Krisis di Selat Hormuz, Bisakah Minyak AS Tutup Defisit Energi Global? - Beritasatu
Krisis di Selat Hormuz, Bisakah Minyak AS Tutup Defisit Energi Global?
Teheran, Beritasatu.com - Penutupan Selat Hormuz yang kini memasuki bulan ketiga akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memperdalam krisis energi global. Di tengah terganggunya distribusi minyak dunia, perhatian pasar kini tertuju pada satu pertanyaan besar, apakah pengebor minyak AS mampu menutup kekurangan pasokan global?
ADVERTISEMENT
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap ketahanan energi berbagai negara.
Dilansir dari Bloomsbury Intelligence and Security Institute (BISI), Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari (bpd) pasokan minyak global terhenti sejak Selat Hormuz ditutup.
ADVERTISEMENT
Kondisi itu memicu penjatahan energi di sejumlah negara dan meningkatkan tekanan terhadap harga minyak mentah internasional.
AS Jadi Alternatif Pasokan Minyak Dunia
Di tengah krisis tersebut, Amerika Serikat muncul sebagai kandidat utama untuk menggantikan sebagian pasokan minyak yang hilang dari kawasan Teluk Persia.
AS saat ini merupakan produsen minyak mentah terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 13,6 juta bpd pada 2025.
Mengutip laporan BISI, sekitar 172 kapal tanker minyak dilaporkan sedang menuju Pantai Teluk AS untuk mengangkut ekspor minyak Amerika per 12 April 2026 lalu. Sejak konflik pecah, ekspor minyak mentah dan produk turunannya juga meningkat sekitar 1 juta bpd.
Lonjakan ekspor itu didorong tingginya harga minyak dunia akibat ketidakpastian geopolitik dan terganggunya distribusi energi global.
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat risiko besar bagi ekonomi domestik AS. Jika produksi minyak tidak meningkat secara signifikan, kenaikan ekspor justru dapat memicu lonjakan harga energi di dalam negeri, situasi yang sensitif secara politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pengebor Minyak AS Masih Berhati-hati
Meski harga minyak dunia melonjak tajam, perusahaan pengebor minyak AS belum menunjukkan langkah agresif untuk meningkatkan produksi.
Menurut survei Federal Reserve Bank of Dallas atau Dallas Fed pada kuartal pertama 2026, perusahaan eksplorasi dan produksi minyak membutuhkan harga minyak Western Texas Intermediate (WTI) stabil di level US$ 67 per barel agar pengeboran sumur baru tetap menguntungkan.
Sebelum konflik AS-Iran memanas, harga WTI sempat bertahan di bawah US$ 60 per barel. Kini harga minyak WTI memang melonjak lebih dari 50% sejak awal konflik, tetapi masih bergerak sangat fluktuatif di kisaran US$ 84 hingga US$ 113 per barel.
Volatilitas harga inilah yang membuat banyak perusahaan shale oil AS memilih menahan ekspansi.
Para pelaku industri masih trauma dengan siklus boom dan bust sebelumnya, ketika ekspansi produksi besar-besaran berujung kelebihan pasokan dan jatuhnya harga minyak dunia.
Akibat pengalaman tersebut, investor kini lebih mendorong perusahaan energi untuk menjaga keuntungan dan membagikan dividen kepada pemegang saham dibanding melakukan ekspansi agresif.
Raksasa energi, seperti ExxonMobil dan Chevron juga tetap mempertahankan strategi konservatif dengan fokus pada pertumbuhan arus kas bebas, bukan pertumbuhan produksi besar-besaran.
Survei Dallas Fed menunjukkan sebanyak 53% perusahaan eksplorasi dan produksi tidak mengubah rencana jumlah sumur baru yang akan dibor sepanjang 2026, meski harga minyak sedang tinggi.
Ancaman Persaingan dari OPEC dan UEA
Posisi pengebor minyak AS juga semakin rumit karena produsen minyak lain diperkirakan akan bergerak cepat ketika konflik mereda.
Uni Emirat Arab (UEA), misalnya, memutuskan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC pada akhir April 2026 lalu. Langkah tersebut disebut dipicu ketidakpuasan terhadap pembatasan produksi yang diterapkan organisasi itu.
Pada sisi lain, OPEC juga terus memberi sinyal akan meningkatkan produksi setelah konflik selesai. Artinya, begitu situasi geopolitik membaik, pasar minyak dunia berpotensi kembali dibanjiri pasokan dari negara-negara produsen yang memiliki kapasitas cadangan besar.
Kondisi itu bisa menekan harga minyak global sebelum investasi baru dari pengebor AS sempat menghasilkan produksi tambahan secara signifikan.
Proyeksi Pasar Minyak Global
Dalam jangka pendek, ketidakpastian terkait konflik AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz diperkirakan masih menghambat ekspansi produksi minyak shale AS.
Perusahaan energi dinilai belum memiliki insentif kuat untuk mengambil risiko investasi besar ketika keuntungan sudah dapat diperoleh dari harga minyak tinggi saat ini.
Dalam jangka menengah, peningkatan produksi minyak AS masih mungkin terjadi jika krisis berlangsung lebih lama dan harga minyak tetap tinggi. Namun peningkatan itu diperkirakan berlangsung moderat dan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik.
Sementara dalam jangka panjang, peluang terjadinya ledakan produksi shale oil seperti satu dekade lalu dinilai semakin kecil.
Selain karena investor lebih berhati-hati, transisi energi global menuju sumber energi alternatif juga mulai mengurangi ketergantungan dunia terhadap minyak mentah.
Dengan kondisi tersebut, peningkatan produksi minyak AS kemungkinan akan berjalan bertahap dan lebih terkendali dibanding era boom shale sebelumnya.