Selat Hormuz Ditutup 70 Hari, Pasokan Minyak Dunia Terkuras 1 Miliar Barel - SindoNews
Selat Hormuz Ditutup 70 Hari, Pasokan Minyak Dunia Terkuras 1 Miliar Barel
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Rabu, 13 Mei 2026 - 22:06 WIB
Krisis pasokan energi global semakin dalam setelah penutupan Selat Hormuz yang berlangsung hampir 70 hari. FOTO/The Time
A A A
SINGAPURA - Krisis pasokan energi global semakin dalam setelah penutupan Selat Hormuz yang berlangsung hampir 70 hari memicu kekurangan pasokan minyak dunia lebih dari 1 miliar barel. Gangguan distribusi di jalur pelayaran strategis tersebut mulai menekan cadangan energi, pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas harga pangan di berbagai negara berkembang.
"Dengan Selat Hormuz tertutup selama sekitar 70 hari, akumulasi kekurangan pasokan kini telah melampaui satu miliar barel," kata Chen Chien-Ming, akademisi kebijakan energi dari Nanyang Technological University Singapura dikutip Eurasia Review, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga: Ditolak India, Kapal Tanker 60.000 Ton LNG Rusia Terdampar di Dekat Singapura
Menurut Chen, sebelum konflik terjadi sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan global melintasi Selat Hormuz. Penutupan jalur tersebut dipicu serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang kemudian mengganggu distribusi minyak dunia selama lebih dari dua bulan terakhir.
Dampak krisis mulai dirasakan negara-negara Asia, Afrika, dan Timur Tengah yang kini menghadapi penurunan cadangan energi secara drastis. Menteri Perminyakan Pakistan Ali Pervaiz Malik menyebut negaranya hanya memiliki cadangan minyak mentah untuk lima hingga tujuh hari, tanpa cadangan strategis nasional.
Sejumlah negara Asia lainnya juga mengalami tekanan serupa. Vietnam diperkirakan hanya memiliki cadangan energi untuk 30-45 hari, Thailand sekitar 61 hari, sedangkan Singapura berkisar 20-50 hari. Pemerintah Filipina bahkan mulai menerapkan empat hari kerja per pekan untuk menghemat konsumsi energi, sementara Perdana Menteri India Narendra Modi mengimbau masyarakat membatasi perjalanan internasional dan bekerja dari rumah.
Tekanan energi tersebut mulai mempengaruhi prospek ekonomi kawasan. Bank Pembangunan Asia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2026 menjadi 4,7% dari sebelumnya 5,1%, sedangkan inflasi diperkirakan melonjak menjadi 5,2%. Bank Dunia juga memperkirakan harga energi global naik 24 persen pada 2026, tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Baca Juga: Angkut Reaktor Nuklir ke Korut, Kapal Rusia Tenggelam setelah Ditembak Torpedo NATO
Untuk menstabilkan pasar, International Energy Agency (IEA) telah melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat sejak Maret lalu, sementara berbagai negara menarik tambahan 280 juta barel hingga akhir April. Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan stok minyak global dapat turun hingga setara 98 hari konsumsi pada akhir Mei.
Krisis energi juga mulai merembet ke sektor pangan dan nilai tukar mata uang negara berkembang. Harga pupuk diperkirakan naik 31% akibat lonjakan harga urea, sementara mata uang seperti rupee India, rupiah Indonesia, dan peso Filipina melemah ke level terendah historis.
“Secara historis, setiap gangguan minyak selalu berujung pada resesi. Biaya naik, belanja masyarakat turun, penerimaan pajak melemah, utang meningkat, dan inflasi semakin tinggi,” ujar Chen.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

Nomor 1 dari Indonesia, Ini 10 Dumpling Terenak di Dunia
Terpopuler
1
2
3
4
5





