0
News
    Home Berita Featured Nuklir Samudera Pasifik Spesial

    Bom Waktu di Samudra Pasifik: 'Makam' Nuklir Mulai Retak - detim

    3 min read

     

    Bom Waktu di Samudra Pasifik: 'Makam' Nuklir Mulai Retak

    Foto: Wikipedia

    Jakarta -

    Sebuah lubang menganga tertinggal di pulau kecil di Samudra Pasifik ketika militer Amerika Serikat melepaskan ledakan nuklir berkekuatan 18 kiloton di 1958, yang dikenal sebagai uji coba 'Cactus'.

    Setelah ledakan terjadi di Pulau Runit di Kepulauan Marshall, militer menimbun kawahnya dengan tanah dan puing terkontaminasi, menciptakan sebuah 'makam' limbah nuklir yang kini dikenal sebagai Kubah Runit.

    Hampir 50 tahun setelah kubah dibangun, ahli khawatir retakan pada tempat pembuangan limbah radioaktif berlapis beton tersebut menunjukkan kerentanan situs itu terhadap naiknya permukaan laut yang semakin mengikis garis pantai pulau.

    Kubah lebar 115 meter itu, dibangun antara 1977 dan 1980, berdiri di atas lebih dari 120.000 ton material terkontaminasi uji nuklir AS, termasuk kandungan plutonium mematikan. Kubah ini awalnya dimaksudkan sebagai solusi sementara untuk menampung material yang tertinggal, di mana beberapa ledakannya memiliki kekuatan hingga 1.000 kali lipat bom Hiroshima dan Nagasaki.

    Sejak dibangun, air tanah merembes ke dalam kawah yang tidak dilapisi pelindung tersebut. Ada kekhawatiran bahwa lapisan kubah yang seharusnya berada di atas permukaan laut tidak akan bertahan lama untuk tetap berada di atas air.

    Di 2020, pakar radioaktivitas laut dari Woods Hole Oceanographic Institute, Ken Buesseler, mengemukakan kebocoran radioaktif dari Kubah Runit relatif kecil. "Selama plutonium tetap berada di bawah kubah, ia takkan menjadi sumber radiasi baru yang besar bagi Samudra Pasifik," katanya.

    "Namun banyak hal bergantung pada kenaikan permukaan laut di masa depan serta bagaimana fenomena seperti badai dan pasang surut musiman memengaruhi aliran air yang masuk dan keluar dari kubah. Saat ini sumber bocorannya memang kecil, tetapi kita perlu memantaunya secara lebih teratur," imbuhnya.

    Ahli kimia Columbia University, Ivana Nikolic-Hughes, mengaku melihat langsung retakan kubah saat mengambil sampel tanah di pulau itu di 2018. Ia menemukan peningkatan tingkat radiasi dan jumlah radionuklida signifikan dalam sampel tanah di luar kubah. Ini bisa menjadi bukti 'makam' nuklir bocor, meski bisa juga terkait proses pembersihan serampangan.

    Apa pun penyebabnya, keberadaan plutonium-239, komponen senjata nuklir yang tetap berbahaya selama lebih dari 24.000 tahun, membenarkan kekhawatiran besar terhadap kerentanan kubah tersebut akibat kenaikan laut dan perubahan iklim. "Mengingat permukaan laut terus naik dan ada indikasi badai makin menguat, kami khawatir keutuhan kubah bisa terancam," kata Nikolic.

    Dikutip detikINET dari Science Alret, Runit berjarak sekitar 32 km dari penduduk yang juga menggunakan laguna tersebut sehingga dampaknya berpotensi sangat merusak.

    Di 2024, Pacific Northwest National Laboratory melakukan penyelidikan terhadap potensi dampak perubahan iklim pada Kubah Runit. Mereka menemukan gelombang badai dan kenaikan permukaan laut secara bertahap memang akan menjadi faktor terbesar dalam menyebarnya radionuklida ke seluruh atol.

    Nikolic dan rekan penelitinya, Hart Rapaport, sebelumnya mendesak AS bertanggung jawab atas pembersihan limbah nuklir yang memadai di kepulauan tersebut, sebagai upaya memastikan masa depan yang aman bagi penduduk Marshall.

    (fyk/fyk)

    Komentar
    Additional JS