0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Klaim Negara-Negara Arab Mau Gabung Perang AS-Israel Lawan Iran, Situasi Timteng Makin Memanas - Tribunnews

    7 min read

     

    Trump Klaim Negara-Negara Arab Mau Gabung Perang AS-Israel Lawan Iran, Situasi Timteng Makin Memanas

    Trump klaim negara Arab siap gabung perang lawan Iran. Ancaman penutupan Selat Hormuz bikin Timur Tengah kian panas dan dunia waswas krisis energi.

    Ringkasan Berita:
    • Trump mengklaim sejumlah negara Arab yang semula enggan kini siap berperan aktif melawan Iran setelah serangan rudal dan drone Teheran menyerang ke negara-negara Teluk.
    • Meski belum ada deklarasi perang resmi, dukungan disebut mengarah pada keterlibatan lebih luas, memicu kekhawatiran konflik AS–Israel vs Iran berubah jadi perang regional.
    • Ketegangan kian meningkat setelah Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur vital energi dunia, memicu gangguan pelayaran dan lonjakan harga minyak global.

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa sejumlah negara Arab yang sebelumnya enggan terlibat dalam kampanye militer melawan Iran kini mulai mendorong peran yang lebih aktif.

    Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan CNN International pada Senin (2/3/2026).

    Menurut Trump, pada awalnya negara-negara Arab hanya akan “sedikit terlibat” dalam konflik. Namun sikap itu berubah setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Bahrain, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

    Iran berdalih serangan tersebut ditargetkan ke tujuh negara Arab tersebut karena karena negara-negara tersebut menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat atau memiliki kerja sama pertahanan erat dengan Washington. .

    Dalam situasi konflik, Teheran memandang mereka sebagai bagian dari jaringan pendukung lawan. Serangan itu dinilai sebagai bentuk balasan sekaligus peringatan agar tidak terlibat lebih jauh dalam operasi militer terhadap Iran.

    Namun Trump menggambarkan keputusan Iran menyerang negara-negara tersebut sebagai kejutan terbesar dalam kampanye militer yang melanggar kedaulatan negara, dan menjadi eskalasi berbahaya bagi stabilitas kawasan.

    Tujuh Negara Keluarkan Pernyataan Bersama

    Tindakan inilah yang kemudian memicu kemarahan negara-negara Arab yang sebelumnya hanya memantau situasi, kini menyatakan ikut berperang langsung dalam konflik terbuka antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran.

    Mereka juga menggambarkan langkah Iran sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam stabilitas regional dan kedaulatan, serta wilayah masing-masing.

    “Iran menembaki hotel dan gedung apartemen. Itu membuat negara-negara tersebut marah. Mereka sebenarnya hanya menonton, tetapi kini situasinya berubah,” ujar Trump.

    Mengutip dari NDTV  hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa negara-negara Arab tersebut menyatakan ikut berperang secara langsung dalam konflik terbuka antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

    Keterlibatan yang ada sejauh ini lebih bersifat dukungan logistik, penyediaan pangkalan militer, atau kerja sama pertahanan.

    Situasi ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas Timur Tengah, keamanan pasokan energi, serta kemungkinan meluasnya perang yang melibatkan lebih banyak negara.

    Baca juga: Perang Dunia 3? Memahami Proksi dan Sekutu dalam Perang Timur Tengah Israel-Iran yang Dipimpin AS

    Dukungan Arab Bisa Picu Ledakan Geopolitik

    Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemungkinan keterlibatan aktif sejumlah negara Arab dalam konflik melawan Iran dinilai pengamat sebagai sinyal pergeseran besar dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.

    Apabila dukungan itu berkembang menjadi operasi militer bersama dengan Washington dan Tel Aviv, konflik yang awalnya terbatas pada serangan terarah berpotensi melebar menjadi konfrontasi regional.

    Keterlibatan lebih banyak negara akan memperluas medan tempur, meningkatkan risiko salah perhitungan militer, serta membuka kemungkinan aksi balasan lintas batas yang lebih luas.

    Pengamat juga memperingatkan bahwa eskalasi semacam itu dapat menyeret kekuatan regional lain untuk mengambil posisi, sehingga konflik tidak lagi bersifat bilateral, melainkan menjadi pertarungan blok yang lebih besar.

    Situasi ini dinilai berisiko tinggi bagi stabilitas jangka panjang Timur Tengah dan dapat memicu dampak geopolitik yang melampaui kawasan.

    Iran Tutup Selat Hormuz

    Terpisah, pasca ASd dan Israel menyerang wilayah -wilayah strategis Iran, pejabat Tehran memberi sinyal kuat akan menggunakan senjata strategis ekonomi dengan mengancam menutup jalur pelayaran energi paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz.

    Hal itu turut di konfirmasi pejabat Uni Eropa yang mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz telah menerima transmisi radio frekuensi sangat tinggi (VHF) dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

    Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz”.

    Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz”.

    Tak lama setelah peringatan itu, sedikitnya tiga kapal dilaporkan diserang di sekitar wilayah selat. Dua kapal disebut terkena serangan langsung, sementara satu kapal lainnya nyaris terdampak ledakan proyektil tak dikenal.

    Senada dengan pejabat Uni Eropa, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) turut mengkonfirmasi adanya “aktivitas militer signifikan” di wilayah tersebut, termasuk insiden dua mil laut di utara Kumzar, Oman.

    Akibatnya, aktivitas pelayaran internasional nyaris terhenti. Data platform pelacakan kapal Kpler mencatat sekitar 150 kapal tanker memilih menjatuhkan jangkar di luar perairan Selat Hormuz. 

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS