Presiden Ukraina Siap Dukung Negara Arab Lawan Drone Shahed-136 Iran - Republika
Presiden Ukraina Siap Dukung Negara Arab Lawan Drone Shahed-136 Iran
REPUBLIKA.CO.ID, KYIV -- Presiden Ukraina Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy mengatakan, telah memerintahkan pemerintah Ukraina untuk mengembangkan opsi guna mendukung negara-negara Teluk yang menghadapi serangan drone dan rudal Iran. Pengalaman itu akan dibagikannya, karena Ukraina sudah bertahan dari serangan drone Rusia yang bersumber dari Iran.
"Militer kita memiliki kemampuan yang diperlukan," kata Zelenskyy di Kyiv, Rabu (4/3/2026), dikutip dari Kyiv Independent. "Para ahli Ukraina akan bekerja di lokasi, dan tim sudah melakukan negosiasi. Kami siap membantu melindungi nyawa, melindungi warga sipil."
Tawaran Ukraina muncul ketika negara-negara di kawasan Teluk melaporkan serangan skala besar yang melibatkan drone serang tipe Shahed-136. Drone itu menggunakan sistem yang sama yang telah digunakan Rusia, yaitu Geran-2 yang secara luas digunakan menyasar Ukraina sejak 2022.
Zelenskyy mengaku, telah berbicara dengan para pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Yordania, dan Bahrain, dan sedang mempersiapkan pembicaraan dengan kepemimpinan Kuwait. Semua negara itu menjadi lokasi serangan Iran, yang mengincar militer Amerika Serikat (AS).
"Semua negara tersebut menghadapi ancaman serius, dan mereka membicarakannya secara terbuka: drone serang Iran. 'Shahed' yang sama yang menyerang kota dan desa kita, infrastruktur Ukraina kita," katanya.
Zelensky menugaskan Menteri Luar Negeri (Menlu) Andrii Sybiha, bersama dengan badan intelijen, Menteri Pertahanan (Menhan) Mykhailo Fedorov, dan komando militer, untuk menyiapkan proposal yang akan mendukung para mitra. Dia memastikan bakal mendukung negara-negara Arab melawan Iran.
"Saya telah menugaskan tim kami untuk menyajikan cara-cara untuk mendukung negara-negara ini dan memberikan bantuan dengan cara yang tidak membahayakan pertahanan kita sendiri di Ukraina," ucap Zelenskyy.
Halaman 2 / 2
Eskalasi di kawasan Teluk dimulai pada 28 Februari 2025, ketika Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terkoordinasi yang menargetkan infrastruktur militer dan kepemimpinan Iran. Teheran selaku sekutu utama Moskow yang telah memasok drone dan senjata lain untuk perang Rusia, sejak itu membalas Israel dan beberapa negara Teluk.
Sistem pertahanan udara NATO juga mencegat rudal balistik yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah udara Turki pada 4 Maret 2026, menandai insiden pertama semacam itu. UEA melaporkan mencegat sekitar 800 proyektil Iran, sementara setidaknya sembilan negara telah melaporkan menjadi sasaran.
Iran telah meluncurkan lebih dari 800 rudal dan lebih dari 1.400 drone serang dalam beberapa hari terakhir, menurut angka resmi. Serangan-serangan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran atas stabilitas regional dan pasar energi global, karena drone dan rudal Iran mengancam jalur pelayaran dan berkontribusi pada volatilitas harga minyak dan gas.