Thai Airways Bakal Menaikkan Harga Tiket Pesawat Buntut Perang Iran vs Israel dan AS - Liputan6
Thai Airways Bakal Menaikkan Harga Tiket Pesawat Buntut Perang Iran vs Israel dan AS
Kenaikan harga tiket pesawat Thai Airways didukung tingginya permintaan penerbangan menghindari wilayah udara Timur Tengah buntut perang Iran vs Israel dan AS.
- Mengapa Thai Airways menaikkan harga tiket pesawat?
- Apa penyebab utama lonjakan biaya bahan bakar pesawat?
- Maskapai penerbangan mana saja yang juga menaikkan tarif selain Thai Airways?
Liputan6.com, Jakarta - Thai Airways International akan menaikkan harga tiket pesawat sebesar 10 persen hingga 15 persen untuk mengimbangi lonjakan biaya bahan bakar. Maskapai penerbangan ini bergulat dengan permintaan "luar biasa" dari pelanggan yang mengalihkan rencana perjalanan mereka dari Timur Tengah ke Eropa, kata kepala keuangan Cherdchom Therdthirasak.
Permintaan ini merupakan salah satu dampak perang Iran vs Israel dan AS. Melansir The Straits Times, Rabu, 11 Maret 2026, sebagian besar penerbangan maskapai tersebut ke Eropa bulan ini mencapai sekitar 90 persen kapasitas tempat duduk, sebut Cherdchom.
Thai Airways masih memiliki ruang untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar lebih lanjut jika harga minyak terus naik, katanya. "Penumpang yang berencana bepergian sebaiknya segera memesan tiket mereka sebelum harga naik lebih tinggi," katanya.
"Selama dua minggu ke depan, tiket akan sangat terbatas di seluruh rute Eropa dan tujuan lainnya," ia menambahkan. Maskapai penerbangan di seluruh dunia berada di bawah tekanan yang meningkat akibat harga bahan bakar pesawat yang lebih tinggi, salah satu biaya operasional terbesar industri ini.
Pasalnya, harga minyak mentah tetap berfluktuasi di tengah konflik Timur Tengah, yang mengancam pasokan. Maskapai penerbangan merespons dengan menaikkan tarif dan biaya tambahan bahan bakar, menguji kesediaan para pelancong untuk menanggung harga tiket yang lebih tinggi meski permintaan perjalanan internasional tetap kuat.
"Terlalu dini untuk memberi perkiraan permintaan penumpang pada kuartal kedua karena situasi yang tidak stabil di Timur Tengah," ujar Cherdchom.
Tidak Hanya Thai Airways
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3141274/original/009926200_1591063872-000_1RV326.jpg)
Tidak hanya Thai Airways. Menurut Gulf News, maskapai penerbangan di seluruh Asia tengah bersiap menaikkan harga tiket dan menambahkan biaya tambahan bahan bakar setelah fluktuasi tajam di pasar minyak global mendorong biaya bahan bakar jet lebih tinggi dan mengganggu rute penerbangan utama.
Data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan lebih dari 43.000 penerbangan yang dijadwalkan beroperasi ke dan dari Timur Tengah dibatalkan antara 28 Februari dan 10 Maret 2026, yang menyoroti skala gangguan yang dihadapi maskapai penerbangan.
Bahan bakar merupakan salah satu biaya terbesar bagi maskapai penerbangan dan telah melonjak dalam beberapa minggu terakhir seiring kenaikan harga minyak mentah. Perkiraan industri menunjukkan bahwa bahan bakar turbin penerbangan dapat mencapai sekitar 40 persen dari biaya operasional maskapai penerbangan.
Menghindari Wilayah Udara Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5517113/original/092327000_1772407540-2.jpg)
Karena itu, kenaikan harga bahan bakar telah memaksa banyak maskapai penerbangan menyesuaikan harga guna mempertahankan profitabilitas. Maskapai penerbangan juga menghadapi peningkatan permintaan pada rute yang menghindari wilayah udara Timur Tengah, khususnya penerbangan antara Asia dan Eropa, yang semakin menambah tekanan pada harga tiket.
Beberapa maskapai penerbangan besar telah mengonfirmasi kenaikan tarif atau biaya tambahan. AirAsia mengatakan telah menaikkan tarif dan menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar sambil memantau kondisi pasar.
Air India dan anak perusahaannya, Air India Express, mengumumkan pengenalan bertahap biaya tambahan bahan bakar mulai 12 Maret 2026 untuk penerbangan domestik dan internasional. Penerbangan ke Asia Tenggara akan dikenakan biaya tambahan hingga 60 dolar AS (sekitar Rp 1 juta), sedangkan rute ke Afrika akan meningkat 90 dolar AS (sekitar Rp 1,5 juta).
Kenaikan Harga Tiket Pesawat
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3350286/original/027543900_1610708961-pesawat4.jpg)
Rute jarak jauh akan mengalami penyesuaian terbesar mulai 18 Maret 2026, dengan biaya tambahan naik menjadi 125 dolar AS (sekitar Rp 2,1 juta) untuk Eropa, serta 200 dolar AS (sekitar Rp 3,4 juta) untuk Amerika Utara dan Australia.
Hong Kong Airlines juga menaikkan biaya tambahan bahan bakar di berbagai rute, termasuk kenaikan 35 persen pada penerbangan ke destinasi, seperti Maladewa, Nepal, dan Bangladesh. Qantas mengatakan akan menaikkan tarif internasional sekitar lima persen secara rata-rata setelah harga bahan bakar pesawat melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Penerbangan pada rute yang menghubungkan Australia dan Eropa beroperasi mendekati kapasitas penuh bulan ini, dengan tingkat hunian kursi di atas 90 persen, jauh lebih tinggi daripada tingkat musiman biasanya.