Minyak Dunia Tembus 100 Dolar! Iran Sebut Klaim Trump Hoaks, Ancaman Energi Global Makin Ganas - Tribunnews
Minyak Dunia Tembus 100 Dolar! Iran Sebut Klaim Trump Hoaks, Ancaman Energi Global Makin Ganas
Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dan menembus angka 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya
Minyak Dunia Tembus 100 Dolar! Iran Sebut Klaim Trump Hoaks, Ancaman Energi Global Makin Ganas
SERAMBINEWS.COM-Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dan menembus angka 100 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dikutip Serambinews melalui GB News (24/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent pada Selasa (24/3/2026) naik sekitar empat persen dan mencapai 103,94 dolar AS per barel dalam perdagangan di kawasan Asia.
Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak sempat turun lebih dari 10 persen.
Saat itu, pasar bereaksi terhadap pernyataan Donald Trump yang mengaku menunda rencana aksi militer terhadap fasilitas energi Iran.
Namun, situasi berubah cepat setelah pemerintah Iran membantah klaim tersebut.
Baca juga: Pentagon Pertimbangkan Pengerahan Pasukan Lintas Udara ke Iran, Targetkan Pulau Kharg
Teheran menyebut pernyataan Trump tentang adanya “perundingan positif” sebagai berita palsu dan upaya manipulasi pasar.
Perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran ini memicu ketidakpastian di pasar energi global.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa kedua negara telah melakukan komunikasi yang produktif terkait kemungkinan penyelesaian konflik.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tidak ada komunikasi, baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump memperingatkan akan “menghancurkan” fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Jalur ini merupakan salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak dunia.
Baca juga: Profil Mohammad Bagher Ghalibaf, Diduga Diincar Trump untuk Pimpin Iran
Iran pun merespons dengan tegas.
Teheran bahkan merilis daftar target fasilitas energi di kawasan Teluk yang disebut akan diserang sebagai bentuk balasan jika ancaman tersebut direalisasikan.
Di sisi lain, konflik militer masih terus berlangsung.
Laporan pada 23 Maret menyebutkan adanya serangan yang merusak dua fasilitas gas di Iran, termasuk stasiun pengaturan tekanan gas di Isfahan dan pipa yang memasok pembangkit listrik Khorramshahr.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan bahwa negaranya akan tetap melanjutkan tekanan militer terhadap Iran, meskipun ada upaya diplomasi dari Amerika Serikat.
Situasi ini semakin rumit karena Selat Hormuz dilaporkan masih terganggu sejak konflik memanas pada akhir Februari.
Baca juga: Krisis BBM Meluas, Filipina Beri Sinyal Hentikan Penerbangan Imbas Perang AS-Israel vs Iran
Jalur tersebut diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia.
Meski pasar energi bergejolak, sejumlah bursa saham Asia justru menunjukkan penguatan.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,8 persen, Hang Seng Hong Kong meningkat 1,6 persen, dan Kospi Korea Selatan menguat 2,2 persen.
Sejumlah negara pun mulai mengambil langkah untuk mengurangi dampak krisis energi.
Amerika Serikat dilaporkan melonggarkan sementara sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah dalam perjalanan.
Sementara itu, China memilih menahan rencana kenaikan harga bahan bakar guna meringankan beban masyarakat.
Lonjakan harga minyak ini menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar global.
Jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi energi tetap terganggu, harga minyak berpotensi mengalami kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat.
Baca juga: Sosok Mohammad Bagher Zolghadr, Kepala Dewan Keamanan Nasional Baru Iran Gantikan Ali Larijani
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)