Krisis di Negara Terkaya Kedua di Dunia, 1.267 Restoran Tutup dalam 4 Bulan - Kompas

KOMPAS.com – Singapura, yang menyandang predikat sebagai negara terkaya kedua di dunia berdasarkan PDB per kapita pada 2025 di bawah Swiss, tengah menghadapi fenomena mengejutkan di sektor kuliner.
Singapura mencatat gelombang penutupan bisnis kuliner yang cukup signifikan pada awal tahun ini.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 1.267 bisnis makanan dan restoran di Singapura dinyatakan tutup atau gulung tikar hanya dalam periode Januari hingga April tahun ini.
Baca juga: China Tutup Pintu untuk Nvidia, Pabrik Chip AI Lokal Untung Besar
Angka penutupan dalam empat bulan pertama tersebut bahkan telah mencapai hampir setengah dari total seluruh kasus penutupan bisnis kuliner yang terjadi sepanjang tahun lalu.
Di antara bisnis yang menjadi korban terbaru dari ketatnya persaingan dan beban operasional ini adalah restoran kasual Perancis, Encore by Rhubarb, serta kafe Perancis, The Black Sheep.
Tidak hanya itu, restoran burger populer di Singapura, Working Title, juga resmi menghentikan operasionalnya pada 30 April lalu.
Baca juga: Fore Coffee Dukung Industri Kopi Indonesia lewat Inovasi dan Ekspansi
Penutupan ini sekaligus menandai berakhirnya perjalanan bisnis kuliner tersebut setelah bertahan selama 13 tahun.
Dilansir dari Channel News Asia, gelombang penutupan restoran di Singapura diperkirakan masih akan terus berlanjut.
Kafe Peranakan Nana Dolly's serta restoran warisan legendaris Wing Seong Fatty's dikabarkan juga akan segera menyusul untuk menutup operasional mereka pada akhir bulan ini.
Baca juga: 7 Negara dengan Krisis Sampah Plastik Terparah di Dunia, Ada Indonesia?
Penyebab restoran di Singapura banyak yang tutup
Menurut laporan dari The Straits Times, para pelaku industri menyampaikan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19.
Setelah sektor pariwisata kembali pulih dan nilai tukar mata uang dollar Singapura (SGD) semakin menguat, banyak warga Singapura yang kini lebih memilih untuk menghabiskan masa liburan sekolah dan long weekend mereka di luar negeri.
Akibatnya, aktivitas makan di restoran dan belanja di dalam negeri mengalami penurunan karena masyarakat lokal memilih membelanjakan uang mereka di luar Singapura.
Baca juga: Mulai Batasi Turis, Ini Negara-Negara Eropa yang Kini Kurang Ramah Wisatawan
Tren penurunan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan statistik resmi pemerintah setempat, sebanyak 3.148 bisnis makanan berhenti beroperasi di Singapura pada tahun 2025. Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencatat sebanyak 3.047 bisnis kuliner tutup.
Geoffrey Tai, seorang manajer di Temasek Polytechnic's School of Business, memaparkan faktor internal lain yang membuat para pengusaha kuliner di Singapura semakin terjepit. Faktor tersebut meliputi lonjakan biaya sewa tempat, upah tenaga kerja, hingga tarif energi.
"Biaya sewa, tenaga kerja, dan energi telah menetap di baseline yang lebih tinggi, sementara konsumen menjadi lebih berhati-hati dengan pengeluaran mereka," ujar Geoffrey Tai seperti dikutip dari The Straits Times.
"Banyak operator yang berhasil bertahan menggunakan cadangan kas atau utang kini menghadapi tekanan operasional yang semakin meningkat," lanjutnya.
Baca juga: Negara dengan Layanan Kesehatan Terbaik Dunia 2026, Ada 3 dari Asia
Restoran baru tetap tumbuh di tengah krisis
Meskipun badai penutupan sedang menghantam, daya tarik industri Food & Beverage (F&B) di Singapura rupanya tidak sepenuhnya pudar.
Data dari Otoritas Regulasi Akuntansi dan Korporasi (ACRA) Singapura menunjukkan bahwa bisnis makanan baru tetap bermunculan di tengah maraknya restoran yang gulung tikar.
Tercatat ada sebanyak 1.436 bisnis makanan baru yang resmi terdaftar pada periode Januari hingga April tahun ini.
Baca juga: Perang AS-Iran Injak 100 Hari, Sudah Sejauh Apa Dampaknya ke Asia Tenggara?
Jumlah pertumbuhan restoran baru tersebut mengalami kenaikan sebesar 7 persen secara tahunan (year-on-year).
Beberapa merek kuliner internasional, khususnya dari Jepang dan Korea Selatan, terlihat mendominasi pembukaan gerai baru di Singapura belakangan ini.
Dari Jepang, terdapat restoran bistik hamburger populer Hikiniku To Come serta jaringan restoran yakitori terkenal Torikizoku.
Sementara itu, dari kuliner Korea Selatan, beberapa tempat makan baru yang mulai meramaikan pasar di antaranya adalah Jiho Samgyetang SBCD dan Bibim Deli.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang