Serukan Pencopotan Trump, Mantan Direktur CIA: Orang Ini Tidak Stabil - Liputan6
Serukan Pencopotan Trump, Mantan Direktur CIA: Orang Ini Tidak Stabil
Amandemen ke-25 Konstitusi AS disebut Brennan adalah mekanisme yang tepat untuk mencopot Trump.
Liputan6.com, Washington, DC - Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) John Brennan turut menyuarakan desakan yang kian meluas agar presiden dicopot dari jabatannya dengan alasan tidak layak memimpin. Ia mengatakan bahwa Amandemen ke-25 Konstitusi AS, yang mengatur pemberhentian presiden secara paksa, seolah-olah dibuat untuk menghadapi presiden seperti Donald Trump.
Brennan, yang menjabat sebagai kepala CIA pada masa pemerintahan Barack Obama, menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan MS Now pada Sabtu (11/4/2026). Ia menilai komentar terbaru Trump yang bersifat tidak stabil, termasuk ancaman untuk menghancurkan peradaban Iran, menunjukkan bahaya serius terhadap banyak nyawa sehingga layak menjadi dasar pencopotan dari Gedung Putih.
"Orang ini jelas tidak stabil," ujar Brennan seperti dikutip dari laporan The Guardian.
Ia menambahkan bahwa Trump merupakan beban besar yang tidak seharusnya dibiarkan terus menjabat sebagai panglima tertinggi militer AS, mengingat besarnya kekuatan yang berada di tangannya, termasuk arsenal nuklir AS.
Pernyataan Brennan menempatkannya di garis depan perdebatan yang terus berkembang terkait keputusan Trump untuk berperang dengan Iran serta meningkatnya ancaman keras untuk melakukan penghancuran massal terhadap negara tersebut. Pada 7 April, Trump memperingatkan bahwa "seluruh peradaban Iran akan mati malam ini" jika rezim Iran tidak memenuhi ultimatum yang ia berikan. Brennan menilai ancaman ini mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kemampuan nuklir.
Seiring meningkatnya retorika agresif dan penuh kemarahan dari Trump, semakin banyak anggota Partai Demokrat yang menyerukan penerapan Amandemen ke-25. Ketentuan yang diadopsi dalam Konstitusi AS pada tahun 1967 itu memungkinkan wakil presiden bersama mayoritas kabinet mencopot presiden jika dianggap tidak mampu menjalankan tugas dan kewajibannya.
Menurut laporan NBC News, lebih dari 70 anggota Demokrat di Kongres telah menyerukan agar amandemen tersebut diterapkan.
Namun, peluang untuk benar-benar melaksanakan langkah ini dinilai sangat kecil, mengingat loyalitas kuat yang tetap ditunjukkan oleh Wakil Presiden JD Vance, serta seluruh anggota kabinet terhadap Trump. Meski demikian, kekhawatiran terhadap bahasa yang semakin keras dan ancaman yang menggambarkan kehancuran besar dan kondisi masa depan yang sangat mengerikan dari Trump diperkirakan akan terus berlanjut, terutama setelah gagalnya pembicaraan damai antara AS dan Iran pada Sabtu serta kemungkinan munculnya kembali konflik.
Komentar Brennan menjadi semakin mencolok karena ia sendiri sedang berada dalam penyelidikan aktif oleh Kementerian Kehakiman AS di bawah pemerintahan Trump, sebagai bagian dari upaya presiden terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan politiknya. Di bawah tekanan Gedung Putih, Kementerian Kehakiman AS membuka penyelidikan kriminal pada Juli 2025 terhadap Brennan dan mantan Direktur FBI James Comey, terkait peran mereka dalam investigasi campur tangan Rusia pada pemilu 2016.
Dua bulan kemudian, Comey didakwa atas dua tuduhan memberikan keterangan palsu kepada Kongres dalam kesaksiannya tahun 2020, namun seorang hakim membatalkan penuntutan karena menyimpulkan bahwa jaksa penuntut yang menangani kasus tersebut diangkat secara tidak sah.
Sementara itu, penyelidikan terhadap Brennan dilaporkan masih berlangsung. Pada Maret, Ketua Komite Kehakiman DPR AS yang juga sekutu Trump, Jim Jordan, menyatakan bahwa penyelidikan tersebut "semakin memanas".