0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Iran Spesial

    Iran Tegaskan Tak Butuh Konsesi AS, Klaim Hanya Perjuangkan Hak - detik

    4 min read

     

    Iran Tegaskan Tak Butuh Konsesi AS, Klaim Hanya Perjuangkan Hak

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (dok AFP)
    Teheran -

    Otoritas Iran menegaskan tidak mencari "konsesi apa pun" dari Amerika Serikat (AS), saat negosiasi tidak langsung antara kedua negara, yang dimediasi Pakistan, berlangsung alot. Teheran menyatakan bahwa pihaknya hanya menginginkan hak-hak mereka dipulihkan dan menyerukan agar sanksi-sanksi dicabut.

    Penegasan terbaru itu, seperti dilaporkan Tasnim News Agency dan dilansir Anadolu Agency, Sabtu (23/5/2026), disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

    "Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat; kami hanya memperjuangkan hak-hak kami," tegas Baghaei dalam pernyataannya pada Jumat (22/5) waktu setempat.

    Baghaei menambahkan bahwa Iran menuntut "diakhirinya tindak kriminal Amerika terhadap rakyat Iran".

    "Sanksi-sanksi harus dicabut, aset-aset Iran yang dibekukan harus dicairkan dan dibuat tersedia untuk negara," cetusnya.

    "Selama lima dekade terakhir, kami telah dikenai apa yang mereka sendiri sebut sebagai 'sanksi-sanksi yang melumpuhkan'," ucap Baghaei dalam pernyataannya.

    Lebih lanjut, Baghaei mengatakan bahwa sanksi-sanksi dijatuhkan dengan berbagai dalih, terutama terkait apa yang diklaim oleh AS sebagai ancaman nuklir Iran.

    "Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap aktor mana pun di kawasan atau dunia," tegasnya.

    Dia juga membahas perkembangan terkait Selat Hormuz, mengkritik blokade laut yang diberlakukan AS sebagai langkah yang "sepenuhnya bertentangan dengan hukum internasional".

    Baghaei menyerukan agar Washington mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri blokade tersebut.

    Ketegangan regional tetap tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung militer AS.

    Iran juga secara efektif menutup aktivitas perlintasan di Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global. AS merespons dengan memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar dari atau ke pelabuhan Iran melalui jalur perairan vital tersebut.

    Gencatan senjata diberlakukan mulai 8 April lalu melalui mediasi Pakistan. Namun perundingan damai yang digelar di Islamabad menyusul gencatan senjata itu gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.

    Upaya perdamaian terus dilakukan oleh Pakistan sebagai mediator, meskipun kedua negara bersikeras pada tuntutan masing-masing.

    Pekan ini, seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kesenjangan dalam perundingan AS-Iran itu telah dipersempit, meskipun isu pengayaan uranium dan Selat Hormuz tetap menjadi beberapa poin yang masih diperdebatkan kedua pihak.

    Presiden Donald Trump bersumpah bahwa AS akan mendapatkan pasokan uranium yang diperkaya hingga ke level senjata milik Iran, meskipun Teheran berulang kali menegaskan tidak akan menyerahkan material tersebut.

    Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei merilis arahan terbaru yang isinya menegaskan bahwa uranium diperkaya yang nyaris mencapai level senjata, milik Teheran, tidak seharusnya dikirimkan ke luar negeri.

    Tonton juga video "Iran Tegaskan Siap Berperang Maupun Bernegosiasi dengan AS"

    (nvc/idh)

    Komentar
    Additional JS