0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita China Featured Spesial

    Hewan Laut Jadi Agen Rahasia? China Klaim Temukan Penyu dan Ikan Dipasangi Sensor Mata-mata Asing - Kompas

    5 min read

     

    Hewan Laut Jadi Agen Rahasia? China Klaim Temukan Penyu dan Ikan Dipasangi Sensor Mata-mata Asing


    03:51

    KOMPAS.com - Bukan lewat agen manusia atau drone canggih, perang rahasia di perairan China kini justru memanfaatkan penyu dan ikan sebagai agen rahasia.

    Pemerintah China mengeklaim telah menemukan hewan-hewan tersebut berenang bebas dengan alat yang menempel di tubuhnya. 

    Selayaknya tokoh mata-mata James Bond, hewan-hewan ini dipasang alat sensor penempel yang berfungsi mengirimkan data navigasi laut ke satelit asing.

    Dilansir dari The Guardian pada Jumat (12/6/2026), kementerian tersebut mengumukan pada kanal Wechat mereka bahwa ada perang rahasia tak terlihat di perairan sekitar China.

    Menurut mereka, sejumlah lembaga asing mengumpulkan data sensitif menggunakan berbagai perangkat canggih untuk membuat peta bawah laut yang dinilai dapat mengancam keamanan nasional.

    Salah satu metode yang disorot adalah penggunaan hewan laut seperti penyu dan ikan yang disebut telah dipasangi sensor.

    Baca juga: Intel Five Eyes Bongkar Operasi Rahasia China: Rekrut Mata-mata lewat LinkedIn

    Kementerian Keamanan Negara China mengklaim hewan-hewan tersebut ditemukan berenang di perairan China dengan perangkat sensor yang menempel pada tubuhnya.

    Menurut mereka, sensor itu digunakan untuk mengumpulkan data lingkungan laut secara langsung, termasuk suhu air, kadar garam, dan arus laut.

    Data yang terkumpul kemudian disebut dikirim ke luar negeri melalui satelit.

    Namun, pihak kementerian tidak menjelaskan lokasi penemuan hewan-hewan tersebut maupun negara atau organisasi yang diduga memasang perangkat itu.

    Isu hewan jadi agen rahasia sudah lama

    Tuduhan mengenai penggunaan hewan laut untuk kegiatan intelijen sebenarnya bukan hal baru.

    Pada 2023, intelijen Inggris melaporkan bahwa Rusia meningkatkan pengamanan pangkalan armada Laut Hitam di Sevastopol, Krimea, dengan menggunakan lumba-lumba yang telah dilatih.

    Laporan intelijen pertahanan Inggris saat itu menyebut lumba-lumba hidung botol atau bottlenose dolphin ditempatkan di kandang terapung di pelabuhan untuk membantu menghadapi penyelam musuh.

    Selain soal hewan laut, Kementerian Keamanan Negara China juga mengaku menemukan pelampung yang dipasang oleh sebuah lembaga penelitian kelautan luar negeri.

    Baca juga: Trump Pertimbangkan Beli Kepulauan Chagos, Khawatir China Mengintai Diego Garcia

    Pelampung tersebut disebut dilengkapi paket sensor meteorologi yang memungkinkan pemantauan jejak akustik kapal selam China secara real time.

    Kementerian itu juga menyoroti keberadaan "wave glider", yakni kendaraan laut tanpa awak yang bergerak menggunakan energi gelombang laut dan tenaga surya.

    Menurut China, perangkat tersebut digunakan pihak asing untuk mengirim data lingkungan maritim yang berkaitan dengan kepentingan militer serta informasi aktivitas kapal di laut.

    China sering menyoroti aktivitas spionase di laut

    China selama beberapa tahun terakhir berulang kali mengungkap dugaan aktivitas spionase di wilayah perairan strategis di sekitarnya, termasuk di Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan.

    Wilayah-wilayah tersebut merupakan kawasan yang sangat sensitif secara militer dan menjadi lokasi sengketa berbagai negara.

    Pada 2024, China juga mengklaim menemukan perangkat yang disebut sebagai mercusuar tersembunyi di dasar laut.

    Baca juga: Lebih Banyak Lansia daripada Anak-anak di China, Beijing Mulai Khawatir

    Menurut pemerintah China, perangkat itu dapat membantu memandu pergerakan kapal selam asing sekaligus digunakan untuk mempersiapkan medan pertempuran.

    Media China sebelumnya melaporkan bahwa pemerintah menawarkan imbalan antara 50.000 yuan hingga 500.000 yuan bagi nelayan yang berhasil menemukan perangkat mata-mata di perairan negara tersebut.

    Besaran hadiah itu setara dengan sekitar Rp113 juta hingga Rp1,1 miliar.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS