Trump Isyaratkan Durasi Gencatan Senjata dengan Iran Bisa Diperpanjang - Tribunnews
Trump Isyaratkan Durasi Gencatan Senjata dengan Iran Bisa Diperpanjang
Trump berharap kesepakatan permanen dapat segera tercapai sehingga perpanjangan durasi tidak perlu dilakukan.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran yang berakhir pada 22 April 2026 bisa saja diperpanjang, meski ia berharap kesepakatan permanen segera tercapai.
- Trump mengisyaratkan negosiasi lanjutan akan digelar akhir pekan ini dan menyatakan kesediaannya terbang langsung ke Islamabad, Pakistan, untuk menandatangani kesepakatan
- Walaupun negosiasi berlangsung positif, Trump menegaskan bahwa blokade Angkatan Laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran masih terus berlanjut
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan sinyal positif terkait kelanjutan stabilitas di Timur Tengah.
Di hadapan awak media di Washington, Trump menyebut bahwa gencatan senjata dengan Iran yang dijadwalkan berakhir pada tanggal 22 April 2026 mendatang dapat diperpanjang jika situasi membutuhkan.
Meski demikian, Trump berharap kesepakatan permanen dapat segera tercapai sehingga perpanjangan durasi tidak perlu dilakukan.
"Saya tidak tahu apakah kita harus melakukannya. Idealnya, kita tidak perlu (memperpanjang), tetapi jika saya perlu melakukannya, saya akan melakukannya," ujar Trump pada Kamis waktu setempat (16/4/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini komunikasi dengan pihak Teheran berjalan ke arah yang positif.
Menurutnya, Iran menunjukkan keinginan kuat untuk mengakhiri ketegangan.
"Saya tidak yakin itu perlu diperpanjang. Asal tahu saja, Iran ingin membuat kesepakatan, dan kita berurusan dengan sangat baik dengan mereka," imbuhnya.
Peringatan Keras Trump
Walaupun proses negosiasi menunjukkan kemajuan, Trump tetap memberikan peringatan keras.
Ia menegaskan bahwa perdamaian sangat bergantung pada hasil akhir meja perundingan. Jika kesepakatan gagal diraih, maka konfrontasi militer akan kembali pecah.
"Jika tidak ada kesepakatan, pertempuran dilanjutkan," tegas Trump.
Trump mengisyaratkan bahwa putaran negosiasi berikutnya antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan besar akan digelar pada akhir pekan ini.
Menariknya, ia juga membuka peluang untuk terbang langsung ke Pakistan guna meresmikan perjanjian tersebut.
Baca juga: Trump Umumkan Israel dan Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari
Sebelumnya, pembicaraan antara kedua negara memang telah dilakukan di Pakistan pada akhir pekan lalu. Trump memuji peran Islamabad dalam memfasilitasi dialog ini.
"Saya bersedia, saya akan pergi ke Pakistan. Ya, Pakistan sangat luar biasa. Mereka sangat baik, Islamabad. Saya mungkin akan pergi, ya. Jika kesepakatan ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi," kata Trump.
Blokade Laut Masih Berlanjut
Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa kebijakan tekanan terhadap Iran tidak akan dikendurkan begitu saja.
Hingga saat ini, belum ada rencana untuk mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ia memuji kinerja Angkatan Laut AS yang menjaga ketat wilayah perairan tersebut.
"Kami bekerja sangat baik dengan blokade ini. Ini sudah menjadi rutinitas bagi kami. Angkatan Laut sangat luar biasa, dan saya pikir blokade ini berjalan dengan sangat baik," ungkapnya.
Dukungan DPR AS bagi Kebijakan Trump
Dari dalam negeri, langkah militer Trump mendapatkan dukungan politik yang kuat.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS yang dikuasai Partai Republik menolak resolusi yang memerintahkan penghentian perang dengan Iran pada pemungutan suara hari Kamis.
Hasil pemungutan suara berakhir sangat tipis, yakni 213-214.
Sebagian besar anggota faksi Republik tetap setia mendukung Trump dan enggan memberikan batasan pada kampanye militernya.
Hanya satu politisi Republik, Thomas Massie, yang setuju menghentikan perang, sementara satu politisi Demokrat, Jared Golden, justru menolak resolusi penghentian perang tersebut.
Resolusi yang diajukan oleh politisi Demokrat, Gregory Meeks, tersebut sejatinya bertujuan untuk menarik pasukan AS dari permusuhan dengan Iran kecuali mendapatkan izin eksplisit dari Kongres.
"Donald Trump telah menyeret rakyat Amerika ke dalam perang pilihan, yang diluncurkan tanpa otorisasi Kongres. Presiden tidak memiliki strategi yang koheren, dan keterlibatan militer yang terbuka dan tidak terdefinisi ini justru merupakan hal yang dirancang untuk dibatasi oleh Resolusi Kekuatan Perang," kecam Meeks dalam sidang sebelum pemungutan suara.
Meeks memperingatkan bahwa setiap penundaan dalam menghentikan konflik hanya akan membawa Amerika Serikat lebih dekat pada perang besar yang tidak memiliki jalan keluar.
(Tribunnews.com/Bobby)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TUJUAN-PERANG-AS-DI-IRAN-GAGAL-TOTAL.jpg)