Gelombang Panas Landa Eropa, Transportasi dan Acara Dibatalkan - detik
Gelombang Panas Landa Eropa, Transportasi dan Acara Dibatalkan
Jakarta -
Gelombang panas melanda sejumlah wilayah Eropa pada Minggu (21/6), bertepatan dengan dimulainya musim panas di belahan Bumi bagian utara. Titik balik matahari yang diperingati setiap 21 Juni juga menandai dimulainya periode tiga bulan terpanas di Eropa.
Menurut para ahli meteorologi, fenomena ini terjadi saat massa udara panas dari Gurun Sahara bergerak ke arah utara. Ditambah lagi, panas diperkuat oleh sistem tekanan tinggi yang bernama Antisiklon Afrika.
Sistem tersebut membentuk kubah panas (heat dome). Hal ini menjebak udara panas di Eropa Barat dan Tengah. Dengan begitu, suhu di lokasi tersebut terus meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini merupakan gelombang panas kedua yang melanda Eropa tahun ini. Pada bulan lalu, wilayah itu juga mengalami gelombang suhu tinggi yang tidak normal.
Gelombang panas di Eropa dikenal sebagai peristiwa yang mematikan. Dalam empat tahun terakhir, Kantor Regional WHO di Eropa mencatat lebih dari 200.000 orang meninggal akibat panas ekstrem.
Transportasi terganggu di Prancis
Otoritas Prancis memberi status peringatan siaga tertinggi (red alert) pada sekitar 35 departemen karena cuaca ekstrem.
Suhu tinggi berdampak besar pada jaringan kereta api Prancis, termasuk risiko kerusakan pada kabel listrik udara dan pemuaian rel akibat panas.
Operator kereta nasional Prancis (SNCF) membatalkan 71 perjalanan kereta antarkota pada Minggu hingga Senin di sejumlah rute utama. Sebanyak 3.5000 petugas dikerahkan untuk memantau jaringan rel. Sementara, 2.000 staf lain disiapkan untuk perbaikan darurat jika diperlukan.
Pemerintah juga mengimbau kelompok rentan untuk menunda perjalanan.
Di sisi lain, festival musik jalanannya tahunan, Fete de la Musique, tetap berlangsung. Namun, pemerintah melarang konsumsi alkohol di ruang publik pada area dengan status peringatan tertinggi.
Museum Louvre di Paris juga membatalkan konser gratisnya.
Final turnamen tenis Berlin sempat ditunda
Sementara itu, Badan Meteorologi Jerman memperkirakan suhu mencapai 37 derajat Celcius pada Senin dan Selasa pekan lalu, dan naik hingga 39 derajat Celsius pada Rabu (17/6).
Selain panas ekstrem, para meteorolog memperingatkan potensi hujan lebat dan badai petir dalam beberapa hari ke depan. Pada Jumat (19/6) lalu, badai hebat telah mengganggu berbagai festival di Jerman bagian barat.
Penyelenggara turnamen tenis, Berlin Open, sempat mengevakuasi area pertandingan setelah hujan deras dan angin kencang. Pertandingan final tunggal putri antara Jessica Pegula dari Amerika Serikat dan Linda Noskova dari Republik Ceko pun ditunda.
Asosiasi Penyelamat Jiwa Jerman atau DLRG juga mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan risiko berenang di sungai dan danau saat cuaca panas.
Peringatan itu disampaikan setelah lima orang dilaporkan tewas atau hilang saat berenang di beberapa di wilayah Franconia, Hesse, dan North Rhine-Westphalia selama akhir pekan.
Spanyol dan Italia juga keluarkan peringatan
Italia telah mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius selama beberapa hari terakhir. Otoritas setempat mengeluarkan status siaga merah di delapan kota, termasuk Bologna, Florence, Milan, dan Turin.
Di Spanyol, badan meteorologi AEMET mengeluarkan peringatan merah dan oranye di sejumlah wilayah. Suhu diperkirakan akan melampaui 39 hingga 40 derajat Celsius di sebagian besar Semenanjung Iberia dan Mallorca.
Otoritas Spanyol memperkirakan gelombang panas akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan pekan.
Di Madrid, acara nobar pertandingan Piala Dunia tim nasional Spanyol melawan Arab Saudi dibatalkan karena cuaca ekstrem.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Tezar Aditya Rahman
Tonton juga video "7 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas Ekstrem di Prancis"
(ita/ita)