0
News
    Home Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Perang Iran Tusuk Trump dari Belakang, Bisa Lengser di Kursi Presiden? - Viva

    5 min read

      

    Perang Iran Tusuk Trump dari Belakang, Bisa Lengser di Kursi Presiden?

    Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai menghadapi tekanan politik domestik setelah konflik dengan Iran memicu gejolak ekonomi global. Perang yang melibatkan AS dan Israel itu dinilai berpotensi menjadi bumerang bagi Trump dan Partai Republik menjelang Pemilu Sela di AS.

    Kekhawatiran tersebut muncul karena konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi. Harga minyak mentah dunia bahkan sempat menembus US$100 (sekitar Rp1,69 juta) per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, seiring gangguan pasokan akibat perang dan terganggunya jalur perdagangan energi global.

    Profesor manajemen politik dari George Washington University, Todd Belt, mengatakan kebijakan luar negeri biasanya tidak terlalu memengaruhi pemilihan paruh waktu (pemilu sela) di AS. Namun dampaknya bisa berbeda jika konflik tersebut langsung memukul kondisi ekonomi masyarakat.


    "Biasanya kebijakan luar negeri tidak memainkan peran besar dalam pemilihan paruh waktu, kecuali ada hubungan langsung dengan bagaimana hal itu memperburuk kehidupan masyarakat," kata Belt, seperti dikutip AFP, Selasa (10/3/2026).

    Menurut Belt, kenaikan harga energi dapat menjadi faktor penting karena berpotensi memicu kenaikan biaya hidup warga AS. Jika pemilih melihat harga barang meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan mereka, kondisi itu dapat memicu sentimen negatif terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.

    Situasi ini berpotensi menjadi masalah bagi Trump dan Partai Republik yang sebelumnya meraih dukungan besar dalam pemilu karena ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi. Kini, lonjakan harga energi justru berisiko menjadi isu yang dimanfaatkan lawan politik menjelang pemilu.

    Pemilu Sela dan Lengsernya Presiden

    Sebenarnya Pemilu Sela di Amerika adalah pemilihan umum yang diadakan di tengah masa jabatan presiden. Pemilu sela sering dianggap sebagai "referendum" terhadap kinerja presiden yang sedang menjabat, misalnya terhadap kebijakan presiden seperti Donald Trump atau presiden lainnya.

    Dalam banyak kasus di AS, partai presiden sering kehilangan kursi di Kongres saat pemilu sela karena pemilih ingin menyeimbangkan kekuasaan. Walaupun tidak bisa menjatuhkan presiden, pemilu sela bisa melemahkan kekuasaan presiden jika partainya kalah di Kongres.

    Kemenangan oposisi Pemilu Sela dapat membuka jalan bagi proses impeachment (pemakzulan). Tapi tetapi presiden baru benar-benar lengser jika Senat memutuskan bersalah dengan mayoritas dua pertiga suara.

    Di AS sendiri Pemilu Sela akan berlangsung 6 November. Dalam beberapa survei terbaru setelah eskalasi konflik dengan Iran, tingkat persetujuan Trump turun ke titik terendah menjadi 38% dengan 59% menolak, merujuk YouGov dan The Economist.

    Trump Ngeyel

    Sementara itu, Trump tetap membela kebijakan militernya terhadap Iran. Dalam unggahan di media sosialnya, ia menyebut kenaikan harga minyak sebagai "harga yang sangat kecil untuk dibayar" demi keamanan global dan menghentikan ancaman nuklir Iran.

    Namun, sejumlah pengamat menilai konflik tersebut dapat memperburuk sentimen publik jika harga energi terus naik. Apalagi, kenaikan harga bahan bakar merupakan isu sensitif bagi pemilih AS, terutama menjelang pemilihan paruh waktu yang akan menentukan keseimbangan kekuatan politik di Kongres.

    Karena itu, sejumlah analis menilai langkah paling aman bagi pemerintahan Trump adalah mencari jalan keluar diplomatik dari konflik tersebut. Jika perang berlarut-larut dan harga energi tetap tinggi, konflik Iran berpotensi berubah dari strategi geopolitik menjadi risiko politik besar bagi Trump di dalam negeri.

    Mengutip CNN International, seorang mantan pejabat senior pemerintahan mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini bisa memaksa Gedung Putih meninjau ulang skala operasi militer di kawasan, Senin. "Jika situasi ini terus berlangsung atau memburuk, akan ada kebutuhan untuk mengevaluasi kembali operasi yang sedang berjalan," ujarnya.

    Dalam pengumuman terbaru mengutip AFP, Trump menyatakan perang melawan Iran akan segera berakhir dan memprediksi harga minyak dunia akan turun dalam waktu dekat. Ia mengatakan "kita mencapai kemajuan besar menuju penyelesaian tujuan militer kita".




    (sef/sef)

    Komentar
    Additional JS