0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured NATO Spesial Ukraina

    Menderita Dampak Perang, Negara NATO Ini Hentikan Pasokan Senjata ke Ukraina - Kompas

    6 min read

     

    Menderita Dampak Perang, Negara NATO Ini Hentikan Pasokan Senjata ke Ukraina

    SOFIA, KOMPAS.com - Bulgaria tidak akan lagi memasok senjata dari persediaan militernya ke Ukraina.

    Negara anggota NATO dan Uni Eropa itu pun menyerukan upaya untuk mencapai solusi diplomatik guna mengakhiri perang.

    Perdana Menteri Rumen Radev mengatakan, meskipun industri pertahanannya akan tetap menjadi salah satu pemasok utama amunisi yang ditujukan untuk Kyiv,  pemerintah telah mengakhiri penyediaan senjata dari tentara Bulgaria ke Ukraina.  

    "Kita sudah memberikan cukup banyak, sementara negara kita terus menderita kerusakan sosial-ekonomi akibat perang berdarah ini," katanya kepada media sebelum rapat kabinet, dikutip dari AFP, Rabu (10/6/2026).

    Detik-detik Iran Luncurkan Rudal ke Kuwait hingga Yordania, Sasar Pangkalan AS

    Baca juga: Perang Masuk Tahun Kelima, 3 Negara Raksasa Eropa Dorong Dialog Langsung Ukraina-Rusia

    Anggap cara militer bukan solusi damai

    Radev, yang mengkritik bantuan militer ke Ukraina, menjabat pada Mei setelah partainya memenangi mayoritas dalam pemilihan parlemen.

    Pada Rabu, ia meyakini bahwa solusi damai untuk perang Ukraina tidak akan tercapai melalui cara militer.

    "Oleh karena itu, kami sekali lagi menyerukan pendekatan yang komprehensif dan realistis terhadap perang ini dan upaya untuk mencari solusi diplomatik," jelas dia.

    Bulgaria telah memasok Ukraina dengan senjata dari stok militernya, termasuk pertahanan udara dan rudal yang kompensasinya diterima melalui dana Fasilitas Perdamaian Uni Eropa.

    Baca juga: Elite Rusia Mulai Bosan dengan Perang, Tak Yakin Putin Bisa Menang atas Ukraina

    Salah satu pemasok utama amunisi Ukraina

    Meskipun Pemerintah Bulgaria telah menekankan keengganan mereka untuk mengirimkan senjata langsung ke Ukraina, industri pertahanan negara itu merupakan salah satu pemasok utama amunisi yang ditujukan untuk Kyiv.

    Pabrik amunisi Bulgaria yang memproduksi peluru untuk senjata era Uni Soviet yang digunakan oleh tentara Ukraina telah berkembang pesat sejak awal perang. 

    Meski demikian, produk mereka tidak dijual langsung ke Ukraina, tetapi ke negara-negara Uni Eropa yang kemudian mendistribusikannya kembali.

    Partai GERB sayap kanan tengah yang dipimpin mantan perdana menteri Boyko Borissov, mengkritik rencana untuk menghentikan pemberian bantuan militer kepada Ukraina.

    Menurutnya, hal ini akan mengikis kepercayaan terhadap Bulgaria sebagai sekutu.

    Baca juga: Konflik Rusia-Ukraina Memanas: Residu Ideologi dan Polemik Dunia Barat

    Ukraina balas serangan Rusia

    Gedung tempat tinggal bertingkat yang meledak dalam serangan rudal dan drone Rusia di Kyiv, Ukraina, 14 Mei 2026.

    Lihat Foto

    Sebelumnya, perang Rusia dan Ukraina semakin intens dalam beberapa pekan terakhir.

    Terbaru, Kyiv menyerang fasilitas militer Rusia di Cheboksary, beberapa ratus kilometer di sebelah timur Moskwa, dengan rudal buatan Ukraina pada Selasa (9/6/2026) malam. 

    "Semalam, pesawat FP-5 Flamingo Ukraina menyerang pabrik militer di Cheboksary yang memasok komponen untuk drone dan rudal kepada tentara pendudukan," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

    Dia mempublikasikan rekaman yang diduga menunjukkan sebuah rudal terbang menuju targetnya dan kepulan asap membubung di atas fasilitas Rusia. 

    Baca juga: 656 Drone dan 73 Rudal Rusia Gempur Ukraina dalam Semalam, 13 Orang Tewas

    Cheboksary adalah kota utama di wilayah Chuvashia tengah Rusia, terletak 1.000 kilometer dari perbatasan Ukraina.

    Gubernur regional, Oleg Nikolayev, membenarkan bahwa kota itu terkena dampak serangan.

    "Dini hari tadi, Cheboksary diserang roket. Kami sedang berupaya untuk menentukan jumlah korban dan tingkat kerusakan infrastruktur," ujarnya.

    Ukraina juga menyerang kilang minyak di wilayah Samara, Rusia, serta sebuah kapal tanker Rusia di Laut Hitam, kata staf umum.

    Adapun Ukraina mengembangkan rudal sendiri yang disebut Flamingo, tetapi penggunaannya masih relatif jarang.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Bom Mobil di Rusia Kembali Tewaskan Jenderal Top!

    Komentar
    Additional JS