Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bom Nuklir Featured Nuklir Spanyol Spesial

    Kisah Pencarian Menegangkan 4 Bom Nuklir yang Jatuh di Spanyol - Detik,

    3 min read

     

    Operasi pengambilan bom nuklir di perairan. Foto: Wikipedia

    Jakarta -

    Dikembangkan bertahap tahun 1950-an dan ditetapkan sebagai doktrin tahun 1960-an, triad nuklir AS menjadi tulang punggung strategi pencegahan nuklir Pentagon. Salah satu pilar dari triad tersebut, bersama silo rudal dan kapal selam, adalah pesawat pengebom strategis.

    Saat ini, pesawat-pesawat pengebom tersebut tak lagi patroli terus-menerus. Namun dari tahun 1961 hingga 1968, pesawat B-52 yang membawa senjata paling merusak ciptaan manusia ini rutin terbang melintasi rute-rute strategis dalam jarak serang yang dekat dengan Uni Soviet dalam misi yang dikenal sebagai Operasi Chrome Dome.

    Nahasnya, pada 17 Januari 1966, pesawat pengebom B-52G AS yang terbang melintasi rute selatan di Spanyol, bertabrakan dengan pesawat tanker pengisian bahan bakar KC-135 sekitar pukul 10:30 pagi waktu setempat. Kecelakaan ini sangat mengkhawatirkan karena B-52 kebetulan membawa empat bom termonuklir.

    Tiga bom jatuh di dekat kota Palomares, pesisir tenggara Spanyol, sementara bom keempat jatuh ke perairan Mediterania. Dalam hitungan jam, sekitar 1.600 personel militer AS membanjiri desa nelayan terpencil tersebut. Meski tak ada bom dalam keadaan aktif, dua di antaranya membentuk kawah dan menyebarkan partikel plutonium melintasi ladang tomat di Palomares.

    "Benar-benar kekacauan. Puing berserakan di seluruh desa. Sebagian besar badan pesawat pengebom jatuh di halaman sekolah," ungkap John Garman, perwira polisi militer yang saat itu berusia 23 tahun dan meninjau lokasi kecelakaan beberapa jam setelah insiden, dalam wawancara dengan New York Times.

    Menurut History.com, 1.400 ton tanah dan vegetasi radioaktif akhirnya dikirim ke AS untuk dibuang dengan aman. Namun, ketika ketiga bom di darat berhasil ditemukan, bom keempat lenyap di dasar Laut Mediterania.

    Peristiwa selanjutnya adalah salah satu operasi pemulihan bawah air paling masif. Pencarian selama 80 hari melibatkan sekitar 33 kapal Angkatan Laut, tiga ribu personel, dan kapal selam laut dalam Alvin.

    Seorang nelayan setempat, Francisco Orts, melihat bom jatuh ke air dengan parasutnya dan kesaksiannya sangat membantu mempersempit area pencarian. Kapal selam Alvin akhirnya menemukannya di lereng bawah laut yang curam pada kedalaman sekitar 762 meter.

    Namun cobaan belum berakhir. Saat upaya pengangkatan pertama, sebuah kabel terputus dan bom meluncur lebih dalam ke ngarai bawah laut. Bom itu hilang lagi selama sembilan hari yang sangat menegangkan. Baru pada 7 April 1966, bom tersebut akhirnya berhasil diangkat. Ajaibnya, kondisinya penyok namun utuh, tanpa ada kebocoran radiasi.

    Dari 11 awak di kedua pesawat yang terlibat dalam kecelakaan, tujuh orang tewas. Namun dikutip detikINET dari Popular Mechanic, tidak ada penduduk desa di darat tewas atau terluka dalam insiden tersebut.

    Sayangnya beberapa dekade setelahnya, sekitar 1.600 veteran AS yang berpartisipasi dalam pembersihan jatuh sakit, seringkali mengidap berbagai jenis kanker terkait paparan radiasi. Para tentara akhirnya mengajukan gugatan class-action terhadap Departemen Urusan Veteran AS, yang sebelumnya menyangkal risiko radiasi di lokasi.

    Akhirnya, Kongres mengesahkan Undang-Undang Veteran Palomares (Palomares Veterans Act) tahun 2022, yang menawarkan perawatan bagi para veteran Palomares yang masih hidup, serta santunan bagi anggota keluarga dari para veteran yang telah meninggal.

    Operasi Chrome Dome tak bertahan lama setelah Insiden Palomares. Hampir dua tahun kemudian, pesawat pengebom B-52 lainnya yang juga membawa termonuklir jatuh di dekat Pangkalan Udara Thule di Greenland. Sebagai tanggapan, Komando Udara Strategis AU AS menangguhkan operasi tersebut untuk batas waktu yang tidak ditentukan.

    (fyk/fay)

    Komentar
    Additional JS