Malaysia Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Indonesia Minta Semua Pihak Tahan Diri - Republika
Malaysia Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Indonesia Minta Semua Pihak Tahan Diri
REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR - Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan Malaysia mengecam keras serangan Israel ke Iran. Kuala Lumpur menyatakan dunia saat ini tidak memerlukan perang baru.
"Tindakan agresif ini hanya akan menambah penderitaan rakyat yang tidak bersalah dan membuka peluang terjadinya konflik yang lebih luas. Dunia saat ini tidak membutuhkan perang baru," kata Mohamad Hasan dalam keterangan Wisma Putra, di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu.
Hasan mengatakan tindakan serangan itu sangat mengkhawatirkan dan berisiko memicu ketegangan yang lebih besar di kawasan tersebut.
Menurutnya, serangan tersebut jelas melanggar prinsip hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa, resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum PBB, serta prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dia menilai serangan tersebut juga telah melanggar kedaulatan sebuah negara serta mengancam keamanan dan stabilitas regional. "Apa pun alasan yang diberikan, kekerasan bukanlah jalan penyelesaian," kata Hasan.
Dia menekankan Malaysia mengecam sekeras-kerasnya tindakan kejam Israel, dan menyerukan serangan segera dihentikan. "Perundingan perlu dilakukan demi menjamin perdamaian serta stabilitas global," kata Hasan.
Sementara Indonesia dalam keterangannya tidak menggunakan diksi mengecam. Pemerintah RI melalu Kemenlu sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.
Halaman 2 / 2
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.
Peningkatan ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia. WNI di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.
Sementara itu, Kedutaan Republik Islam Iran di Indonesia berharap dukungan publik dan pemerintahan RI untuk sama-sama mengecam serangan rudal Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Teheran, Sabtu (28/2/2026).
Serangan rudal tersebut menandai babak awal perang militer terbuka antara Israel-AS dengan Iran. Kedutaan Iran di Jakarta mengatakan, serangan tersebut merupakan tindakan agresi, dan pelanggaran terhadap hukum-hukum internasional.
Iran memastikan memiliki hak dalam hukum internasional untuk mempertahankan kedaulatan, dan membela diri dengan penggunaan persenjataan.
“Keduataan Besar Republik Islam Iran di Indonesia berharap agar pemerintah dan rakyat Indonesia, para tokoh politik, organisasi keagamaan dan Islam, kalangan akademisi, serta insan media untuk secara tegas dan terbuka mengecam dimulainya perang dan agresi terhadap Republik Islam Iran,” begitu dalam pernyataan resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Pada Sabtu (28/2/2026) siang waktu Iran, Israel menembakkan misilnya ke beberapa kota di Teheran. Serangan tersebut juga melibatkan AS.
Serangan tersebut menandai awal perang terbuka antara Israel-AS dengan Iran yang belakangan memang mengalami krisis tinggi. Dari laporan yang disampaikan Kedutaan Iran di Jakarta, serangan tersebut menghantam lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Teheran.