PM Lebanon Minta Dukungan Internasional dalam Negosiasi dengan Israel - RRi
PM Lebanon Minta Dukungan Internasional dalam Negosiasi dengan Israel
Poin Utama
- Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam meminta dukungan Arab dan internasional untuk memperkuat posisi negaranya dalam negosiasi sulit dengan Israel.
- Salam juga berencana meminta misi PBB untuk menyelidiki dugaan kejahatan Israel, di tengah perpanjangan gencatan senjata Israel-Lebanon selama 45 hari.
- Konflik Israel-Lebanon sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 2.950 orang, melukai hampir 9.000 warga, dan memaksa lebih dari 1,6 juta orang mengungsi.
RRI.CO.ID, Beirut — Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam meminta dukungan Arab dan internasional untuk membantu negaranya menghadapi negosiasi sulit dengan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan Salam pada Jumat, 15 Mei 2026, dilansir dari Anadolu.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara yang digelar Asosiasi Al-Maqasid untuk menghormati mantan presidennya, Faisal Sinno. Dalam pidatonya, Salam mengatakan Lebanon tengah menghadapi situasi yang sangat berat dan perlu menghadapi seluruh kenyataan yang ada.
Ia menilai persatuan nasional dan penguatan institusi negara menjadi langkah penting untuk keluar dari krisis yang sedang berlangsung. Salam juga menyerukan mobilisasi dukungan dari negara-negara Arab dan komunitas internasional guna memperkuat posisi Lebanon dalam negosiasi dengan Israel.
Menurutnya, pembicaraan tersebut baru dimulai sehari sebelumnya dan membutuhkan dukungan luas dari berbagai pihak. Pernyataan Salam bertepatan dengan pengumuman Amerika Serikat mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 45 hari.
Washington menyebut pembicaraan kedua pihak berlangsung produktif dan membuka peluang bagi upaya diplomasi lanjutan. Selain itu, Salam mengatakan dirinya akan membawa isu Lebanon ke forum internasional untuk meminta pengiriman misi PBB.
Misi tersebut diharapkan dapat mengumpulkan bukti dan menyelidiki dugaan kejahatan yang dilakukan Israel. Salam menyebut Lebanon saat ini menghadapi krisis paling berbahaya sejak berdirinya negara tersebut.
Ia menilai selama bertahun-tahun negara diperlakukan seperti rampasan perang, bukan sebagai institusi yang mempersatukan seluruh rakyat Lebanon. Menurut Salam, penyelamatan Lebanon hanya dapat dilakukan dengan kembali pada prinsip-prinsip kenegaraan dan memperkuat peran institusi negara.
Sejak 2 Maret, serangan Israel terhadap Lebanon dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.950 orang dan melukai hampir 9.000 lainnya. Konflik tersebut juga menyebabkan lebih dari 1,6 juta warga Lebanon mengungsi atau sekitar seperlima dari total populasi negara itu.
Rekomendasi Berita
Memuat rekomendasi berita...
