0
News
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Ingin Damai dengan Iran tapi Teheran Pasang Syarat Berat, Israel Yakin Tak Tercapai - Tribunnews

    7 min read

      

    Trump Ingin Damai dengan Iran tapi Teheran Pasang Syarat Berat, Israel Yakin Tak Tercapai

    Presiden AS, Donald Trump dilaporkan ingin menjalin kesepakatan damai dengan Iran. Namun, Iran malah memasang syarat berat.

    Ringkasan Berita:
    • Presiden AS, Donald Trump dilaporkan telah memberi sinyal untuk menjalin kesepakatan damai dengan Iran.
    • Namun, sinyal Trump ini justru ditanggapi dengan keras oleh pihak Iran.
    • Iran dikabarkan telah memperketat posisi tawar mereka dalam negosiasi, seiring dengan meningkatnya dominasi IRGC dalam menentukan kebijakan luar negeri negara tersebut.

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dilaporkan tengah berupaya keras untuk menjalin kesepakatan damai dengan Iran.

    Upaya perdamaian ini guna mengakhiri konflik panas di kawasan Timur Tengah.

    Setelah kabar keinginan Trump untuk damai dengan Iran ini muncul, sikap keras malah ditunjukkan oleh Teheran.

    Iran dikabarkan telah memperketat posisi tawar mereka dalam negosiasi, seiring dengan meningkatnya dominasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam menentukan kebijakan luar negeri negara tersebut.

    Menurut laporan yang dihimpun dari sumber-sumber senior di TeheranIran tidak akan sekadar meminta gencatan senjata dalam pembicaraan mendatang dengan AS.

    Mereka kini menyusun daftar tuntutan "satu paket" yang diperkirakan bakal membuat pemerintahan Donald Trump meradang.

    Menurut laporan Reuters, ada beberapa poin krusial yang menjadi harga mati bagi Iran.

    Di antaranya adalah jaminan keamanan mutlak, ganti rugi perang, kendali Selat Hormuz, dan soal program rudal balistik.

    Mengerasnya sikap ini disebut-sebut sebagai refleksi dari pergeseran peta politik internal di Iran.

    Pasca-serangan yang dilancarkan AS dan Israel bulan lalu, pengaruh faksi moderat semakin terpinggirkan oleh pengaruh IRGC yang kini memegang kendali penuh atas arah meja perundingan.

    Mendengar permintaan Iran tersebut, Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan bahwa situasi diplomatik saat ini masih sangat cair dan terus berkembang.

    Baca juga: Pengamat Nilai AS Gegabah Perang Lawan Iran, Terlena dengan Kesuksesan di Venezuela

    Leavitt meminta publik untuk tidak menelan mentah-mentah spekulasi yang beredar sebelum ada pernyataan resmi.

    Ia menekankan bahwa diplomasi tingkat tinggi seperti ini membutuhkan kerahasiaan dan tidak bisa dilakukan secara terbuka melalui media massa.

    "Ini adalah diskusi diplomatik yang sangat sensitif. Amerika Serikat tidak akan melakukan negosiasi melalui pers," tegas Leavitt dalam keterangannya, mengutip Al Arabiya.

    "Situasinya sangat dinamis. Spekulasi mengenai pertemuan jangan dianggap final sampai Gedung Putih mengumumkannya secara resmi," lanjutnya.

    Seorang pejabat Pakistan telah mengonfirmasi kemungkinan adanya pembicaraan langsung di wilayah mereka guna mencari solusi atas konflik yang tengah memanas.

    Jika terealisasi, pertemuan ini diharapkan mampu meredam ketegangan di Timur Tengah yang telah melibatkan intervensi militer dalam beberapa bulan terakhir.

    Israel Sangsi Perdamaian Bisa Tercapai

    Di sisi lain, sejumlah pejabat senior Israel mengungkapkan keraguan mereka terhadap prospek perundingan tersebut.

    Menurut mereka, sangat kecil kemungkinan Teheran mau tunduk pada syarat-syarat yang diajukan oleh Washington.

    "Sangat diragukan Iran akan menyetujui tuntutan Amerika dalam negosiasi baru ini," ujar salah satu pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya.

    Baca juga: Presiden AS Klaim Negosiasi dengan Iran, Pakar: Trump Sedang Terjepit

    Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi bahwa Trump memang melihat ada celah untuk bernegosiasi.

    Strateginya adalah dengan memanfaatkan tekanan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan militer AS yang selama ini telah mencapai hasil signifikan di medan tempur.

    "Trump percaya kita bisa memanfaatkan pencapaian besar militer untuk mencapai tujuan perang lewat jalur diplomasi, demi menjaga kepentingan vital kita," kata Netanyahu.

    (Tribunnews.com/Whiesa)


    Komentar
    Additional JS