Israel Bombardir Permukiman Kristen di Pinggiran Beirut, Ancam Lebanon Dijadikan Seperti Gaza - Republika
Israel Bombardir Permukiman Kristen di Pinggiran Beirut, Ancam Lebanon Dijadikan Seperti Gaza
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Militer Israel terus memperluas operasi militernya di Lebanon dengan menargetkan infrastruktur sipil dan wilayah permukiman. Pada Jumat (14/3/2026), pasukan Israel menghancurkan sebuah jembatan penting di Lebanon selatan sekaligus menjatuhkan selebaran ancaman di Beirut yang memperingatkan kemungkinan kehancuran seperti yang terjadi di Gaza.
Serangan tersebut berlangsung ketika jet tempur Israel kembali membombardir pinggiran Beirut. Situasi ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran menuju ibu kota Lebanon.
Menteri Dalam Negeri Lebanon, Ahmad Al-Hajjar, mengatakan pemerintah tidak memiliki kapasitas untuk menampung ratusan ribu warga yang kini mencari perlindungan di Beirut.
“Tidak peduli berapa banyak tempat penampungan yang dibuka di Beirut, tempat-tempat itu tidak dapat menampung semua pengungsi,” kata Al-Hajjar dalam konferensi pers.
Media pemerintah Lebanon juga melaporkan sebuah drone Israel menghantam sebuah apartemen di distrik Bourj Hammoud, di pinggiran utara Beirut. Serangan ini menjadi yang pertama kalinya wilayah utara ibu kota yang mayoritas berpenduduk Kristen menjadi sasaran, menandakan meluasnya target serangan Israel.
Infrastruktur sipil jadi sasaran
Militer Israel mengakui telah menyerang Jembatan Zrarieh yang melintasi Sungai Litani pada Jumat pagi. Israel mengklaim jembatan tersebut digunakan oleh militan Hizbullah untuk bergerak antara Lebanon utara dan selatan, meskipun tidak memberikan bukti atas tuduhan tersebut.
Serangan terhadap infrastruktur sipil ini menandai eskalasi baru dalam operasi militer Israel di Lebanon. Dalam hukum internasional, serangan terhadap fasilitas sipil pada umumnya dilarang, kecuali jika dapat dibuktikan digunakan untuk kepentingan militer.

Halaman 2 / 3
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan secara terbuka memperingatkan bahwa Lebanon akan “menanggung biaya yang semakin meningkat” berupa kerusakan infrastruktur dan kehilangan wilayah sampai Hizbullah dilucuti senjatanya.
Selain serangan militer, pesawat Israel juga menjatuhkan selebaran propaganda di Beirut. Dalam selebaran tersebut Israel secara terang-terangan mengancam akan menghancurkan Lebanon seperti yang terjadi di Jalur Gaza selama agresinya dua tahun.
Sebagian besar wilayah Gaza saat ini telah berubah menjadi puing-puing dengan hampir seluruh penduduknya terpaksa mengungsi.
“Mengingat keberhasilan besar di Gaza, realitas baru kini tiba di Lebanon,” demikian isi salah satu selebaran yang dijatuhkan dari udara.
Selebaran lain menyerukan warga Lebanon untuk melucuti Hizbullah. Bahkan terdapat kode QR yang mengarah ke tautan WhatsApp dan Facebook yang meminta warga menghubungi jika mereka ingin melihat “perubahan nyata” di negara mereka.
Militer Israel tidak memberikan komentar resmi terkait selebaran tersebut.
Korban jiwa terus bertambah
Kantor berita pemerintah Lebanon melaporkan sedikitnya 773 orang telah tewas sejak serangan Israel dimulai pada 2 Maret, mengutip data dari kementerian kesehatan negara itu.
Halaman 3 / 3
Serangan tersebut dilancarkan Israel setelah Hizbullah menembakkan roket pada 2 Maret sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran di awal perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Sementara itu, pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan kelompoknya siap menghadapi konflik berkepanjangan dan menolak intimidasi Israel.
“Kami telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi yang panjang dan mereka akan terkejut di lapangan,” ujar Qassem dalam pidatonya pada Jumat. Ia juga menanggapi ancaman Israel yang ingin membunuhnya dengan menyatakan ancaman tersebut “tidak ada artinya”.
Di tengah eskalasi konflik, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang berkunjung ke Lebanon pada Jumat mengatakan komunitas internasional harus segera bertindak untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.
Ia menyatakan sedang mencari dana darurat sebesar 308 juta dolar AS (sekitar Rp 4,9 triliun) untuk membantu pemerintah Lebanon menangani dampak konflik.
Menurut PBB, sedikitnya 800 ribu orang kini telah mengungsi akibat serangan Israel. “Solidaritas dalam kata-kata harus diimbangi dengan solidaritas dalam tindakan,” kata Guterres.
Sementara itu, militer Israel terus memperkuat pasukannya di perbatasan utara. Setelah memindahkan satu brigade infanteri dari dekat Gaza awal pekan ini, Kepala Staf Israel Eyal Zamir memerintahkan penambahan kekuatan militer lebih lanjut di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Hizbullah pada Rabu malam meluncurkan sekitar 200 roket ke komunitas Israel di wilayah utara, menandai meningkatnya ketegangan yang berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.