Qatar Bantah Tawarkan Rp 195,6 Triliun ke Iran untuk Kesepakatan Damai dengan AS - Tribunnews
Qatar Bantah Tawarkan Rp 195,6 Triliun ke Iran untuk Kesepakatan Damai dengan AS
Qatar Bantah Tawarkan Rp 195,6 Triliun ke Iran untuk Kesepakatan Damai dengan AS
Ringkasan Berita:
- Qatar membantah laporan yang menyebut Doha menawarkan US$12 miliar kepada Iran demi mendorong kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
- Media melaporkan Iran meminta pencairan aset beku miliaran dolar sebagai syarat awal melanjutkan negosiasi dengan AS.
- Doha menilai isu tersebut sengaja disebarkan untuk mengganggu upaya diplomasi dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM — Qatar membantah keras laporan yang menyebut negara itu menawarkan dana sebesar US$12 miliar kepada Iran untuk mempercepat tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyebut laporan tersebut “sepenuhnya tidak berdasar” dan menilai ada pihak yang sengaja mencoba menggagalkan proses diplomasi di kawasan Timur Tengah.
“Laporan yang menyebut Qatar menawarkan US$12 miliar kepada Iran untuk memastikan tercapainya kesepakatan adalah klaim yang sama sekali tidak berdasar,” kata Al Ansari melalui akun X, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Trump Tunda Serang Iran Sesuai Permintaan Qatar, Arab Saudi, dan UEA
Menurutnya, narasi tersebut sengaja disebarkan untuk merusak reputasi Qatar yang selama ini aktif menjadi mediator dalam berbagai konflik regional.
Pernyataan Qatar muncul setelah media Iran International melaporkan bahwa Teheran meminta pencairan segera US$12 miliar aset beku yang berada di Qatar sebagai syarat awal melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, maka US$12 miliar setara dengan Rp 195,6 triliun.
Laporan itu menyebut angka tersebut baru tahap awal dari total dana yang diinginkan Iran.
Sementara media Iran lainnya menyebut Teheran sebenarnya mengincar pencairan aset hingga sekitar US$24 miliar atau sekitar Rp 391,2 triliun dalam proses negosiasi dengan Washington.
Isu aset beku Iran memang menjadi salah satu topik sensitif dalam hubungan Iran dan AS selama beberapa tahun terakhir.
Sejumlah dana milik Iran di luar negeri dibekukan akibat sanksi ekonomi Amerika Serikat terkait program nuklir dan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Dalam beberapa kesempatan, Qatar kerap berperan sebagai mediator antara Iran dan AS, termasuk dalam pembahasan pertukaran tahanan dan pencairan aset Iran untuk kebutuhan kemanusiaan.
Karena itu, munculnya laporan terbaru langsung memicu perhatian internasional.
Al Ansari menegaskan seluruh langkah diplomasi Qatar dilakukan secara terbuka dan berkoordinasi dengan negara-negara mitra di kawasan.
“Upaya diplomasi Qatar dikenal transparan. Narasi seperti ini hanyalah upaya putus asa untuk merusak reputasi Qatar sebagai pihak internasional yang kredibel dalam mendorong perdamaian,” ujarnya.
Di tengah bantahan tersebut, media pemerintah Iran melaporkan Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati telah melakukan perjalanan ke Doha pada Senin (25/5/2026) untuk membahas persoalan aset beku Iran.
Laporan IRIB juga menyebut delegasi Qatar sebelumnya telah mengunjungi Teheran pekan lalu untuk membicarakan isu serupa.
Perkembangan ini terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah masih tinggi dan berbagai negara terus mendorong jalur diplomasi guna mencegah konflik lebih luas antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya di kawasan.