui menghantam wilayah utara Venezuela pada Rabu pukul 18.00 waktu setempat, atau Kamis pukul 05.00 WIB.
Guncangan dahsyat ini terjadi hanya berselang 39 detik setelah gempa pendahuluan berkekuatan 7,2 magnitudo.
Peristiwa ini tercatat sebagai gempa bumi terbesar yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad terakhir.
Ibu kota Caracas dilaporkan mengalami kerusakan parah, sementara pemerintah telah menetapkan negara bagian La Guaira sebagai zona bencana.
Kedua peristiwa tersebut diklasifikasikan sebagai gempa besar yang guncangannya terasa hingga ke negara tetangga, Kolombia.
Secara ilmiah, skala magnitudo bersifat logaritmik, di mana setiap kenaikan angka utuh melepaskan energi 32 kali lebih besar.
Dengan prinsip tersebut, gempa kedua yang berkekuatan 7,5 magnitudo memiliki kekuatan dua kali lipat lebih besar dibandingkan gempa pertama.
Kerusakan serius pada bangunan dan infrastruktur diperkirakan akan terus dilaporkan dalam beberapa hari ke depan.
Baca juga: Peta Wilayah yang Paling Terdampak Gempa Kembar Venezuela M 7,2 dan M 7,5
Upaya Penyelamatan
Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, melalui saluran televisi pemerintah pada Jumat dini hari WIB (26/6/2026) mengonfirmasi bahwa setidaknya 188 nyawa melayang akibat bencana ini.
Angka tersebut kemungkinan akan terus meningkat seiring upaya petugas yang terus menyisir puing-puing bangunan.
Rodríguez menyatakan banyak orang masih terjebak di dalam gedung dan pusat perbelanjaan yang hancur.
Hingga saat ini, sedikitnya 1.520 orang yang terluka sedang dirawat di rumah sakit, sementara 157 orang dilaporkan hilang.
Bantuan Internasional
Proses evakuasi pun menghadapi tantangan besar karena setidaknya 138 gempa susulan telah dilaporkan terjadi sejak guncangan utama.
Menanggapi situasi genting tersebut, spesialis penyelamat dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Meksiko, Spanyol, dan Qatar, kini pun berpacu dengan waktu menuju lokasi bencana untuk memberikan bantuan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga sedang dalam perjalanan untuk menyalurkan dukungan.
Selain itu, Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, telah membentuk dana rekonstruksi sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,57 triliun.
Dana tersebut diperuntukkan bagi perbaikan rumah sakit, rumah warga, dan infrastruktur lain yang hancur.
Kerusakan sejauh ini dilaporkan menimpa 250 bangunan yang tersebar di wilayah La Guaira, Caraballeda, dan Playa Larga.
Seruan Persatuan di Tengah Krisis Politik
Musibah gempa bumi ini bisa dibilang menambah kemuraman masyarakat Venezuela yang saat ini tengah berada di kondisi bergejolak akibat krisis politik pasca penangkapan pemimpin mereka, Nicolás Maduro, oleh pasukan Amerika Serikat pada awal tahun ini.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Jorge Rodríguez menyerukan persatuan dan mengajak masyarakat untuk mengesampingkan perbedaan pendapat.
"Misi utama kita saat ini adalah untuk tetap bersatu, mengesampingkan segala bentuk kecaman, sikap, atau pendapat yang memecah belah kita, dan menjadi satu kekuatan, satu suara, satu orang, dan lautan tangan yang membantu untuk mendukung serta merawat mereka yang secara langsung menderita akibat tragedi ini," ujarnya di saluran televisi pemerintah.
Ia menegaskan bahwa sekarang "adalah waktunya untuk menyelamatkan nyawa, mengevakuasi orang-orang, dan menolong mereka yang terperangkap di bawah puing-puing bangunan yang rusak."
(Tribunnews.com/Bobby)