0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Selat Malaka Spesial

    Iran Mulai Senggol Selat Malaka, Sebut Respons Reaksi Berantai dari Selat Hormuz - SindoNews

    11 min read

     

    Iran Mulai Senggol Selat Malaka, Sebut Respons Reaksi Berantai dari Selat Hormuz


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Selasa, 21 April 2026 - 12:00 WIB

    Iran sebut setiap tindakan jahat di Selat Hormuz akan memicu respons reaksi berantai di jalur pelayaran yang lebih penting, termasuk Selat Malaka. Foto/Money & Banking Magazine

    A A A

    JAKARTA - Setiap "tindakan jahat" di Selat Hormuz akan memicu "respons reaksi berantai" di jalur pelayaran yang lebih penting, termasuk Selat Malaka di Asia Tenggara. Demikian peringatan dari Ali Akbar Velayati, penasihat urusan internasional Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.

    Peringatan Velayati disampaikan dalam unggahan di media sosial pada hari Minggu atau beberapa hari menjelang berakhirnya gencatan senjata Iran dengan AS. Narasi "tindakan jahat" yang disampaikan itu diduga merujuk pada blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz.

    Baca Juga: 'UEA Tak Lagi Butuh AS, Pangkalan Militer Amerika Itu Beban dan Bukan Aset'

    “Era memaksakan keamanan dari seberang lautan telah berakhir,” tulis Velayati.

    “Saat ini, tidak hanya keamanan Hormuz dan Malaka yang terjamin di bawah naungan kekuatan kita dan mitra strategis kita, tetapi keamanan [Selat] Bab el-Mandeb juga berada di tangan saudara-saudara Ansar Allah,” lanjut dia, merujuk pada kelompok bersenjata yang berbasis di Yaman yang juga dikenal sebagai Houthi.

    “Setiap tindakan jahat akan memicu reaksi berantai,” imbuh Velayati.

    Teheran mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz pada Sabtu malam waktu setempat, hanya sehari setelah menyatakan jalur air tersebut terbuka untuk kapal komersial.

    Dalam sebuah pernyataan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan Selat Hormuz akan ditutup hingga blokade AS terhadap pelabuhan Iran dicabut, memperingatkan bahwa mendekati selat tersebut akan dianggap sebagai “kerja sama dengan musuh” dan kapal yang melakukannya akan menjadi sasaran.

    Ketegangan yang kembali meningkat di jalur sempit tersebut telah memperdalam kekhawatiran akan eskalasi baru setelah gencatan senjata selama dua minggu berakhir pada hari Rabu, sementara para mediator Pakistan berupaya mengatur putaran negosiasi langsung lainnya antara Iran dan Amerika Serikat.

    Hu Bo, direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Beijing, mengatakan komentar Velayati dapat dilihat sebagai upaya untuk menarik lebih banyak perhatian pada krisis Hormuz.

    Namun, dia mengatakan dinamika geopolitik di Asia Tenggara berbeda dari yang ada di Selat Hormuz, dan Selat Malaka kemungkinan besar tidak akan menghadapi gangguan seperti yang terjadi di Timur Tengah.

    Selat Malaka yang sempit merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Terletak di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan rute utama untuk pengiriman energi ke Asia Timur, dengan ketiga negara Asia Tenggara tersebut bersama-sama mengawasi keamanan dan navigasinya.

    “Kemungkinan besar negara-negara pesisir tidak akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” kata Hu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (21/4/2026).

    Menurut Hu, tidak seperti Selat Hormuz, satu-satunya jalur maritim dari negara-negara Teluk yang kaya minyak ke Samudra Hindia, Selat Malaka memiliki potensi alternatif alami.

    Alternatif tersebut mungkin termasuk Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar, yang menawarkan jalur alternatif di sekitar kepulauan Indonesia.

    Namun, menurut Hu, krisis di Selat Hormuz diperkirakan akan meningkatkan kesadaran global tentang keamanan jalur pelayaran yang rawan.

    “Selat Malaka dan Selat Hormuz sebenarnya tidak dapat dibandingkan, tetapi masalah Hormuz telah membuat dunia mulai memikirkan kembali keamanan jalur pelayaran," katanya.

    (mas)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

      Rekomendasi

      Infografis

      6 Jenderal Bintang 4...

      6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran

      Terpopuler

      1

      2

      3

      4

      5

      Berita Terkini

      Trump Marah pada Media...

      Siapa Rumen Radev? Mantan...

      Iran Mulai Senggol Selat...

      Mengapa Iran dan AS...

      Mahasiswi AS Ditangkap...

      Pakar Militer Klaim...

      Komentar
      Additional JS