0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Spesial

    Alarm Kelaparan di AS, Warga Rela Antre Semalaman Demi Makan Gratis - Kompas

    7 min read

     

    Alarm Kelaparan di AS, Warga Rela Antre Semalaman Demi Makan Gratis



    WASHINGTON, KOMPAS.com - Jumlah orang yang kelaparan di Amerika Serikat kini lebih banyak daripada selama puncak pandemi Covid-19 enam tahun lalu.

    Kesimpulan tersebut tertuang dalam hasil survei berkala yang dirilis oleh Bank Sentral AS regional New York (Federal Reserve Bank of New York) pada Rabu (27/5/2026). 

    Data tersebut mendeteksi adanya lonjakan dramatis pada grafik tingkat kerawanan pangan nasional jika disandingkan dengan situasi pada musim panas tahun 2020.

    Dalam metodologinya, New York Fed secara rutin menanyai responden mengenai tiga indikator utama, apakah mereka terpaksa melewatkan waktu makan karena tidak punya uang, bergantung pada dapur umum/sumbangan sosial, atau terpaksa mengajukan bantuan dana federal untuk membeli bahan makanan pokok. 

    Alarm Kelaparan di AS, Warga Rela Antre Semalaman Demi Makanan Gratis

    Jawaban dari survei per Februari 2026 tersebut mengonfirmasi bahwa kelaparan kini menjadi krisis yang meluas di AS.

    Baca juga: Kelaparan Landa Amerika, Lebih Parah dari Pandemi Covid-19

    Mengantre semalaman dalam mobil

    Kondisi memprihatinkan ini diamini oleh Amy Breitmann yang mengelola Golden Harvest Food Bank di Augusta, Georgia. 

    Ia menyaksikan sendiri bagaimana gelombang keluarga dan anak-anak yang membutuhkan uluran makanan gratis terus meningkat.

    "Ada beberapa kegiatan distribusi di mana orang-orang mengantre sepanjang 2 hingga 3 mil (4 km) pada malam sebelum distribusi dimulai," kata Breitmann, dikutip dari NPR, Rabu. 

    "Mereka tidur di dalam mobil mereka," sambungnya.

    Survei Federal Reserve New York dari bulan Februari menemukan, secara nasional, 10 persen keluarga melewatkan makan karena kekurangan makanan dan hampir 16 persen bergantung pada sumbangan makanan.

    Baca juga: AS Lelah Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer

    Di antara keluarga yang berpenghasilan kurang dari 50.000 dollar AS (sekitar Rp 890 juta) per tahun, tingkat kerawanan pangan sekitar dua kali lebih tinggi, dengan hampir 20 persen terpaksa melewatkan makan atau tidak makan sama sekali.

    Negara-negara bagian lain juga menghadapi peningkatan kerawanan pangan.

    Bank Makanan Komunitas Alabama Tengah, yang melayani 12 wilayah di negara bagian tersebut, akan pindah ke gedung yang lebih besar untuk mengakomodasi peningkatan kebutuhan.

    "Ketika harga bensin sedikit lebih mahal atau harga makanan sedikit lebih mahal, atau mereka harus memperbaiki mobil atau membayar tagihan medis, itu mengurangi uang yang seharusnya mereka gunakan untuk membeli makanan," ujar Nicole Williams, CEO bank makanan tersebut.

    Baca juga: Video UFO AS Jadi Sorotan, Peneliti China Temukan Objek Berkecepatan Tak Biasa

    "K-Shaped Economy"

    Pegawai federal Amerika Serikat mengantre bantuan makanan di Hyattsville, Negara Bagian Maryland, Selasa (21/10/2025), ketika government shutdown atau penghentian kerja pemerintah federal berlangsung tiga pekan.

    Lihat Foto

    Hasil tersebut menyoroti apa yang oleh para pengamat disebut sebagai "ekonomi berbentuk K," dengan kesenjangan yang semakin besar antara yang kaya dan yang miskin.

    "Meskipun banyak rumah tangga dalam kondisi baik dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan telah berkembang dengan kecepatan yang solid, sebagian besar penduduk menghadapi tingkat ketidakamanan ekonomi dan tekanan keuangan yang tinggi," tulis para ekonom di New York Fed dalam sebuah unggahan blog.

    "Sentimen konsumen secara keseluruhan telah turun ke tingkat yang rendah," tambah mereka.

    Sebagai perbandingan, hanya 4 persen rumah tangga yang melaporkan melewatkan waktu makan pada 2020, termasuk kurang dari 7 persen keluarga yang berpenghasilan kurang dari 50.000 dollar AS per tahun.

    Kerawanan pangan selama pandemi sebagian diimbangi oleh pembayaran bantuan pemerintah dan tunjangan pengangguran tambahan, tetapi hal itu telah lama berakhir. 

    Baca juga: Makin Mesra, Kongres AS Siapkan Jalan bagi Integrasi Militer dengan Israel

    Dipicu inflasi

    Harga pangan juga telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

    Survei terbaru dari Federal Reserve New York dilakukan sebelum perang AS dengan Iran, yang menyebabkan lonjakan harga bensin dan menambah tekanan ekonomi.

    "Jika Anda menambahkan 100 dollar AS lagi ke anggaran bulanan Anda hanya untuk mengisi bensin mobil agar bisa pergi bekerja atau mengantar anak-anak ke sekolah dan keperluan lain yang membutuhkan mobil, dari mana uang itu berasal?" tanya Breitmann. 

    "Biasanya, mereka harus mengambilnya dari anggaran belanja bahan makanan," tambahnya.

    Baca juga: Ingin Lawan China, AS Kembangkan Drone Bawah Air Canggih bersama Sekutunya

    Survei Federal Reserve New York juga menemukan peningkatan jumlah orang yang bergantung pada manfaat Program Bantuan Gizi Tambahan (SNAP) saat ini, meskipun persyaratan kelayakan untuk program tersebut telah diperketat. 

    Hampir 18 persen keluarga yang disurvei tahun ini telah menerima manfaat SNAP, naik dari 10,6 persen pada 2020. 

    Di antara keluarga berpenghasilan rendah, lebih dari 38 persen menerima manfaat SNAP, dibandingkan dengan sekitar 22 persen enam tahun lalu.

    Baca juga: 40 Persen Perusahaan Global Terbesar Integrasikan Kinerja ESG dalam Gaji Eksekutif

    Departemen Pertanian yang mengawasi program bantuan pangan, menghentikan penelitiannya sendiri tentang kerawanan pangan tahun lalu.

    Mereka menilai, studi-studi tersebut tidak lebih dari sekadar menebar ketakutan.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS