Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Ayatollah Ali Khamenei Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Tiba-tiba Mengeklaim Bisa Berbagi Kendali Selat Hormuz Bersama "Ayatollah" - Kompas

    7 min read

     

    Trump Tiba-tiba Mengeklaim Bisa Berbagi Kendali Selat Hormuz Bersama "Ayatollah"



    Ahmad Naufal Dzulfaroh

    Penulis

    WASHINGTON, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump melontarkan pernyataan mengejutkan terkait konflik di Timur Tengah. 

    Trump mengeklaim bahwa dirinya dan pemimpin Iran dapat berbagi kendali atas Selat Hormuz, jalur air paling strategis yang menampung 20 persen pasokan energi global.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Pernyataan ini muncul pada Senin (23/3/2026) sebagai upaya terbaru Trump untuk meredakan tensi peperangan.

    "Mungkin (oleh) saya. Mungkin saya. Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah itu," kata Trump kepada wartawan pada ketika ditanya tentang klaimnya bahwa pembicaraan sedang berlangsung untuk mengakhiri  perang AS-Israel di Iran, dikutip dari Middle East Eye.

    Baca juga: Negara Teluk Disebut Semakin Dekat Bergabung dalam Perang Lawan Iran

    Klaim dialog yang dibantah Iran

    Setelah mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran jika Iran tidak membuka Selat Hormuz, Trump tiba-tiba mengeklaim bahwa kedua negara sedang terlibat dalam percakapan yang sangat baik dan produktif tentang mengakhiri perang.

    Meski mengakui adanya upaya dari negara-negara kawasan untuk menurunkan ketegangan, Teheran menegaskan bahwa saat ini tidak ada dialog resmi yang sedang berlangsung dengan pemerintahan Trump.

    Namun, beberapa bentuk pengakuan AS atas pengaruh Iran di Selat Hormuz akan menjadi tindakan yang disambut baik oleh Teheran.

    Pemerintahan Trump baru-baru ini juga telah mencabut sanksi terhadap minyak Iran di laut. 

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    AS mengatakan, langkah itu dilakukan untuk mengurangi tekanan harga energi, tetapi secara efektif justru menciptakan keuntungan besar bagi Teheran.

    Baca juga: Ketika Negara Asia Kembali ke Batu Bara di Tengah Krisis Energi...

    Iran kontrol Selat Hormuz, AS terdesak

    Iran merebut kendali atas Selat Hormuz setelah diserang oleh Israel dan AS.

    Ketidakmampuan pemerintahan Trump untuk menjamin keamanan di jalur perairan tersebut telah menjadi aib besar dan memicu laporan tentang potensi invasi darat ke Iran. 

    Baca juga: Misteri Kapal Pakistan Bisa Tembus Selat Hormuz saat Jalur Diblokade

    Setelah satu dekade menanggung sanksi yang melumpuhkan, Iran membalikkan keadaan dan memberlakukan aturannya sendiri di Selat Hormuz dengan menggunakan kekuatan militer.

    Setidaknya, 17 kapal  telah diserang oleh Iran di Teluk sejak perang dimulai pada 28 Februari. 

    Perusahaan asuransi Barat bersikeras bahwa pertanggungan tersedia untuk kapal yang melintasi jalur air tersebut, tetapi hanya sedikit pemilik dan operator kapal di Barat yang bersedia membayar premi yang sangat tinggi atau mempertaruhkan awak kapal mereka. 

    Mitra-mitra AS di Teluk Arab sebagian besar terhalang untuk mengirimkan minyak dan gas mereka melalui jalur air tersebut. 

    Baca juga: Kekurangan Bahan Bakar, Vietnam Akan Kurangi Penerbangan Domestik

    Namun, Iran terus mengekspor antara satu juta dan 1,5 juta barrel minyak per hari (bpd) melalui jalur tersebut.

    Iran telah menikmati kekuasaan yang didapat dari kendali atas Selat Hormuz. 

    Negara-negara termasuk India, Pakistan, Irak, Malaysia, dan China telah terlibat dalam pembicaraan dengan Teheran mengenai akses ke jalur laut penting tersebut, demikian dilaporkan Lloyd's List, sebuah layanan berita dan analisis maritim, pekan lalu. 

    Baca juga: Mulai Ketar-ketir, Negara Teluk Kini Desak AS Ratakan Pertahanan Iran

    Data pelacakan kapal menunjukkan, Iran memandu kapal-kapal melalui selat di dekat garis pantainya, sebuah langkah yang menurut para ahli keamanan maritim tampaknya merupakan bentuk pengawasan jalur air tersebut.

    Lloyd's List menyatakan, Iran secara efektif telah membangun "koridor pelayaran aman de facto" melalui perairan teritorialnya.

    Dalam satu kasus, mereka berhasil mendapatkan pembayaran sebesar 2 juta dollar AS untuk mengizinkan sebuah kapal melintasi jalur air tersebut. 

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS