Intel AS Sebut China Pertimbangkan Kirim Sistem Radar Canggih ke Iran - Tribunnews
Intel AS Sebut China Pertimbangkan Kirim Sistem Radar Canggih ke Iran
Intelijen AS menilai China tengah mempertimbangkan pengiriman sistem radar canggih dan pertahanan udara ke Iran.
Ringkasan Berita:
- Intelijen AS menilai China tengah mempertimbangkan pengiriman sistem radar canggih dan pertahanan udara ke Iran.
- Dukungan China dan Rusia berpotensi memperluas konflik Iran dan melemahkan operasi militer AS-Israel.
- China membantah tuduhan tersebut, sementara Donald Trump mengancam tarif terhadap negara pemasok senjata ke Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Beberapa hari setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran bulan lalu, badan intelijen Amerika mendeteksi tanda-tanda bahwa konflik berisiko meluas.
Hal ini terjadi karena Rusia dan China dinilai berupaya mendukung Iran untuk melawan AS-Israel.
Dilansir CBS News, para analis di Badan Intelijen Pertahanan Pentagon menilai bahwa China sedang mempertimbangkan untuk menyediakan sistem radar canggih kepada Iran, menurut sejumlah pejabat AS yang mengetahui hal tersebut.
Pertimbangan ini muncul di tengah laporan terpisah bahwa Rusia telah berbagi intelijen dengan Iran terkait posisi militer Amerika di seluruh Timur Tengah.
Para pejabat AS, yang berbicara kepada CBS News dengan syarat anonim, mengatakan China mempertimbangkan untuk memasok Iran dengan sistem radar pita X.
Teknologi ini dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan Iran dalam mendeteksi dan melacak ancaman, seperti drone terbang rendah dan rudal jelajah, serta membantu melindungi sistem pertahanan udaranya dari serangan canggih.
Namun, belum jelas apakah China akan benar-benar melanjutkan rencana transfer tersebut.
Sebelumnya, pada Rabu (15/4/2026), Financial Times melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran menggunakan satelit mata-mata yang diam-diam dibeli dari perusahaan China, Earth Eye Co.
Satelit tersebut disebut digunakan untuk menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, mengutip dokumen militer Iran yang bocor.
Penilaian intelijen AS juga menunjukkan bahwa Iran sebelumnya telah menggunakan citra satelit yang disediakan oleh China, termasuk selama konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan pasukan AS, menurut dua pejabat AS yang mengetahui hal tersebut.
Namun, kedua pejabat tersebut tidak dapat mengonfirmasi apakah citra tersebut dipasok oleh Earth Eye Co.
Sebuah laporan Pentagon tentang militer China yang dirilis pada Desember menyebut bahwa pada 2024, perusahaan satelit komersial berbasis di China telah terlibat dalam pertukaran bisnis dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Baca juga: Trump Beri Sinyal Damai, Apakah AS dan Iran Bakal Benar-benar Hentikan Perang?
Laporan Annual Threat Assessment 2026, sebuah survei risiko keamanan global yang tidak diklasifikasikan, memperingatkan bahwa China jauh melampaui negara lain dalam pengembangan kemampuan berbasis ruang angkasa.
"China telah mengungguli Rusia sebagai pesaing utama AS di bidang antariksa. Pengembangan kemampuan antariksa China yang pesat memposisikannya untuk memajukan tujuan kebijakan luar negeri, menantang superioritas militer dan teknologi AS, serta memproyeksikan kekuatan dalam skala global," demikian isi laporan tersebut.
Intelijen AS juga mengindikasikan bahwa China mempertimbangkan untuk mentransfer sistem pertahanan udara ke Iran, yang berpotensi disalurkan melalui negara ketiga guna menyamarkan keterlibatan langsung, kata kedua pejabat tersebut.
CNN sebelumnya melaporkan bahwa komunitas intelijen menemukan indikasi China bersiap mengirimkan sistem rudal anti-pesawat portabel (MANPADS) ke Iran.
Senator Demokrat Mark Warner, wakil ketua Komite Intelijen Senat, menyebut laporan tersebut sebagai hal yang signifikan.
"Mereka mencoba menyembunyikan diri. China mengatakan ini sektor swasta mereka, padahal kita tahu tidak ada sektor swasta yang benar-benar independen di China. Semua perusahaan harus loyal kepada Partai Komunis," ujarnya dalam acara "Face the Nation".
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, saat ditanya mengenai penilaian intelijen tersebut, mengatakan:
"Presiden Donald Trump memiliki hubungan yang sangat kuat dan langsung dengan Presiden Xi Jinping, dan mereka telah berkomunikasi mengenai hal ini. China telah meyakinkan kami bahwa hal tersebut tidak akan terjadi."
Trump diperkirakan akan mengunjungi China bulan depan untuk membahas sejumlah krisis dan kepentingan strategis yang saling tumpang tindih.
Dalam wawancara di Fox Business Network pada Rabu (15/4/2026), Trump mengatakan bahwa ia telah mengirim surat kepada Xi Jinping agar tidak memberikan senjata kepada Iran.
Namun, Trump tidak menjelaskan kapan surat tersebut dikirim.
Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, D.C., menolak menjawab pertanyaan terkait surat tersebut dan menegaskan bahwa posisi China terhadap Iran bersifat terbuka dan transparan.
"Kami menjunjung sikap objektif dan tidak memihak serta terus mendorong dialog damai," kata juru bicara Liu Pengyu.
"Kami tidak pernah terlibat dalam tindakan yang memperkeruh konflik."
Pekan lalu, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap negara yang memasok senjata ke Iran.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut laporan media tentang pasokan senjata ke Iran sebagai rekayasa.
Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan tarif semacam itu akan dibalas dengan tindakan serupa.
Hubungan China dan Iran
China, bersama Rusia, kerap disebut sebagai “mitra” Iran.
Kedua negara menilai perang AS-Israel di Iran yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Namun, terlepas dari retorika keras tersebut, sejauh ini tidak ada tanda bahwa keduanya bersedia melakukan intervensi militer langsung untuk mendukung Iran.
Mengutip Al Jazeera, pada 2021, China dan Iran menandatangani perjanjian kerja sama selama 25 tahun yang bertujuan memperluas hubungan di berbagai sektor, termasuk energi, sekaligus menarik Iran ke dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan China.
Perjanjian ini merupakan bagian dari kemitraan strategis jangka panjang yang mencakup kerja sama ekonomi, politik, dan infrastruktur.
Jodie Wen, peneliti pascadoktoral di Pusat Keamanan dan Strategi Internasional (CISS) Universitas Tsinghua, mengatakan hubungan tersebut di Beijing dipandang sebagai hubungan yang pragmatis dan stabil.
“Dari sisi politik, kami memiliki pertukaran reguler,” ujarnya dari Beijing.
“Dari sisi ekonomi, kerja sama sangat dalam; banyak perusahaan memiliki investasi di Iran.”
Namun, ia menekankan bahwa China menetapkan batasan yang jelas dalam kemitraan tersebut, khususnya terkait keterlibatan militer.
“Pemerintah China selalu berpegang pada prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Saya rasa China tidak akan mengirim senjata ke Iran,” katanya.
Sebaliknya, peran China kemungkinan besar akan berfokus pada diplomasi dan manajemen krisis.
“Saya pikir China berusaha berkomunikasi dengan AS dan negara-negara Teluk untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.
Menurutnya, kejelasan posisi ini turut membantu membangun kepercayaan di Iran.
Meski demikian, hubungan tersebut tidak bersifat simetris.
Data dari layanan pelacakan kapal Kpler menunjukkan sekitar 87,2 persen ekspor minyak mentah Iran menuju China, yang menegaskan pentingnya China bagi ekonomi Iran.
Sebaliknya, Iran hanya merupakan mitra kecil dalam perdagangan global China.
Dylan Loh, profesor madya dalam program Kebijakan Publik dan Urusan Global di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, menilai peran China telah berkembang menjadi lebih protektif.
Ia menyebut China kini cenderung mempercepat upaya mediasi untuk mencegah konflik regional yang dapat mengancam kepentingan ekonomi dan keamanannya.
“Saya pikir akan ada evaluasi terkait bagaimana menurunkan risiko politik dan opsi yang tersedia. Sejujurnya, proses ini sudah dimulai sejak serangan AS terhadap Venezuela,” ujarnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)