Heboh Partai Kecoa di India, Ada Apa di Baliknya? - Viva
Heboh Partai Kecoa di India, Ada Apa di Baliknya?
VIVA –Sebuah partai politik parodi dengan simbol kecoa medadak viral di media sosial India. Melalui meme dan video pendek bernada satir, kelompok tersebut menyindir korupsi, pengangguran hingga carut marut politik tersebut.
Baca Juga
Partai politik ini diketahui hanya produk parodi di Internet setelah seorang hakim tinggi di India membandingkan anak muda pengangguran dengan kecoa. Namun kini, jutaan anak muda India justru ramai ingin bergabung karena Gerakan tersebut menjadi tempat mereka meluapkan kekesalan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Saking populernya, Cockroach Janta Party (CJP) yang baru membuat situs resmi dan medoa sosialnya pada Sabtu ini langsung dibanjiri pengikut di Instragram mereka. Situs web dan akun media sosial CJP ini langsung mendadak memiliki lebih dari 15 juta pada Kamis lalu. Angka ini jauh melampaui akun
Baca Juga
Melansir laman The Guardian, Jumat 22 Mei 2026, Partai Bharatiya Janata (BJP) milik Perdana Menteri India Narendra Modi yang memiliki sekitar 8,8 juta pengikut.
“Semua ini sebenarnya tidak direncanakan,” kata pendiri CJP, Abhijeet Dipke.
Baca Juga
Menurut Dipke, melejitnya gerakan ini mencerminkan besarnya frustrasi generasi muda India.
“Anak muda benar-benar frustrasi. Mereka tidak punya tempat untuk menyalurkan keresahan mereka. Mereka sangat marah kepada pemerintah,” ujarnya.
CJP muncul setelah pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, memicu kemarahan publik. Banyak anak muda tersinggung karena komentar itu muncul di tengah tingginya pengangguran, mahalnya biaya hidup, dan kebocoran soal ujian pemerintah yang mengacaukan proses rekrutmen kerja.
Dalam sidang pekan lalu, Surya Kant mengkritik pihak-pihak yang disebutnya “parasit” karena menyerang institusi negara. Ia lalu membandingkan sebagian anak muda pengangguran dan aktivis dengan kecoak.
“Ada anak muda seperti kecoak yang tidak mendapatkan pekerjaan atau tempat dalam profesi tertentu,” kata Kant.
Ia menyebut sebagian dari mereka akhirnya menjadi aktivis media sosial, jurnalis, atau terlibat dalam kampanye publik lalu menyerang semua pihak.
Komentar itu langsung menyebar luas di internet dan dianggap merendahkan generasi muda. Surya Kant kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataannya ditujukan kepada orang-orang dengan ijazah palsu dan bukan untuk menghina anak muda India.
Mengenal CJP
Namun kontroversi tersebut justru melahirkan akun Instagram CJP yang menjadikan kecoak sebagai simbol politik mereka. Akun itu mulai mengunggah meme, slogan kampanye parodi, dan komentar satir yang menyasar pemerintahan Modi. Dalam hitungan hari, puluhan ribu relawan mendaftar lewat formulir Google, bahkan beberapa tokoh oposisi turut memberi dukungan.
“Kita harus sadar bahwa lima tahun lalu hampir tidak ada yang berani bicara melawan Modi atau pemerintah. Tapi sekarang zaman mulai berubah,” kata Dipke.
Dipke menegaskan CJP tidak terafiliasi dengan organisasi politik mana pun. Meski begitu, kemunculan mereka dianggap mirip dengan tren yang terjadi di Asia Selatan dalam beberapa tahun terakhir, ketika anak muda menjadi motor utama gerakan anti-pemerintah di Sri Lanka, Bangladesh, hingga Nepal.
“Anak muda benar-benar frustrasi dan pemerintah tidak mengakui keresahan mereka,” ujarnya.
Tekanan paling besar memang dirasakan di India. Anak muda mencakup lebih dari seperempat populasi negara itu, tetapi banyak dari mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan dan terus menghadapi pengangguran.
Sebagian pemilih muda juga marah terhadap partai nasionalis Hindu pimpinan Modi karena dianggap memperparah polarisasi agama, ketimpangan sosial, dan tekanan ekonomi.
CJP juga sengaja membangun citra lewat humor yang menyindir diri sendiri. Syarat menjadi anggota mereka misalnya harus menganggur, malas, terlalu aktif di internet, dan mampu mengeluh secara profesional.
Manifesto mereka juga menggunakan satire untuk menyinggung berbagai isu sensitif di politik India, mulai dari tuduhan manipulasi pemilu oleh oposisi, kritik terhadap kedekatan media besar dengan pemerintah, hingga penunjukan hakim pensiunan ke jabatan resmi.
Namun para penentang, terutama pendukung Modi, menilai CJP hanyalah gimmick politik di media sosial yang dekat dengan oposisi. Mereka menyoroti hubungan Dipke dengan AAP dan menilai popularitas CJP akan cepat meredup karena hanya berupa kampanye digital, bukan gerakan akar rumput.
Meski begitu, Dipke yakin gerakan ini tidak akan berhenti di media sosial.
“Ini adalah gerakan baru yang lahir di India dan akan mengubah cara politik dibicarakan. Gerakan ini akan terus hidup di internet, dan kalau diperlukan juga akan turun langsung ke lapangan,” jelasnya.
Gerakan itu perlahan mulai muncul di dunia nyata. Beberapa relawan muda bahkan terlihat hadir di aksi demonstrasi sambil mengenakan kostum kecoak.
Di saat yang sama, tekanan terhadap mereka juga mulai muncul.
Pada Kamis, Dipke menulis di platform X bahwa akun CJP yang memiliki sekitar 200 ribu pengikut diblokir di India. Alasan pemblokiran tersebut belum diketahui.
Namun beberapa menit kemudian, ia langsung mengumumkan akun baru untuk kelompok itu sambil menulis:
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kecoak kembali.”
Ia juga menambahkan sindiran lain: “Kalian pikir bisa menyingkirkan kami? Haha.”
![]()
Ketahuan Membeli LPG dari Iran, Taipan India Disanksi Bayar Rp4,8 Triliun ke AS
AEL, salah satu perusahaan milik miliarder India, Gautam Adani, dijatuhi sanksi membayar US$275 juta (Rp4,8 triliun) ke AS terkait pembelian gas minyak cair (LPG) Iran

VIVA.co.id
19 Mei 2026