Intel Bocor! Iran Gunakan Satelit China untuk Lacak dan Kunci Target Serangan ke Pangkalan AS - Tribunnews
Intel Bocor! Iran Gunakan Satelit China untuk Lacak dan Kunci Target Serangan ke Pangkalan AS
Ringkasan Berita:
- Iran dilaporkan menggunakan satelit mata-mata buatan China untuk menargetkan pangkalan AS.
- Dokumen bocor menunjukkan IRGC memanfaatkan sistem ini saat serangan Maret.
- Temuan ini memicu kekhawatiran baru soal keterlibatan China dalam konflik.
TRIBUNNEWS.COM - Laporan terbaru mengungkap dugaan keterlibatan teknologi luar negeri dalam konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS).
Investigasi Financial Times menyebut, Iran menggunakan satelit mata-mata buatan China untuk menargetkan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
CNN melaporkan, temuan tersebut dibahas dalam wawancara antara jurnalis FT Demetri Sevastopulo dan Erin Burnett terkait penggunaan teknologi satelit dalam konflik terbaru.
Satelit China Digunakan untuk Operasi Militer
Menurut laporan tersebut, Iran memperoleh satelit TEE-01B yang diproduksi perusahaan China Earth Eye Co pada 2024.
Satelit ini awalnya dikembangkan untuk kebutuhan sipil seperti pertanian dan manajemen bencana.
Dokumen militer yang bocor menunjukkan satelit tersebut kemudian digunakan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk kepentingan militer.
Reuters melaporkan, IRGC diduga mengambil alih kendali satelit dan menggunakannya untuk memantau target strategis AS.
Pantau Pangkalan AS Sebelum dan Sesudah Serangan
Baca juga: Aset Iran Dibekukan Capai 100 Miliar Dolar AS, Di Mana Disimpan dan Mengapa Sulit Dicairkan?
Data citra satelit yang dianalisis menunjukkan aktivitas pemantauan intensif terhadap sejumlah pangkalan militer AS.
Di antaranya termasuk Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi serta fasilitas militer di Yordania, Bahrain, dan Irak.
Financial Times melaporkan citra tersebut diambil sebelum dan sesudah serangan drone serta rudal Iran pada Maret.
Serangan itu dilaporkan merusak sejumlah aset militer, termasuk pesawat pengisian bahan bakar Angkatan Udara AS.
IRGC Diduga Gunakan Satelit untuk Pandu Serangan
Para analis menilai, penggunaan satelit ini memberi keunggulan signifikan bagi Iran dalam perang.
Ahli Iran dari Institut Studi Politik Paris, Nicole Grajewski, mengatakan satelit tersebut memungkinkan IRGC mengidentifikasi target lebih awal dan mengevaluasi hasil serangan.
Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan intelijen militer Iran melalui dukungan teknologi eksternal.
Transfer Diam-diam dan Keterkaitan China
Satelit TEE-01B diluncurkan pada Juni 2024 sebelum akhirnya dialihkan ke Iran.
Financial Times melaporkan IRGC memperoleh akses satelit tersebut dengan nilai sekitar 36 juta dolar AS melalui mekanisme transfer di orbit.
Kesepakatan ini disebut terkait jaringan kerja sama dalam inisiatif Belt and Road yang diikuti Iran sejak 2021.
Hingga kini, pihak Earth Eye Co maupun penyedia layanan satelit Emposat belum memberikan tanggapan resmi.
Baca juga: AS Tolak Usulan Rusia Soal Pengambilalihan Uranium Iran
Kekhawatiran Keterlibatan China Meningkat
Penggunaan satelit buatan China oleh Iran memicu kekhawatiran baru terkait peran Beijing dalam konflik.
The New York Post melaporkan hal ini terjadi di tengah spekulasi bahwa China tengah mempertimbangkan dukungan militer tambahan untuk Iran.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan China telah sepakat untuk tidak mengirimkan senjata ke Teheran.
Pernyataan tersebut, disampaikan menjelang rencana pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.
Eskalasi Baru dalam Perang Modern
Kasus ini menyoroti bagaimana teknologi satelit kini menjadi elemen kunci dalam peperangan modern.
Kemampuan pengintaian real-time memungkinkan militer menentukan target dengan presisi tinggi sekaligus mengevaluasi dampak serangan.
Para analis menilai, penggunaan sistem ini berpotensi meningkatkan eskalasi konflik jika tidak diimbangi mekanisme pengawasan internasional.
Seiring memanasnya situasi geopolitik, keterlibatan teknologi canggih dari negara lain berisiko memperluas dampak konflik di kawasan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)