Media Sebut Trump Kalah Perang Lawan Iran, Sementara Publik AS Saling Ribut Sendiri - SindoNews
Media Sebut Trump Kalah Perang Lawan Iran, Sementara Publik AS Saling Ribut Sendiri
Iran tegaskan akan melawan jika diserang.
EPA/Allison Robbert Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Sabtu (18/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Di saat Presiden Donald Trump berusaha memasarkan negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran sebagai kesepakatan besar yang menguntungkan Amerika Serikat, gelombang kritik politik dan media di dalam negeri justru semakin menguat.
Banyak pihak menilai Amerika Serikat keluar dari perang terakhir melawan Teheran dengan kerugian strategis dan politik, sementara Trump kini berupaya membingkai kemunduran itu sebagai kemenangan.
Sponsored
Dalam beberapa hari terakhir, media sosial Amerika berubah menjadi arena perdebatan terbuka mengenai hasil perang tersebut.
Perdebatan memanas setelah tersebarnya artikel majalah The Atlantic berjudul Why Trump Lost karya jurnalis David Frum, dikutip Aljazeera, Senin (25/5/2026) yang menyebut Trump kalah dalam perang melawan Iran bukan karena kekuatan Iran semata, melainkan karena kepribadiannya sendiri.
Frum menilai Trump kalah akibat kesombongan, sikap gegabah, dan ketiadaan strategi nyata dalam mengelola konflik.
Menurutnya, Trump masuk ke perang dengan motif pribadi, padahal sebelumnya ia telah mengklaim berhasil menghancurkan program nuklir Iran lewat serangan tahun 2025.
“Jika target itu benar-benar sudah tercapai, lalu mengapa ia kembali berperang?” tulis Frum.
Artikel tersebut menyebut Trump mengabaikan dukungan terhadap oposisi Iran dan menjalankan perang dengan mentalitas pertunjukan politik, sebelum akhirnya panik ketika popularitasnya menurun dan konflik terus berlanjut.
Halaman 2 / 6
Tulisan itu juga menuduh Trump berusaha menjual kemunduran Amerika sebagai kemenangan besar, padahal negosiasi yang sedang berlangsung justru memberi Iran banyak tuntutannya, termasuk mempertahankan pengaruhnya di Teluk dan Selat Hormuz.
Perdebatan ini muncul bersamaan dengan semakin banyaknya bocoran dan sinyal bahwa Washington dan Teheran mendekati kesepahaman untuk menghentikan eskalasi serta menata ulang isu pelayaran dan energi di kawasan Teluk.
Trump pun dituduh mundur dari banyak sikap keras yang sebelumnya ia gaungkan, terutama setelah di awal perang ia menyerukan penyerahan tanpa syarat.
Di dalam arena politik Amerika, sejumlah tokoh Partai Demokrat menilai pemerintahan Trump telah menyeret Amerika Serikat ke perang yang tidak diperhitungkan dengan matang dan justru melemahkan posisi Washington.
Senator Demokrat Chris Murphy mengatakan ia akan menyambut baik setiap kesepakatan nyata dengan Iran karena setiap hari perang gila ini berlanjut, Amerika semakin lemah.
Namun ia menegaskan bahwa syarat-syarat yang dibahas saat ini pada dasarnya adalah syarat Iran, dan Amerika keluar dari perang dalam posisi terhina.
Sementara itu, pemimpin Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, menyalahkan Partai Republik atas perang ceroboh dan pilihan sendiri tersebut.
Ia menilai dampak ekonominya—khususnya kenaikan harga bahan bakar—kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika.
Halaman 3 / 6
Mantan Duta Besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, juga ikut mengkritik.
Ia mengatakan, Selat Hormuz sebelumnya terbuka dan tidak berada di bawah kendali Iran sebelum Trump memulai perang, menyiratkan bahwa eskalasi Amerika justru memperkuat pengaruh Iran di salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Keraguan terhadap narasi resmi Washington juga semakin meluas.
Jurnalis Amerika Mehdi Hasan mengutip sumber Iran yang disebutnya sebagai pejabat tingkat tinggi.
Sumber itu menegaskan belum ada kesepakatan terkait program nuklir Iran hingga saat ini, dan fokus pembicaraan masih berkisar pada penghentian perang serta krisis Selat Hormuz.
Banyak pihak melihat hal itu sebagai tanda bahwa tuntutan Amerika kini jauh lebih rendah dibanding retorika awal Trump.
Di tengah situasi tersebut, Trump kembali membela dirinya lewat unggahan di platform Truth Social.
Ia mengatakan, kesepakatan apa pun dengan Iran nantinya akan menjadi kesepakatan yang baik dan benar, berbeda dengan perjanjian era Barack Obama yang menurutnya memberi Iran banyak uang dan jalan menuju senjata nuklir.
Halaman 4 / 6
Trump juga menegaskan bahwa negosiasi saat ini belum final dan meminta para pengkritiknya untuk tidak mendengarkan “para pecundang yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka pahami.
Namun unggahan itu gagal meredam kritik. Sebaliknya, pernyataannya justru memicu lebih banyak sindiran dan kemarahan di media sosial, terutama setelah artikel The Atlantic menyebar luas.
Pemimpin redaksi The Atlantic, Jeffrey Goldberg, mengatakan Trump memulai perang 28 Februari karena alasan personal, bukan strategis, dan kini menuju kekalahan karena alasan yang sama.
Menurutnya, masalah utama terletak pada karakter kepemimpinan Trump, bukan sekadar rincian konflik.
Jurnalis dan analis politik Jonathan Lemire mengutip bagian artikel The Atlantic yang menyinggung upaya Trump menipu publik Amerika dan dunia dengan menggambarkan perang yang gagal sebagai kemenangan terbesar sepanjang masa.
Sementara jurnalis dan komentator politik John Harwood kembali membagikan kutipan yang menggambarkan pandangan Trump tentang kepresidenan sebagai sesuatu yang otoriter dan korup—berbasis perintah, uang, pujian, dan pembangunan citra diri.
Aktivis politik Ron Filipkowski menulis bahwa Trump kini mencari kesepakatan apa pun yang bisa meyakinkan publik di luar basis pendukungnya bahwa ia tidak kalah atau dipermalukan akibat kebodohan dan keangkuhannya.
“Masalahnya, Iran tidak membantu narasi itu,” tulisnya.
Halaman 5 / 6
Komentator politik Brian Krassenstein juga mengatakan Iran kini menuduh Trump mundur dari poin-poin dasar kesepakatan.
Ia bahkan menyindir bahwa Amerika Serikat sedang dipimpin oleh seorang anak kecil yang tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.
Dalam salah satu komentar paling tajam, pengguna media sosial Jordan Haines menyebut Trump tidak memahami arti diplomasi.
Menurutnya, Iran justru memegang kartu kekuatan, sementara Trump membuat situasi semakin buruk bagi semua pihak di kawasan.
Perdebatan luas ini mencerminkan dalamnya perpecahan di Amerika Serikat terkait hasil perang melawan Iran.
Semakin banyak lawan politik Trump meyakini bahwa pemerintahan AS telah bergeser dari retorika kemenangan total menuju upaya mencari jalan keluar politik secepat mungkin, sementara Teheran berusaha menampilkan diri sebagai pihak yang mampu bertahan dan memaksakan syaratnya di meja perundingan.
Di tengah perkembangan itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang mungkin bisa tercapai pada Senin ini.
Namun pada saat yang sama, Rubio tetap menegaskan bahwa Israel berhak membela diri terhadap setiap serangan.
Saat meninggalkan New Delhi usai kunjungan resmi, Rubio mengatakan, “Kami sempat mengira mungkin akan ada kabar tadi malam. Mungkin hari ini.”
Halaman 6 / 6
Berita Terkait
Trump Wajibkan Negara Teluk Normalisasi dengan Israel untuk Kesepatan Damai dengan Iran
Internasional - 11 jam yang lalu
Trump dan Mojtaba Khamenei Dilaporkan Belum Setujui Kesepakatan Damai Kedua Negara
Internasional - 18 jam yang lalu
Benarkah Perang AS-Iran akan Benar-Benar Segera Berakhir? 8 Tanya Jawab Ini Menjelaskannya
Dunia - 24 May 2026, 15:32
Iran Disebut Setujui Kesepakatan Damai dengan AS, Selat Hormuz akan Dibuka
Internasional - 24 May 2026, 09:28
Secret Service Tembak Dua Orang yang Lepaskan Tembakan Dekat Gedung Putih
Internasional - 24 May 2026, 06:41