0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Serangan Presisi Iran Hancurkan E-3G Sentry, Pesawat Komando dan Kendali Udara Amerika Serikat - Tribunnews

    10 min read

     

    Serangan Presisi Iran Hancurkan E-3G Sentry, Pesawat Komando dan Kendali Udara Amerika Serikat

    Sebuah pesawat peringatan dini milik Angkatan Udara AS, E-3G Sentry, dilaporkan menjadi target langsung serangan rudal balistik dan drone Iran.


    Ringkasan Berita:
    • Sebuah pesawat peringatan dini milik Angkatan Udara Amerika Serikat, E-3G Sentry, dilaporkan hancur setelah serangan menghantam area parkir di pangkalan udara.
    • Serangan itu terjadi di Prince Sultan Air Base, salah satu instalasi militer penting Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pola kerusakan menunjukkan bahwa serangan bukan bersifat acak, melainkan terarah dan terencana dengan tingkat presisi tinggi.

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Serangan presisi yang dilakukan Iran kembali mengguncang eskalasi konflik di Timur Tengah. 

    Sebuah pesawat peringatan dini milik Angkatan Udara Amerika Serikat, E-3G Sentry, dilaporkan menjadi target langsung serangan rudal balistik dan drone di Arab Saudi. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas perang antara Teheran dan Amerika-Israel.

    Kerusakan total menimpa pesawat dengan nomor seri 81-0005 yang dioperasikan oleh Wing Kontrol Udara ke-552 USAF. Pesawat yang berbasis di Tinker Air Force Base tersebut dilaporkan hancur setelah serangan menghantam area parkir di pangkalan udara.

    Serangan itu terjadi di Prince Sultan Air Base, salah satu instalasi militer penting Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pola kerusakan menunjukkan bahwa serangan bukan bersifat acak, melainkan terarah dan terencana dengan tingkat presisi tinggi.

    Bagian paling vital dari pesawat menjadi sasaran utama. Hantaman diarahkan ke bagian belakang pesawat, tepat di lokasi kubah radar berputar atau rotodome yang menjadi ciri khas E-3G Sentry. Hancurnya bagian ini praktis melumpuhkan fungsi utama pesawat.

    Kerusakan pada rotodome berarti sistem radar pengawasan AN/APY-2 yang berada di dalamnya ikut lumpuh. Padahal, sistem ini merupakan “mata” dari pesawat yang berfungsi mendeteksi, melacak, dan mengidentifikasi target di udara maupun permukaan secara real-time.

    Kenapa E-3G Sentry Penting?

    Dalam konteks perang Iran, keberadaan E-3G Sentry menjadi sangat krusial bagi operasi militer Amerika Serikat.

    Pesawat ini bukan sekadar platform pengawasan, melainkan pusat komando terbang yang mengoordinasikan seluruh operasi udara.

    E-3G mampu mengarahkan jet tempur, mengatur pola serangan, hingga mengelola pergerakan pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara.

    Tanpa pesawat ini, koordinasi antar unit tempur berpotensi menjadi lebih lambat dan terfragmentasi.

    Dalam perang modern yang sangat bergantung pada kecepatan informasi, kehilangan satu unit E-3G dapat berdampak besar.

    PESAWAT PENGINTAI - Pesawat pengintai AWACS E-3 Sentry milik AU Amerika Serikat. Pesawat ini juga dioperasikan AU Perancis, dan dikabarkan masuk zona udara Krimea dengan pengawalan dua jet tempur Mirage 2000D.
    PESAWAT PENGINTAI - Pesawat pengintai AWACS E-3 Sentry milik AU Amerika Serikat. (U.S. Air Force photo/Staff Sgt. Clayton Cupi)

    Pesawat ini berfungsi sebagai penghubung antara berbagai elemen tempur, mulai dari udara, laut, hingga darat.

    Selain itu, E-3G juga memainkan peran penting dalam menjaga superioritas udara.

    Dengan kemampuan radar 360 derajat, pesawat ini memungkinkan komandan militer mendapatkan gambaran situasi tempur secara menyeluruh dalam waktu singkat.

    Kehilangan atau kerusakan E-3G dapat mempersempit cakupan pengawasan, mengurangi efektivitas pertahanan udara, serta meningkatkan risiko kebocoran serangan musuh yang tidak terdeteksi lebih awal.

    Pangkalan Udara Prince Sultan

    Prince Sultan Air Base sendiri merupakan pangkalan udara strategis yang terletak di wilayah Al Kharj, Arab Saudi.

    Pangkalan ini menjadi salah satu pusat operasi utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

    Pangkalan tersebut menampung berbagai aset penting, mulai dari pesawat tempur, pesawat tanker, hingga sistem komando dan kontrol udara.

    Keberadaannya sangat vital dalam mendukung operasi militer di kawasan Teluk, termasuk dalam konflik dengan Iran.

    Serangan terhadap pangkalan ini bukanlah yang pertama. Dalam beberapa pekan terakhir, fasilitas tersebut berulang kali menjadi target, menunjukkan adanya pola kampanye militer yang terencana dari pihak Iran.

    Analisis citra satelit menunjukkan bahwa serangan kali ini kemungkinan besar memang menargetkan aset bernilai tinggi seperti E-3G, bukan sekadar infrastruktur atau pesawat pendukung seperti tanker.

    AS Bungkam

    Dikutip dari airandspaceforces.com, seorang juru bicara Komando Pusat AS menolak berkomentar terkait berita hancurnya sejumlah pesawat mereka.

    Sebelumnya, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan pada 25 Maret bahwa peluncuran rudal dan drone Iran telah menurun lebih dari 90 persen sejak awal konflik pada 28 Februari.

    “Kami telah merusak atau menghancurkan lebih dari dua pertiga fasilitas produksi rudal, drone, dan angkatan laut serta galangan kapal Iran,” kata Cooper dalam sebuah pernyataan video. “Kita sedang berupaya untuk sepenuhnya melenyapkan aparatus manufaktur militer Iran yang lebih luas.”

    Faktanya, Iran tetap mampu meluncurkan rudal seperti yang ditunjukkan oleh episode ini dan terus menyerang pangkalan dan target utama AS di seluruh wilayah meskipun asetnya semakin berkurang.

    Perubahan strategi

    Terlepas dari bungkamnya AS, strategi Iran telah mengalami perubahan signifikan. Dari yang sebelumnya fokus pada serangan balasan umum, kini beralih ke penargetan sistem komando dan kontrol yang menjadi tulang punggung operasi militer Amerika.

    Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang. Dengan melumpuhkan pusat koordinasi udara, Iran tidak perlu menghancurkan banyak aset untuk menciptakan dampak besar di medan tempur.

    Selain itu, kombinasi penggunaan rudal balistik dan drone menunjukkan upaya untuk menembus sistem pertahanan berlapis. Serangan simultan ini dirancang untuk membebani sistem pertahanan udara dan meningkatkan peluang mengenai target utama.

    Dampak strategis dari serangan ini tidak hanya dirasakan di lokasi kejadian, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseluruhan operasi militer Amerika Serikat di kawasan. Kehilangan satu simpul komando dapat mengganggu ritme operasi dan memperlambat respons terhadap ancaman.

    Ke depan, insiden ini bisa memaksa Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengubah strategi penempatan aset, meningkatkan perlindungan pangkalan, serta mengurangi konsentrasi pesawat bernilai tinggi di satu lokasi.


    Komentar
    Additional JS