Kemiskinan Ekstrem, Orang Tua di Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung Liputan6
Kemiskinan Ekstrem, Orang Tua di Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung
Praktik jual anak ini kian meningkat di tengah kemiskinan ekstrem di Afghanistan.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2997041/original/021666900_1576462661-20191217-Menengok-Anak-Anak-Afghanistan-di-Tempat-Pembuangan-Sampah-3.jpg)
Advertisement
Liputan6.com, Kabul - Krisis kemanusiaan di Afghanistan kian memburuk seiring meningkatnya angka kelaparan, pengangguran, dan berkurangnya bantuan internasional. Di Provinsi Ghor, banyak warga dilaporkan terpaksa menjual anak mereka demi bertahan hidup dan membiayai kebutuhan dasar keluarga.
Setiap pagi, ratusan pria berkumpul di alun-alun Kota Chaghcharan untuk mencari pekerjaan harian. Namun, minimnya lapangan kerja membuat sebagian besar dari mereka pulang tanpa penghasilan.
Advertisement
“Saya hidup dalam ketakutan anak-anak saya mati kelaparan,” kata Juma Khan, seorang buruh harian berusia 45 tahun yang mengaku hanya mendapat pekerjaan selama tiga hari dalam enam minggu terakhir, dikutip dari , Senin (25/5/2026).
Advertisement
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tiga dari empat warga Afghanistan kini tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka. Sekitar 4,7 juta orang, atau lebih dari sepersepuluh populasi negara itu, diperkirakan berada di ambang kelaparan.
Kondisi tersebut diperparah oleh pemotongan bantuan internasional dalam beberapa tahun terakhir. Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi donor utama Afghanistan, memangkas hampir seluruh bantuannya pada tahun lalu. Sejumlah negara donor lain, termasuk Inggris, juga mengurangi kontribusi bantuan kemanusiaan secara signifikan.
Di tengah tekanan ekonomi yang berat, sejumlah keluarga mengaku terpaksa menjual anak perempuan mereka untuk pernikahan dini atau pekerjaan rumah tangga demi mendapatkan uang.
“Aku rela menjual putri-putriku. Jika saya menjual satu anak perempuan, saya bisa memberi makan anak-anak saya yang lain setidaknya selama empat tahun,” kata Abdul Rashid Azimi sambil memeluk dua anak kembarnya yang berusia tujuh tahun.
Warga lain, Saeed Ahmad, mengatakan ia menjual putrinya yang berusia lima tahun kepada kerabat demi membiayai operasi medis anak tersebut.
“Jika saya punya uang, saya tidak akan pernah mengambil keputusan ini,” ujarnya.
Praktik pernikahan anak disebut meningkat di Afghanistan sejak pemerintahan Taliban melarang pendidikan bagi anak perempuan dan membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan.
Situasi yang Tak Memungkinkan
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4371663/original/019123100_1679797732-Sekolah_Menengah_Afghanistan_Kembali_Dibuka_Tanpa_Perempuan-AP__1_.jpg)
Pemerintah Taliban menyalahkan situasi ekonomi saat ini pada runtuhnya pemerintahan sebelumnya setelah penarikan pasukan asing pada 2021. Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengatakan pemerintah saat ini mewarisi kemiskinan, pengangguran, dan kesulitan ekonomi dari masa perang selama dua dekade.
Meski Taliban mengklaim tengah menjalankan proyek ekonomi dan infrastruktur untuk mengurangi kemiskinan, berbagai organisasi kemanusiaan memperingatkan jutaan warga Afghanistan membutuhkan bantuan mendesak untuk bertahan hidup.
Kondisi rumah sakit di Ghor juga mencerminkan krisis yang semakin parah. Unit bayi baru lahir di rumah sakit utama Chaghcharan dipenuhi bayi kekurangan gizi dan lahir prematur.
Seorang bayi perempuan prematur dilaporkan meninggal beberapa jam setelah dilahirkan karena kondisi tubuh yang lemah. Keluarganya mengaku sang ibu hanya mampu mengonsumsi roti dan teh selama masa kehamilan akibat keterbatasan pangan.
Advertisement
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID.
Liputan6.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Rekomendasi
Advertisement