Iklan

Asia

Xi Jinping angkat bicara soal rencana perdamaian sampai menyerukan tetap dibukanya Selat hormuz. Menurut para pengamat, China tengah mengkalkulasi ulang sikap mereka terkait konflik Timur Tengah yang terus terjadi.


Presiden China Xi Jinping akhirnya angkat bicara secara publik mengenai perang di Iran beberapa minggu setelah konflik itu pecah, dengan mengungkapkan proposal perdamaian dan menyerukan agar Selat Hormuz tetap terbuka. (Foto arsip: Poollihat lebih banyak

27 Apr 2026 01:40PM (Diperbarui: 27 Apr 2026 01:55PM)

BEIJING: Setelah sebelumnya diam, Presiden China Xi Jinping dalam sepekan telah dua kali mengomentari perang Iran yang masih berlangsung hingga kini. Menurut para pengamat, hal ini menunjukkan bahwa China mulai merasakan tekanan akan krisis energi, sekaligus ingin menunjukkan pengaruh diplomatik mereka yang besar.

Meski sebelumnya beberapa pejabat China telah bersuara soal konflik tersebut, namun Xi baru berkomentar pada 14 April lalu dan kembali menyinggungnya pada 20 April. Ini adalah dua komentar pertama Xi saat perang AS-Israel dan Iran memasuki pekan kedelapan.      

Para ahli melihat hal ini sebagai sinyal bahwa Beijing mengoreksi perhitungannya terhadap konflik yang awalnya diprediksi akan cepat usai.

“Saya pikir China awalnya cukup membiarkan situasi berkembang, tetapi seiring perubahan keadaan, China kini merasa perlu memainkan peran yang lebih proaktif dan menonjol,” kata Dylan Loh, profesor madya di Fakultas Ilmu Sosial Nanyang Technological University (NTU), kepada CNA.

Para ahli mengatakan, dengan berbicara lebih tegas, China ingin menunjukkan kepentingannya dalam meredakan eskalasi serta memperkuat posisi tawar dalam perundingan yang lebih luas, menyusul akan segera digelarnya pertemuan antara Xi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Namun, para ahli menambahkan, retorika China bisa jadi melampaui kemampuuan atau kemauan mereka untuk memengaruhi situasi di lapangan.

"Secara umum, menyerukan Selat (Hormuz) tetap terbuka dan mempromosikan hubungan yang baik antar negara tetangga di kawasan Teluk ada artinya kecuali Beijing ambil tindakan untuk mencegah agresi Iran dan ancaman terhadap negara-negara tetangganya di kawasan," kata Drew Thompson, peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), kepada CNA.

MEMECAH KEHENINGAN

Xi menyampaikan pernyataan publik pertamanya mengenai konflik di Timur Tengah pada 14 April.

Dalam pertemuan dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Xi mengajukan empat poin untuk mendorong perdamaian Timur Tengah, yakni hidup berdampingan secara damai, penghormatan kedaulatan, penegakan hukum internasional, dan kerja sama regional untuk pembangunan dan keamanan.

Presiden China Xi Jinping dan Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menghadiri pertemuan di Balai Agung Rakyat di Beijing pada 14 April 2026. (Foto: Reuters/Haruna Furuhashi)

Pemimpin tertinggi China itu kembali menyampaikan pandangannya mengenai konflik tersebut pada 20 April, dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

“Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi pelayaran, karena hal ini demi kepentingan bersama negara-negara kawasan dan komunitas internasional,” ujar Xi kepada pemimpin Saudi tersebut.

China mendorong gencatan senjata segera dan menyeluruh, serta menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah harus diselesaikan melalui jalur politik dan diplomatik, demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Xinhua yang mengutip pernyataan Xi.

Salah satu alasan utama yang mendorong diplomasi China menjadi lebih terlihat adalah meningkatnya dampak dari konflik di Iran terhadap negara tersebut, kata Pan Guangyi, dosen studi politik internasional di University of New South Wales (UNSW) Canberra.

Data Center on Global Energy Policy di Columbia University menunjukkan, sekitar setengah dari impor minyak mentah China dan sekitar 30 persen impor gas alam cairnya melewati Selat Hormuz.

Jalur perairan strategis yang digunakan untuk pengangkutan seperlima minyak dunia dan gas alam cair tersebut praktis tersendat sejak perang dimulai, meskipun gencatan senjata yang rapuh — kini diperpanjang tanpa batas oleh Trump — masih bertahan.

“Insiden-insiden terbaru yang melibatkan kapal China telah secara signifikan meningkatkan risiko,” kata Pan kepada CNA.

Beberapa kapal China memang telah berhasil melintasi selat tersebut, tapi sebagian lainnya tidak. Situasi masih terus bergejolak dengan pembatasan dan penutupan jalur oleh Iran. Blokade oleh angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran juga semakin memperburuk situasi.

Konsulat Jenderal Iran di Mumbai pada 19 April menyatakan bahwa Teheran telah menghalangi kapal kargo curah China, SUN PROFIT, untuk melintasi Selat Hormuz.

Pada 15 April, Rich Starry, kapal tanker milik China yang dikenai sanksi oleh AS karena bertransaksi dengan Iran, berbalik arah menuju selat tersebut setelah keluar dari Teluk sehari sebelumnya.

Citra satelit menunjukkan pergerakan kapal di Selat Hormuz pada 17 April 2026. (Gambar: Uni Eropa via Reuters)

Meskipun China secara agresif membangun cadangan strategisnya, termasuk minyak dan gas, sejumlah pelaku perdagangan memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat memaksa kilang-kilang China mengurangi produksi dan menguras persediaan komersial.

“Ada penilaian ulang bahwa (konflik ini) akan berlangsung lebih lama dan risiko pada tahap akhir bagi China juga akan meningkat,” kata Loh dari NTU.

China juga akan khawatir akan dampak lanjutan terhadap rantai pasok bagi perusahaan-perusahaannya di dalam negeri serta terhadap kepentingan komersial dan energi yang signifikan di kawasan Teluk, tambahnya.

Perdagangan antara China dan negara-negara Teluk naik 14,2 persen secara tahunan menjadi US$257 miliar pada 2024, melampaui perdagangan Teluk–Barat (US$256 miliar, turun sekitar 4 persen) untuk pertama kalinya, menurut laporan lembaga Asia House di London pada November 2025 lalu.

Namun, meskipun China menghadapi risiko nyata terkait pasokan energi, stabilitas politik domestik dan posisi diplomatik yang relatif menguntungkan memberinya ruang untuk lebih bersabar dibandingkan Amerika Serikat, kata Pan dari UNSW Canberra.

“Beijing mampu mengelola krisis ini dalam jangka waktu yang lebih panjang, yang dengan sendirinya merupakan aset strategis,” ujarnya.

KESEMPATAN DAN RISIKO

Alasan lainnya mengapa Xi kini bersuara secara terbuka menurut pengamat adalah karena semakin dekatnya rencana pertemuan langsung dengan Trump. Xi, kata mereka, ingin menunjukkan pengaruh China di Timur Tengah, sekaligus memperkuat posisi tawar terhadap AS.

CNA sebelumnya melaporkan bahwa China baru-baru ini meningkatkan keterlibatan diplomatiknya, yang oleh para analis dipandang sebagai langkah terukur untuk membangun daya tawar dan membatasi risiko menjelang pertemuan puncak yang diperkirakan berlangsung pertengahan Mei.

Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez berjabat tangan di Balai Agung Rakyat di Beijing, China, 14 April 2026. (Foto: Handout via Reuters/Pemerintah Spanyol)

“Pernyataan Xi paling tepat dipahami sebagai bagian dari agenda diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy) yang lebih luas untuk menstabilkan kawasan menjelang kunjungan Trump ke China,” kata Pan, seraya menambahkan bahwa Beijing dapat memanfaatkan hal ini sebagai sumber tawar dalam negosiasi yang lebih luas dengan AS terkait perdagangan dan teknologi.

Pan mencatat bahwa Xi menyampaikan pesannya mengenai perang Iran kepada para pemimpin di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang ia sebut sebagai “aktor politik utama di dunia Arab”.

“Beijing memiliki motivasi jelas untuk menampilkan visibilitas diplomatik yang lebih besar sebelum kunjungan Trump, termasuk perannya dalam memfasilitasi pembicaraan awal gencatan senjata melalui mediasi Pakistan,” tambahnya.

Pakistan berperan sebagai perantara utama dalam gencatan senjata dua pekan yang disepakati antara AS dan Iran pada 7 April. Saat itu, Trump mengatakan ia meyakini China turut membantu membawa Iran ke meja perundingan. Beijing belum mengonfirmasi perannya dalam hal tersebut.

Saat ditanya mengenai dampak negatif bagi Beijing karena berbicara lebih tegas saat ini, Pan mengatakan risikonya masih dapat dikelola, setidaknya untuk saat ini.

“Selama China tidak mengerahkan pengawalan angkatan laut atau terlibat langsung dalam konflik, risikonya relatif terbatas,” ujarnya.

Pan mengatakan, hasil yang paling diharapkan China dalam konflik Timur Tengah adalah gencatan senjata melalui negosiasi tanpa perubahan rezim dan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

“Sama pentingnya, Beijing ingin keluar dari krisis ini dengan tetap terjaganya citra mereka sebagai mediator yang kredibel,” katanya.

PENGARUH DAN KOMITMEN

Menurut para analis, semakin Beijing memposisikan diri sebagai kekuatan penstabil, maka sorotannya terhadap mereka akan semakin besar.

Publik ingin melihat apakah China pada akhirnya akan turun tangan, ketimbang sekadar mengeluarkan pernyataan. Para pengamat mencermati, China terlihat masih enggan menanggung biaya intervensi yang lebih dalam.

“Meski berhasil memediasi normalisasi hubungan Iran–Arab Saudi pada Maret 2023, China belum menjatuhkan konsekuensi kepada Iran atas serangannya terhadap Arab Saudi, dan justru memberikan dukungan militer kepada Iran, yang memperburuk keamanan Arab Saudi dan GCC (Dewan Kerja Sama Teluk),” kata Thompson dari RSIS.

“Sambungan telepon diplomatik dengan Arab Saudi tidak menciptakan perbaikan situasi dan bertentangan dengan dukungan militer serta intelijen China kepada Iran, yang memperpanjang krisis dan ketidakstabilan kawasan,” tambahnya, merujuk pada percakapan telepon Xi pada 20 April dengan putra mahkota Saudi.

Menurut laporan yang diterbitkan pada 21 April oleh Council on Foreign Relations, lembaga pemikir asal AS, China telah memberikan Iran teknologi navigasi satelit, sistem radar, dan teknologi perang elektronik sejak awal perang. Beijing berulang kali membantah tuduhan tersebut.

Trump pada Selasa mengatakan bahwa sebuah kapal berbendera Iran yang dicegat AS di Teluk Oman pada Minggu membawa “hadiah” dari China untuk Iran.

Meski tidak merinci isinya, mantan duta besar AS untuk PBB Nikki Haley menulis di platform X bahwa kapal tersebut berlayar dari China ke Iran dan terkait dengan pengiriman bahan kimia untuk rudal.

China membantah tuduhan tersebut, dengan juru bicara kementerian luar negeri pada Selasa menyatakan bahwa Beijing menentang “segala bentuk pengaitan dan spekulasi yang berniat jahat”.

Pasukan AS melakukan patroli di dekat kapal kargo berbendera Iran M/V Touska setelah kapal tersebut digeledah dan disita oleh pasukan AS pada hari Minggu, di lokasi yang disebutkan sebagai Laut Arab, dalam foto yang dirilis pada 20 Aprillihat lebih banyak

Saat ditanya seperti apa bentuk intervensi aktif China di lapangan untuk mengekang agresi Iran, Thompson menyebut dua langkah yang “mudah dan berbiaya rendah”.

“Menghentikan ekspor barang apa pun, termasuk barang dengan fungsi ganda yang bisa meningkatkan kapasitas Iran dalam memproyeksikan kekuatan atau membuat rudal, serta meminta Teheran mengakui Israel seperti Beijing dan menghentikan dukungan terhadap kelompok teror di kawasan,” katanya.

“Apabila Beijing tidak siap menggunakan pengaruh politiknya untuk meredam ancaman Iran terhadap negara-negara sekitar dan bertindak melampaui pernyataan serta panggilan telepon, maka China harus menerima konsekuensi apa pun dari konflik ini.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)