0
News
    Home Ayatollah Ali Khamenei Berita Dunia Internasional Featured Iran Mojtaba Khamenei Spesial

    Iran Pertahankan Dinasti Politik Khamenei, Mojtaba Naik Tahta dengan Dukungan Garda Revolusi - Tribunnews

    12 min read

      

    Iran Pertahankan Dinasti Politik Khamenei, Mojtaba Naik Tahta dengan Dukungan Garda Revolusi

    Mojtaba Khamenei muncul sebagai calon kuat Pemimpin Tertinggi Iran, menegaskan politik dinasti Khamenei dan dominasi Garda Revolusi.

    Ringkasan Berita:
    • Mojtaba Khamenei, 56, muncul sebagai kandidat terkuat Pemimpin Tertinggi Iran setelah putra Ayatollah Ali Khamenei ini didukung Majelis Ahli. 
    • Penunjukan ini memperlihatkan pengaruh Garda Revolusi dan penguatan politik dinasti keluarga Khamenei di tengah krisis, meski memicu kekhawatiran menjadi target AS dan Israel.

    TRIBUNNEWS.COM - Mojtaba Khamenei muncul sebagai calon kuat Pemimpin Tertinggi Iran.

    Penunjukannya dinilai menegaskan menguatnya politik dinasti keluarga Khamenei sekaligus memperlihatkan dominasi Garda Revolusi dalam arah kepemimpinan Republik Islam di tengah krisis.

    Proses Pemilihan Mojtaba Khamenei

    Para ulama senior yang bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi berikutnya di Iran menggelar pertemuan pada 3 Maret untuk membahas suksesi.

    Putra dari pemimpin sebelumnya yang tewas, Ayatollah Ali Khamenei, muncul sebagai kandidat terkuat, menurut tiga pejabat Iran yang mengetahui jalannya pembahasan.

    Pejabat-pejabat itu mengatakan bahwa para ulama mempertimbangkan untuk mengumumkan bahwa putranya, Mojtaba Khamenei, akan menjadi pengganti ayahnya pada pagi hari 4 Maret, tetapi beberapa di antaranya menyatakan kekhawatiran, takut hal itu bisa menjadikannya target Amerika Serikat dan Israel.

    Mereka berbicara dengan syarat anonim karena membahas keputusan internal yang sensitif.

    Para ulama, yang dikenal sebagai Majelis Ahli, mengadakan dua pertemuan virtual, satu pagi dan satu sore, menurut para pejabat. 

    Israel menyerang sebuah bangunan di Qum, salah satu pusat kekuasaan utama Syiah, tempat majelis dijadwalkan bertemu dan memilih pemimpin tertinggi baru, tetapi bangunan itu kosong, menurut kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

    Baca juga: Putra Ali Khamenei, Mojtaba, Dilaporkan Terpilih Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran Berikutnya

    Pandangan Analis

    Profesor Vali Nasr, pakar Iran dan Islam Syiah di Universitas Johns Hopkins, mengatakan bahwa pemilihan Mojtaba Khamenei akan menjadi pilihan yang mengejutkan – dan memiliki arti penting.

    “Dia telah lama dijadwalkan menjadi pengganti,” kata Prof. Nasr, “tetapi selama dua tahun terakhir, sepertinya dia hilang dari radar. Jika dia terpilih, ini menunjukkan sisi rezim Garda Revolusi yang lebih keras kini memegang kendali.”

    Mojtaba Khamenei, 56, adalah sosok berpengaruh meski cenderung tertutup, yang beroperasi di balik bayang-bayang kekuasaan ayahnya, yang tewas pada serangan Amerika-Israel pada Sabtu, 28 Februari.

    Mojtaba dikenal memiliki hubungan dekat dengan IRGC. Garda tersebut, menurut tiga pejabat, mendorong penunjukannya, dengan alasan bahwa ia memiliki kualifikasi untuk memimpin Iran di masa krisis ini.

    “Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena dia sangat akrab dengan pengelolaan dan koordinasi aparat keamanan dan militer,” kata Mehdi Rahmati, seorang analis di Tehran. “Dia sudah memimpin ini sebelumnya.”

    Rahmati menambahkan, meski begitu, tidak semua orang akan senang.

    “Sebagian masyarakat akan bereaksi negatif dan keras terhadap keputusan ini, dan hal itu akan menimbulkan backlash,” prediksi Rahmati.

    Pendukung pemerintah akan melihatnya sebagai kelanjutan penguasa yang mereka anggap sebagai syahid dan akan mendukungnya dengan cepat, kata Rahmati.

    Namun lawan pemerintah juga akan melihatnya sebagai kelanjutan rezim, yang dalam beberapa bulan terakhir membunuh ratusan pengunjuk rasa.

    Kandidat lain yang muncul sebagai finalis adalah Ayatollah Alireza Arafi, seorang ulama dan pakar hukum yang menjadi bagian dari dewan transisi tiga orang setelah kematian Ali Khamenei, dan Hassan Khomeini, cucu pendiri Revolusi Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

    Baik Arafi maupun Hassan Khomeini dianggap sebagai moderat, dengan Khomeini dekat dengan faksi reformis yang terpinggirkan di Iran.

    Abdolreza Davari, seorang politisi yang dekat dengan Mojtaba Khamenei, mengatakan dalam pernyataan publik dan wawancara dengan The New York Times bahwa jika Khamenei menggantikan ayahnya, ia bisa muncul sebagai figur seperti pemimpin Arab Saudi Mohammed bin Salman.

    “Dia sangat progresif dan akan menyingkirkan garis keras,” kata Davari dalam pesan teks sebelum perang. “Lihat penunjukannya sebagai pergantian kulit.”

    Pada 4 Maret, dalam konferensi pers di Washington, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa banyak orang yang sebelumnya dianggap sebagai calon pemimpin Iran telah tewas sejak serangan Amerika-Israel dimulai pada 28 Februari.

    “Segera kita tidak akan mengenal siapa pun lagi,” katanya.

    Ketika ditanya tentang skenario terburuk di Iran, ia mengatakan:

    “Saya kira skenario terburuk adalah kita melakukan ini dan seseorang mengambil alih yang seburuk orang sebelumnya. Benar, itu bisa terjadi. Kita tidak ingin itu terjadi.”

    Majelis Ahli terdiri dari 88 ulama senior Syiah yang dipilih melalui pemilu publik dan secara konstitusional bertanggung jawab untuk menunjuk, mengawasi, dan memberhentikan Pemimpin Tertinggi.

    Ini akan menjadi kali kedua majelis tersebut memilih pemimpin baru dalam sejarah 47 tahun Republik Islam.

    Pada 1989, majelis memilih Ali Khamenei, menyerahkan kendali pada teokrasi yang baru dibentuk. Selama lebih dari empat dekade ia memerintah dengan kekuasaan absolut dan sedikit fleksibilitas untuk berubah.

    Istri Mojtaba Khamenei, Zahra Adel; ibunya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh; dan seorang anaknya tewas bersama ayahnya dalam serangan pada 28 Februari, menurut pemerintah Iran.

    Baca juga: Sosok Mojtaba Hosseini Khamenei Figur Berpengaruh di Balik Layar yang Dekat dengan IRGC

    Siapa Mojtaba Khamenei?

    Mojtaba Khamenei, 56 tahun, lahir pada 1969 di Mashhad. Ia tumbuh pada masa ayahnya aktif menentang Shah sebelum Revolusi Islam Iran 1979.

    Berbeda dengan banyak tokoh senior di kalangan ulama IranMojtaba tidak dianggap sebagai cendekiawan religius tingkat tinggi.

    Ia belum pernah memegang jabatan terpilih dan tidak memiliki posisi formal di pemerintahan.

    Namun, ia diyakini memiliki pengaruh signifikan di belakang layar, terutama melalui hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berkuasa.

    Ia bertempur selama Perang Iran-Irak dan kemudian terlibat dalam pengelolaan sebagian kantor ayahnya.

    Pada 2019, Amerika Serikat mengenakan sanksi terhadapnya, menuduh ia bertindak mewakili Pemimpin Tertinggi meski tidak memegang jabatan resmi.

    Mengapa Penunjukannya Penting

    Pengangkatannya akan menjadi sejarah karena kepemimpinan Iran selama ini menolak ide pemerintahan turun-temurun, dan suksesi dari ayah ke anak tidak dianggap menguntungkan dalam lingkaran ulama Syiah.

    Ali Nasr, pakar Iran dari Universitas Johns Hopkins, mengatakan kepada The New York Times bahwa kenaikan Mojtaba menunjukkan bahwa “sisi Garda Revolusi yang lebih keras kini memegang kendali rezim”.

    Para pendukung mungkin melihatnya sebagai kelanjutan pemerintahan ayahnya di saat krisis.

    Namun pengkritik bisa memandang langkah ini sebagai penguatan politik dinasti dalam sistem yang secara resmi menentang monarki.

    Majelis Ahli, badan beranggotakan 88 orang yang dipilih oleh publik, secara konstitusional bertanggung jawab untuk menunjuk dan mengawasi Pemimpin Tertinggi.

    Ini akan menjadi kali kedua dalam sejarah Republik Islam bahwa majelis tersebut memilih pemimpin baru.

    (The Indian Express/The Straits Times/Tribunnews)


    Komentar
    Additional JS