Misteri Pemimpin Iran, IRGC Disebut Ambil Alih Kekuasaan - TIMEXKUPANG
KUPANG, TIMEXKUPANG.FAJAR.CO.ID - Di tengah situasi perang yang kian memanas dan absennya pemimpin tertinggi baru, arah kepemimpinan Iran kini menjadi sorotan. Laporan terbaru menyebutkan bahwa kendali negara tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemimpin tertinggi, melainkan mulai bergeser ke lingkaran militer, khususnya Garda Revolusi Iran (IRGC).
Koresponden Alhurra di Irak, mengutip sumber oposisi Iran, melaporkan bahwa mantan komandan IRGC, Mohsen Rezaei, saat ini memimpin dewan perang beranggotakan tiga orang.
Dewan ini disebut mengatur jalannya pemerintahan sekaligus strategi militer, sementara Mojtaba Khamenei belum terlihat di hadapan publik.
Dalam sistem politik Iran, posisi pemimpin tertinggi memiliki kewenangan luas yang mencakup urusan politik, militer, hingga ekonomi. Jabatan ini juga memegang otoritas keagamaan berdasarkan doktrin Velayat-e Faqih yang diperkenalkan oleh Ruhollah Khomeini pascarevolusi 1979.
Namun, dinamika terbaru menunjukkan adanya perubahan signifikan setelah wafatnya Ali Khamenei dan naiknya Mojtaba sebagai penerus. Ketidakmunculan Mojtaba di tengah konflik bahkan memicu spekulasi terkait kondisinya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan belum ada kepastian mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei. Ia mengungkapkan bahwa belum ada pihak yang melihat langsung kondisi pemimpin baru Iran tersebut, di tengah laporan bahwa ia mengalami luka akibat serangan udara.
Dalam situasi tersebut, sumber oposisi menyebut Iran kini dikendalikan oleh dewan tiga orang yang terdiri dari Mohsen Rezaei, komandan IRGC Ahmad Vahidi, serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Komposisi ini mencerminkan dominasi kelompok garis keras dalam struktur kekuasaan.
Dewan tersebut berfokus menjaga stabilitas internal dengan memperketat keamanan, termasuk melalui peran pasukan Basij yang melakukan penangkapan terhadap warga yang dicurigai memiliki hubungan dengan pihak asing.
Selain itu, mereka juga mengaktifkan jaringan militer eksternal seperti Pasukan Quds serta kelompok sekutu di kawasan untuk melancarkan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk.
Kepemimpinan dewan ini menggantikan posisi Ali Larijani yang sebelumnya memimpin sebelum tewas dalam serangan udara di Teheran.
Sejumlah analis menilai bahwa dalam kondisi perang, pengaruh IRGC semakin dominan dan berpotensi menggeser peran otoritas sipil maupun keagamaan. Meski demikian, ada pula pandangan bahwa sistem Iran akan tetap mempertahankan keseimbangan antara pemimpin tertinggi dan kekuatan militer, meskipun dengan dominasi yang semakin kuat dari institusi keamanan.
Perkembangan ini menandai fase baru dalam peta kekuasaan Iran, di mana peran militer kian menguat di tengah tekanan konflik dan ketidakpastian kepemimpinan nasional.(*)