0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Lebanon Perancis Spesial

    Iran Tangguhkan Perundingan, Trump Klaim Lanjutkan, Israel Serang Libanon, Prancis Bersuara - Media Indonesia

    3 min read

     

    Iran Tangguhkan Perundingan, Trump Klaim Lanjutkan, Israel Serang Libanon, Prancis Bersuara

    Peta Libanon dan Israel.(Al Jazeera)

    ESKALASI kekerasan yang terus meningkat di Timur Tengah kini mengancam keberlangsungan perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Teheran dilaporkan telah menangguhkan pembicaraan tersebut pada Senin (1/6/2026) menyusul serangan intensif Israel ke wilayah Libanon.

    Keputusan Iran untuk menarik diri sementara dari meja perundingan disampaikan oleh seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya. Langkah ini diambil setelah militer Israel meningkatkan operasi di Libanon selatan, yang memicu kekhawatiran akan kegagalan perpanjangan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya pada April lalu.

    Klaim Kontradiktif Trump dan Netanyahu

    Meskipun Iran menyatakan penangguhan, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa proses diplomasi masih berjalan. Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Republik Islam Iran terus berlanjut dengan kecepatan tinggi.

    Trump juga mengeklaim telah berkomunikasi via telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan perwakilan tingkat tinggi Hizbullah. Menurut Trump, kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan baku tembak.

    Namun, klaim ini segera dibantah oleh realitas di lapangan. Tak lama setelah pernyataan Trump, Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya akan terus beroperasi sesuai rencana di Libanon selatan.

    Kondisi di Beirut kian mencekam setelah Israel memerintahkan evakuasi massal bagi warga sipil di bagian selatan ibu kota Libanon tersebut. Pasukan darat Israel bahkan dilaporkan melakukan serangan terdalam ke wilayah kedaulatan Libanon dalam beberapa dekade terakhir.

    Kaitan Gencatan Senjata dan Konflik Regional

    Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan posisi Teheran bahwa gencatan senjata antara Iran dan AS bersifat menyeluruh di semua lini, termasuk Libanon. "Pelanggaran di satu lini adalah pelanggaran gencatan senjata di semua lini," tulis Araghchi di platform X.

    Situasi semakin rumit dengan adanya aksi saling balas di wilayah strategis lainnya. Militer AS dilaporkan menyerang situs radar dan drone Iran di dekat Selat Hormuz akhir pekan lalu. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke arah Kuwait pada Senin yang memaksa sistem pertahanan udara Kuwait melakukan intersepsi.

    Poin Krusial yang belum Terpecahkan

    Perundingan yang dimediasi selama berminggu-minggu ini bertujuan menyusun Nota Kesepahaman (MoU) guna memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Namun, beberapa poin krusial masih menjadi ganjalan besar, di antaranya:

    • Nasib program nuklir Iran dan cadangan uranium yang diperkaya tinggi.
    • Kontrol atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
    • Tuntutan Iran atas pencairan dana miliaran dolar yang dibekukan serta keringanan sanksi ekonomi secara luas.

    Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa kedua belah pihak masih terlibat dalam perdebatan sengit mengenai poin-poin bahasa dalam draf kesepakatan. "Sulit untuk mengatakan kapan atau apakah Presiden akan menandatangani MoU tersebut," ujarnya.

    Di tengah ketidakpastian ini, Prancis meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas perluasan kekerasan di Libanon yang dikhawatirkan akan memicu perang regional skala penuh dan mengganggu stabilitas ekonomi global. (The Washington Post/I-2)

    Komentar
    Additional JS