0
News
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Saat Dunia Menolak, Trump Tetap Maju ke Jurang Iran - Republika

    9 min read

     

    Saat Dunia Menolak, Trump Tetap Maju ke Jurang Iran

    Saat dunia menolak, Trump tetap maju ke jurang Iran. Apa yang terjadi berikutnya?

    L

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit Timur Tengah kembali memerah, bukan oleh senja, melainkan oleh bayang-bayang keputusan yang belum diambil sepenuhnya. Di Washington, ruang-ruang kekuasaan dipenuhi kalkulasi, sementara di Teheran, kewaspadaan berubah menjadi kesiagaan. Dunia menahan napas, menunggu satu langkah yang bisa mengubah peta geopolitik, serangan darat Amerika Serikat ke Iran.

    Desakan kepada Donald Trump untuk melancarkan operasi darat kian menguat, terutama setelah bombardemen udara dan serangan rudal belum juga melumpuhkan militer dan rezim Iran. Namun, di balik dorongan itu, tersimpan dilema besar yang tak mudah diselesaikan.

    Sponsored

    Sejatinya, opsi serangan darat bukanlah keputusan mendadak. Sejak awal, Amerika Serikat telah mempertimbangkan skenario klasik, merangkul kelompok minoritas untuk membuka jalan invasi, sebagaimana dilakukan di Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Saat itu, aliansi dengan Tajik, Hazara, Uzbek, dan Kurdi menjadi pintu masuk kekuatan militer AS.

    Namun, skenario itu kini kandas. Kelompok Kurdi menolak kembali menjadi sekutu, trauma oleh pengalaman lama ketika mereka merasa ditinggalkan setelah membantu AS melawan ISIS dan rezim Bashar al-Assad. Di sisi lain, opsi merangkul kelompok Baluch juga menemui jalan buntu akibat penolakan Pakistan. Strategi “divide et impera” yang selama ini menjadi buku teks intervensi Amerika, kali ini tak lagi menemukan pijakan.

    Dalam kebuntuan itu, Trump beralih pada opsi yang lebih berisiko, operasi darat terbatas. Sekitar 10.000 personel dikerahkan, terdiri dari Unit Ekspedisi Marinir, pasukan lintas udara Divisi ke-82, hingga unit elit seperti Baret Hijau dan Delta Force. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan invasi Irak 2003 yang melibatkan 150.000 tentara.

    Skalanya yang terbatas memberi isyarat bahwa tujuan operasi bukan pendudukan penuh, melainkan serangan presisi terhadap titik-titik strategis. Pulau Kharg yang menjadi jantung ekspor minyak Iran, Pulau Qeshm yang diduga pusat pengembangan rudal, hingga Pulau Larak yang mengunci Selat Hormuz menjadi target utama. Sementara itu, pasukan lintas udara diproyeksikan menyusup jauh ke dalam wilayah Iran untuk menghantam fasilitas nuklir di Isfahan.

    Namun, Iran bukan Irak, dan bukan pula Afghanistan.

    Teheran telah lama membaca pola ini. Mobilisasi hingga satu juta tentara menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan menghadapi konflik ini secara defensif semata. Ancaman perluasan medan perang pun dilontarkan, dari Yaman hingga Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, jalur vital perdagangan global yang menghubungkan Asia dan Eropa.

     


    Komentar
    Additional JS