Iran Luncurkan Rudal Canggih ke Tel Aviv, Hulu Ledak Bisa Tebar 80 Bom di Udara - Tribunnews
Iran Luncurkan Rudal Canggih ke Tel Aviv, Hulu Ledak Bisa Tebar 80 Bom di Udara
Iran menggunakan sistem rudal Kheibar Shekan (Penghancur Benteng), sebuah senjata canggih generasi ketiga yang mulai beroperasi sejak 2022.
SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal canggih ke wilayah Israel.
Salah satu senjata yang digunakan dalam serangan tersebut adalah rudal balistik Kheibar Shekan, sistem persenjataan generasi baru yang diklaim memiliki daya hancur besar.
Laporan media internasional menyebutkan rudal tersebut digunakan untuk membombardir wilayah Tel Aviv.
Sistem ini dikenal berbeda dari rudal konvensional karena mampu menyebarkan banyak bom kecil di udara sebelum mencapai target.
NDTV melaporkan, Iran menggunakan sistem rudal Kheibar Shekan (Penghancur Benteng), sebuah senjata canggih generasi ketiga yang mulai beroperasi sejak 2022.
Salah satu kemampuan utama rudal ini terletak pada desain hulu ledaknya. Alih-alih meledak di satu titik, rudal tersebut dapat memecah muatannya di udara.
Kedahsyatan rudal ini memiliki hulu ledak yang dapat bermanuver dan melepaskan sekitar 20 hingga 80 submunisi (bom kecil) di ketinggian sekitar 7 kilometer di atas permukaan tanah.
Berbeda dengan rudal konvensional yang meledak di satu titik, hulu ledak tandan Kheibar Shekan pecah di udara dan menyebarkan bom-bom kecil dalam radius hingga 8 kilometer.
Setiap submunisi membawa sekitar 2,5 kg hingga 7 kg bahan peledak—setara dengan daya hancur roket jarak pendek Hamas atau Hizbullah.
Rudal Kheibar Shekan juga disebut memiliki jangkauan cukup jauh, mencapai sekitar 1.450 kilometer. Selain itu, rudal ini dirancang mampu bermanuver pada fase akhir penerbangan untuk menghindari sistem pertahanan udara seperti Patriot maupun Iron Dome.
Data dari NBC News menyebutkan bahwa sejak agresi AS-Israel dimulai pada 28 Februari, serangan rudal Iran telah menewaskan sedikitnya 11 orang di Israel dan melukai lebih dari 1.000 lainnya.
Baca juga: Tindak Tegas Pelaku Penimbun, Polres Aceh Singkil Ingatkan Warga tak Beli BBM Berlebihan
Dalam pernyataan resminya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-19 Operasi True Promise 4.
Mereka menyebutkan setiap rudal yang diluncurkan membawa hulu ledak seberat 1 ton, yang ditembakkan ke pusat kota Tel Aviv, Bandara Ben Gurion, serta markas Skuadron ke-27 Angkatan Udara Israel yang berada di bandara tersebut.
Serangan itu disebut diluncurkan saat fajar dengan kode operasi “Ya Hassan ibn Ali" (damai besertanya).
Menurut IRGC, rudal-rudal strategis yang diluncurkan bersamaan dengan drone serang tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara regional maupun internal Israel.
Dalam aksi tersebut, IRGC menyatakan telah berhasil menciptakan "neraka" bagi para agresor.
Pada gelombang sebelumnya, yakni Operasi True Promise 4 tahap ke-18, IRGC juga mengklaim telah menargetkan sekitar 20 sasaran militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Mereka menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan melalui koordinasi militer yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, dengan serangan multi-arah yang diluncurkan secara bersamaan.
IRGC juga menyatakan telah menulis ulang aturan keterlibatan jauh melampaui perhitungan militer AS maupun rezim Zionis.
“Penarikan pengecut pasukan Amerika dari pangkalan regional mereka dan bersembunyi di hotel negara tuan rumah, sementara aksi militer kriminal mereka menarget infrastruktur sipil di Teluk Persia, tidak luput dari pengawasan aparat intelijen IRGC," demikian pernyataan IRGC, dilansir dari Tasnim, Kamis.
Baca juga: Xiaomi 17 Ultra Rilis di Indonesia, Kamera Leica 200 MP & Snapdragon 8 Elite, Ini Daftar Harganya
"Para pejuang pemberani IRGC kini menunggu, siap memburu setiap tentara AS yang menyerbu. Mereka tidak akan beristirahat hingga berhasil menangkap mereka, karena tidak akan ada jalan untuk kabur,” lanjut IRGC.
Di sisi lain, militer Israel juga menyampaikan klaim berbeda mengenai kondisi kekuatan Iran.
Kepala militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan lebih dari 60 persen peluncur rudal balistik Iran dan 80 persen sistem pertahanan udaranya telah dihancurkan dalam perang melawan Iran.
“Sekarang kita beralih ke fase operasi selanjutnya. Pada fase ini, kita akan lebih lanjut membongkar rezim dan kemampuan militernya."
"Ada kejutan tambahan di depan yang tidak akan saya ungkapkan,” kata Letnan Jenderal Eyal Zamir dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Kamis (5/3/2026), dilansir Al Arabiya.
“Kami telah menetralisir dan menghancurkan lebih dari 60 persen peluncur rudal balistik,” katanya.
Baca juga: Panic Buying BBM Landa Aceh Tamiang, Pemkab Keluarkan Imbauan untuk Masyarakat dan SPBU
Rencana AS Lawan Iran
Militer AS yakin dengan rencana operasionalnya melawan Iran.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap rezim Iran secara "dramatis".
Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan pasukan Amerika mengantisipasi kemampuan Iran dan menyusun strategi mereka sesuai dengan hal tersebut.
“Kami sangat familiar dengan kemampuan Iran, dan seperti yang bisa Anda bayangkan, kami merencanakannya sejak awal,” kata Cooper kepada Al Arabiya English.
“Dan saya merasa yakin dengan rencana tersebut," sambungnya.
Cooper menambahkan bahwa pasukan AS terus beradaptasi seiring dengan perkembangan medan perang.
“Seperti organisasi yang baik lainnya, kami menyesuaikan diri seperlunya untuk menghadapi lingkungan, dan kami telah melakukan penyesuaian yang tepat,” katanya.
Sistem pertahanan AS terhadap pesawat nirawak telah lama menuai kritik karena rudal-rudal mahal sering digunakan untuk menembak jatuh pesawat nirawak yang relatif murah yang dikerahkan oleh Iran dan sekutunya.
Namun, Cooper mengatakan AS telah "berada di sisi lain" dari ketidakseimbangan biaya tersebut.
“Saya ingat dulu kita selalu mendengar bahwa kita menembak jatuh drone seharga $50.000 dengan rudal seharga $2 juta,” katanya.
“Sekarang, kita menghabiskan banyak waktu menembak jatuh drone seharga $100.000 dengan rudal seharga $10.000," jelas dia.
AS juga mengerahkan unit drone kamikaze baru untuk pertama kalinya selama operasi Iran.
Drone tersebut dikembangkan setelah bertahun-tahun AS menangkap dan merekayasa balik model-model Iran.
Bagian dari kampanye yang lebih luas, yang disebut Operasi Epic Fury, bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan rudal balistik dan kekuatan angkatan laut Iran, kata para pejabat.
Cooper mengatakan bahwa pasukan pembom AS telah menyerang hampir 200 target jauh di dalam wilayah Iran selama 72 jam terakhir, termasuk lokasi-lokasi di sekitar Teheran.
Dia juga mengungkapkan bahwa hanya satu jam sebelum pengarahan, pesawat pembom siluman B-2 menjatuhkan puluhan bom penetrasi seberat 2.000 pon ke peluncur rudal balistik yang terkubur dalam-dalam.
Cooper mengatakan pasukan AS juga telah menargetkan badan setara Komando Antariksa Iran.
Menurutnya, serangan Iran telah menurun secara signifikan sejak awal perang.
Serangan rudal balistik telah turun 90 persen sejak hari pertama pertempuran, sementara serangan pesawat tak berawak turun 83 persen.
Militer AS juga telah menyerang 30 kapal angkatan laut Iran.
“Dan hanya dalam beberapa jam terakhir, kami menyerang kapal induk drone Iran, yang ukurannya kira-kira sebesar kapal induk Perang Dunia II. Dan saat ini, kapal itu terbakar,” kata Cooper.(*)
(Serambinews.com/TribunBatam.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rudal-penghancur-Kheibar-Kheibar-Shekan-milik-Iran.jpg)