Drone Rusia Hantam Romania, NATO Punya Dua Opsi untuk Membalas - Kompas
Drone Rusia Hantam Romania, NATO Punya Dua Opsi untuk Membalas
GALATI, KOMPAS.com - Insiden jatuhnya drone Rusia yang menghantam bangunan tempat tinggal di Kota Galati, Romania, Jumat (29/5/2026), kembali memicu kekhawatiran terkait meluasnya perang Ukraina hingga ke perbatasan negara anggota NATO.
Menanggapi peristiwa tersebut, NATO kini dihadapkan pada sejumlah pilihan untuk merespons tindakan Rusia, mulai dari penguatan pertahanan di sayap timur hingga pengaktifan klausul diplomatik aliansi.
Dikutip dari AFP, berikut adalah opsi-opsi NATO untuk menanggapi Moskwa.
Baca juga: AS Ultimatum NATO dan Eropa, Tambah Belanja Militer atau Hadapi Konsekuensinya
1. Nyatakan solidaritas
NATO bergerak cepat dengan langsung menyatakan solidaritasnya kepada Romania, yang merupakan salah satu dari 32 negara anggotanya.
Rumania Desak Rusia Tanggung Jawab Serangan Drone, Putin: Belum Pasti Asal Usulnya
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte secara pribadi telah menghubungi Presiden Romania, Nicusor Dan.
Rutte sepenuhnya menyalahkan perilaku Rusia atas insiden ini, yang dia sebut sembrono.
Pernyataan itu dipertegas oleh Juru Bicara NATO Martin O'Donnell yang menyatakan, "Drone tersebut milik Rusia."
Pejabat militer senior NATO mengungkapkan, aliansi sebenarnya sudah mendeteksi dan melacak drone tersebut.
Namun, pesawat tanpa awak itu memasuki wilayah udara Romania hanya beberapa menit sebelum menghantam gedung apartemen di Galati.
Sebagai respons cepat terhadap insiden ini, NATO langsung menerbangkan pesawat peringatan dini untuk meningkatkan penjagaan domain udara.
"Kami sedang menilai apa lagi yang dapat dilakukan sekarang untuk mengoptimalkan jaringan sensor dan penembak Romania serta NATO, untuk menetralisir ancaman tersebut dengan aman," kata pejabat militer senior tersebut.
Menurutnya, optimalisasi ini dapat dilakukan melalui beberapa cara.
Salah satu langkah yang bisa diambil adalah mengintegrasikan sistem anti-drone baru buatan Amerika Serikat bernama Merops ke bawah komando dan kendali NATO.
Sistem ini sudah dimiliki Romania sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan di sayap timur aliansi.

Lihat Foto
Cara lainnya adalah mendorong Romania dan negara anggota lain untuk memperoleh lebih banyak kemampuan tempur.
Langkah ini merupakan bagian dari Inisiatif Pencegahan Sayap Timur, upaya pimpinan NATO yang berfokus pada pengintegrasian teknologi baru demi mencegah agresi serta mempertahankan wilayah tersebut.
"Sekutu juga akan berunding pada konferensi bulan depan untuk mengidentifikasi 'pasukan dan kemampuan pertahanan tambahan' untuk operasi Penjaga Timur yang bertujuan memperkuat sayap timur NATO," tambah pejabat tersebut.
Baca juga: AS Disebut Akan Kurangi Bantuan Militer ke NATO dalam Situasi Krisis
2. Opsi Pasal Lima
Dalam piagam NATO, Pasal Lima merupakan opsi respons yang paling dikenal sekaligus menjadi inti dari kekuatan pencegahan aliansi ini.
Klausul pertahanan bersama ini menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Kendati demikian, sepanjang 77 tahun sejarah berdirinya NATO, Pasal Lima baru pernah diaktifkan sekali, yaitu setelah serangan 11 September 2001 di Amerika.
Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa klausul tersebut akan diaktifkan untuk merespons kasus di Romania.
Selain Pasal Lima, sekutu NATO memiliki opsi lain yang lebih relevan saat ini, yaitu mengadakan konsultasi darurat berdasarkan Pasal Empat, dengan syarat ada permintaan dari negara yang bersangkutan.
Para pejabat di Brussels menjelaskan, dalam diplomasi internasional pengaktifan Pasal Empat dipahami sebagai langkah yang sangat signifikan dan jauh lebih kuat daripada sekadar merilis pernyataan atau kecaman.
Pasal Empat sendiri berbunyi bahwa negara-negara sekutu akan berkonsultasi bersama setiap kali, menurut pendapat salah satu dari mereka, integritas teritorial, kemerdekaan politik, atau keamanan salah satu pihak terancam.
Menurut para pejabat NATO, hal ini merupakan sesuatu yang diperhatikan oleh Rusia dan terbukti mampu mengubah perilaku mereka di masa lalu.
Baca juga: AS Disebut Akan Kurangi Bantuan Militer ke NATO dalam Situasi Krisis
Preseden pengaktifan Pasal Empat
Sepanjang sejarah NATO, konsultasi berdasarkan Pasal Empat tercatat telah dipicu sebanyak sembilan kali. Tiga di antaranya terjadi selama perang skala penuh Rusia di Ukraina.
Klausul ini kali pertama diaktifkan tepat setelah invasi Rusia dimulai pada 2022. Selanjutnya, Pasal Empat kembali diaktifkan dua kali pada September 2025.
Pertama oleh Polandia setelah wilayahnya dilanggar oleh pesawat tak berawak Rusia, dan kedua oleh Estonia setelah jet tempur Rusia melanggar wilayah udaranya.
Pertemuan Pasal Empat yang diminta oleh Polandia pada September 2025 tersebut pada akhirnya berujung pada peluncuran operasi "Eastern Sentry".
Melalui operasi ini, negara-negara sekutu menyumbangkan lebih banyak jet tempur, helikopter, pesawat angkut, sistem pertahanan udara, pesawat pengintai, hingga fregat demi memperkuat lini pencegahan dan pertahanan NATO.
Baca juga: NATO Anggap Enteng Penarikan 5.000 Tentara AS, Cuma Pasukan Rotasi
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang