Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Rampung, Harga Minyak Melandai - Suara
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Rampung, Harga Minyak Melandai
Baca 10 detik
- Presiden AS Donald Trump mengklaim draf perdamaian dengan Iran sedang dinegosiasikan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi jalur energi global.
- Kesepakatan mencakup gencatan senjata 60 hari, penghapusan sanksi ekonomi terhadap Iran, serta komitmen Teheran menghentikan program pengembangan senjata nuklir.
- Iran merespons klaim tersebut dengan sikap waspada terkait kendali Selat Hormuz dan menunggu hasil perundingan intensif melalui mediator Pakistan.
Suara.com - Geliat diplomasi global untuk mengakhiri ketegangan di Timur Tengah mulai menunjukkan titik terang, meski masih diwarnai aksi saling bantah.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) terkait kesepakatan damai dengan Iran telah "sebagian besar dinegosiasikan." Kesepakatan ini diklaim bakal membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia yang lumpuh sejak perang pecah pada Februari 2024 lalu.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Sabtu (23/5/2026), Trump menyebut bahwa draf perjanjian yang sedang digodok akan memulihkan jalur energi global tersebut. "Aspek dan rincian akhir dari kesepakatan ini sedang dibahas dan akan diumumkan dalam waktu dekat," tulis Trump.
Namun, klaim sepihak sang presiden langsung mendapat respons dingin dari Teheran. Kantor berita Iran, Fars, melaporkan pada Minggu (24/5/2026) pagi bahwa perjanjian tersebut justru akan tetap menempatkan pengelolaan Selat Hormuz di bawah kendali Iran. Mereka menegaskan bahwa pernyataan Trump terkait poin pelayaran tersebut "tidak konsisten dengan realitas."
Bersamaan dengan ini, harga minyak terpantau melandai di angka US$ 97 per barel, sementara minyak Brent bertahan di US$ 130.
Dikutip dari Axios, draf kesepakatan yang dimediasi oleh berbagai pihak ini mencakup gencatan senjata selama 60 hari. Selama periode ini, Selat Hormuz akan dibuka bebas tanpa biaya sepeser pun.
Sebagai timbal balik, Iran diizinkan kembali menjual minyak mentahnya secara bebas ke pasar internasional, sementara AS akan mencabut blokade pelabuhan dan memberikan dispensasi sanksi (sanctions waivers).
Sebagai kompensasi strategis, kesepakatan ini menuntut komitmen keras dari Iran untuk:
- Tidak akan pernah mengembangkan atau mengejar kepemilikan senjata nuklir.
- Bersedia menegosiasikan penangguhan program pengayaan uranium mereka.
- Menyerahkan seluruh timbunan (stockpile) uranium yang diperkaya pada tingkat tinggi.
Laporan The New York Times menambahkan, rincian teknis mengenai bagaimana cara Iran menyerahkan timbunan uranium tersebut akan diserahkan pada putaran perundingan berikutnya.
Baca Juga: AS Keluar, Rusia Masuk: Intip Pertemuan Xi Jinping dan Putin di Beijing, Terusan Suez Bisa Tak Laku
Selama konflik tiga bulan terakhir ini, Trump berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama AS menggempur Iran adalah untuk memastikan negara tersebut tidak memiliki hulu ledak nuklir. Di sisi lain, Iran terus membantah tuduhan itu dan menyatakan pengayaan uranium mereka murni untuk kebutuhan sipil.
Sinyal damai ini menguat setelah para pejabat tinggi Iran menggelar pertemuan intensif dengan Asim Munir, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan yang bertindak sebagai mediator.
Pihak militer Pakistan mengonfirmasi bahwa negosiasi tersebut menunjukkan kemajuan yang "membesarkan hati." Sumber diplomatik Pakistan yang terlibat bahkan menyebut draf kesepakatan kali ini "cukup komprehensif untuk mengakhiri perang."
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa kerangka perdamaian ini akan bergulir dalam tiga fase utama: penghentian perang secara resmi, penyelesaian krisis Selat Hormuz, serta pembukaan ruang negosiasi selama 30 hari untuk kesepakatan yang lebih luas. Jika Washington menerima draf ini, perundingan lanjutan diproyeksikan bakal digelar pasca-libur Idulfitri akhir pekan ini.
Tekanan domestik disinyalir menjadi alasan Trump mengejar perdamaian kilat ini. Tingkat elektabilitas Trump dilaporkan merosot akibat lonjakan harga energi di AS sebagai dampak langsung dari perang. Bahkan, Trump membatalkan kehadirannya di acara pernikahan putranya akhir pekan ini demi mengawal negosiasi di Washington.
Meski atmosfer diplomasi menghangat—ditandai dengan pembicaraan telepon antara Trump dan para pemimpin Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, Yordania, Mesir, dan Turki—Iran mengingatkan bahwa kesepakatan belum sepenuhnya final.