Iran Ancam Naikkan Pengayaan Uranium jadi Senjata Nuklir, Trump Tolak Proposal Damai- "Tribunnews
Iran Ancam Naikkan Pengayaan Uranium jadi Senjata Nuklir, Trump Tolak Proposal Damai
Ringkasan Berita:
- Ancaman itu muncul saat gencatan senjata yang dimediasi Pakistan berada dalam tekanan.
- Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”.
SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran mengancam dapat meningkatkan pengayaan uranium hingga level senjata nuklir di tengah mandeknya perundingan damai.
Ancaman itu muncul saat gencatan senjata yang dimediasi Pakistan berada dalam tekanan, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”.
Peringatan keras disampaikan Ebrahim Rezaei, anggota parlemen Iran sekaligus juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran. Dalam unggahannya di platform X, ia menyatakan parlemen Iran akan membahas opsi pengayaan uranium hingga 90 persen, tingkat yang digunakan untuk senjata nuklir.
Secara terpisah, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengeluarkan ultimatum kepada Washington. Ia menegaskan Amerika Serikat tidak memiliki pilihan selain menerima hak-hak Iran sebagaimana tercantum dalam proposal 14 poin yang diajukan Teheran.
Baca juga: 11 Ton Uranium Iran Menghilang Usai Serangan AS
Namun, Trump justru menggambarkan situasi gencatan senjata berada dalam “kondisi kritis” setelah Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuntutan AS sebagai “tidak masuk akal”.
Media AS melaporkan Trump telah bertemu tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
Di saat bersamaan, media Israel melaporkan sejumlah warga menerima pesan ancaman yang diduga dikirim Iran.
Pesan itu memperingatkan bahwa mereka akan “melihat matahari di langit malam”, yang ditafsirkan sebagai ancaman serangan rudal atau drone.
Uranium Jadi Titik Panas
Isu pengayaan uranium menjadi hambatan utama dalam negosiasi kedua negara.
Iran saat ini disebut memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen, hanya selangkah lagi menuju ambang 90 persen yang dibutuhkan untuk material senjata nuklir.
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mengatakan Iran sebelumnya mengakui memiliki sekitar 460 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Menurutnya, material tersebut bisa ditingkatkan menjadi level senjata hanya dalam waktu satu hingga dua minggu dan cukup untuk memproduksi sekitar 11 hulu ledak nuklir.
Iran menegaskan hak untuk memperkaya uranium tidak dapat dinegosiasikan, meski membuka peluang pembahasan terkait tingkat pengayaan.
Sementara itu, posisi Washington tetap tegas: Iran harus menghentikan pengayaan uranium atau memindahkan seluruh stok uranium yang diperkaya ke luar negeri setidaknya selama 20 tahun.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan perang dengan Iran belum bisa dianggap selesai sebelum kemampuan nuklir Teheran benar-benar dilumpuhkan.
Jejak Konflik Nuklir Iran
Kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sebelumnya membatasi pengayaan uranium Iran hanya 3,67 persen dan stok maksimal 300 kilogram selama 15 tahun.
Namun, Trump menarik AS keluar dari perjanjian itu pada 2018, memicu Iran meningkatkan pengayaan uranium secara bertahap hingga melampaui 60 persen.
Setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap fasilitas Iran pada 2025, Trump mengklaim fasilitas nuklir Teheran telah “dihancurkan”.
Akan tetapi, citra satelit kompleks Natanz yang dirilis Maret lalu menunjukkan tidak ada kerusakan baru signifikan pada fasilitas utama maupun terowongan bawah tanahnya.
Gencatan senjata sendiri mulai berlaku pada 8 April setelah 39 hari serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari.
Meski Pakistan telah memediasi pembicaraan damai di Islamabad, negosiasi belum menghasilkan kesepakatan permanen. Iran pun telah menyampaikan respons terbaru terhadap proposal AS melalui mediasi Pakistan pada Minggu lalu.(*)