Iran Lancarkan Serangan 'Paling Berat' ke Israel hingga Kuwait - detik
Iran Lancarkan Serangan 'Paling Berat' ke Israel hingga Kuwait
Dalam beberapa jam terakhir, Iran melancarkan gelombang serangan baru yang menyasar target-target Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Media pemerintah Iran menyebut rentetan serangan itu sebagai yang "paling intens dan paling berat" sejak awal perang, ungkap kantor berita AFP.
Iran telah melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan-pangkalan AS di Al Udeid di Qatar, Camp Arifjan di Kuwait, dan Harir di Irak, demikian pernyataan dari Korps Garda Revolusi Islam di X.
Dibagikan oleh ISNA, sebuah media pemerintah, pernyataan itu mengatakan bahwa "peluncuran besar-besaran" tersebut juga menargetkan armada angkatan laut AS ke-5 di wilayah tersebut dan bahwa "infrastruktur operasional tentara AS telah dihancurkan".
Para pejabat AS belum berkomentar tentang serangan tersebut.
Sementara, Israel mengklaim pihaknya telah mendeteksi peluncuran rudal dari wilayah Iran.
Mereka menambahkan, situasi saat ini cukup aman bagi warga untuk keluar dari tempat perlindungan.
Adapun Arab Saudi melaporkan bahwa mereka berhasil mencegat dan menghancurkan dua drone yang ditargetkan menghantam sebuah ladang minyak.
Raungan sirene juga terdengar di Bahrain, yang menjadi markas besar Armada Angkatan Laut AS ke-5.
Otoritas keamanan Arab Saudi mengklaim bahwa mereka berhasil menghancurkan enam rudal balistik yang diarahkan ke pangkalan militernya.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan mereka mencegat dan menghancurkan enam rudal balistik yang diarahkan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan, sebuah fasilitas militer di wilayah timur negara itu.
Kementerian tersebut juga melaporkan telah menembak jatuh sejumlah drone pada hari yang sama, termasuk dua unit di kota timur laut Hafar Al-Batin.
Pernyataan itu tidak merinci sumber peluncuran rudal maupun drone tersebut.
AS klaim hancurkan 16 kapal penebar ranjau Iran
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan bahwa pasukan AS telah "menghancurkan" 16 kapal penebar ranjau milik Iran pada Rabu (11/03) di dekat Selat Hormuz.
Centcom juga merilis sebuah video yang tampaknya memperlihatkan momen ketika kapal-kapal tersebut diserang.
Pernyataan ini muncul setelah komentar Presiden AS Donald Trump sebelumnya, yang mengatakan bahwa pasukan AS telah menghantam 10 kapal Iran yang tidak aktif di kawasan selat Hormuz, setelah sebelumnya berjanji akan menangani keberadaan kapal-kapal tersebut "secara cepat dan keras".
Mojtaba Khamenei ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Mojtaba Khamenei ditetapkan oleh Majelis Ahli sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan media pemerintah Iran.
Dalam pernyataan yang dibacakan penyiar stasiun televisi nasional, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses penunjukan pemimpin tidak terhenti meski negara berada dalam situasi perang dan menghadapi ancaman langsung dari musuh.
Mereka juga menyebutkan bahwa serangan bom terhadap kantor Sekretariat Majelis Ahliyang menewaskan sejumlah staf serta anggota tim keamanannyatidak menghentikan upaya lembaga itu untuk memilih dan mengumumkan pemimpin baru.
Setelah membacakan pernyataan tersebut, penyiar kemudian menyerukan, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Khamenei adalah pemimpin."
Baca juga: Siapa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru?
Stasiun penyiaran nasional Irib serta kantor berita semi-resmi Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC turut menyiarkan pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut Mojtaba Khamenei sebagai "ahli hukum yang mumpuni, pemikir muda, dan sosok paling memahami isu-isu politik serta sosial."
IRGC juga menyatakan "rasa hormat, pengabdian, dan ketaatan" kepada Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa para anggotanya "siap untuk patuh sepenuhnya dan berkorban demi menjalankan perintah ilahi Pemimpin Tertinggi."
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa tidak ada pihak asing yang akan dilibatkan dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi baru.
Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada awal pekan ini mengisyaratkan bahwa Washington ingin membantu menentukan pengganti Ali Khamenei.
Dalam wawancara dengan NBC News, Araghchi menegaskan bahwa Iran "tidak mengizinkan siapa pun ikut campur dalam urusan dalam negeri kami."
Penunjukan Mojtaba Khamenei ditetapkan ketika Iran dibombardir AS-Israel.
Militer Israel (IDF) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap "sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar" di Teheran. IDF menyebut serangan itu sebagai "serangan signifikan" terhadap tangki bahan bakar yang diklaim kerap digunakan rezim Iran untuk mendukung infrastruktur militer.
Ledakan sejumlah depo BBM di wilayah selatan Teheran dilaporkan kantor berita Fars.
Dalam pernyataan resmi, Perusahaan Minyak Nasional Iran menyebut sejumlah depo minyak di Tehran dan Provinsi Alborz turut terkena serangan. Namun, pasokan bahan bakar ke kedua wilayah disebut tetap "berjalan berkelanjutan dari sumber lain."
Beberapa warga menuturkan situasi setelah ledakan terjadi.
"Asap pekat menyelimuti kota. Saya bisa mencium bau sesuatu yang terbakar," ujar seorang perempuan berusia 20-an yang tinggal di Teheran, kepada BBC.
Seorang warga Karaj, kota dekat Teheran, mengaku keluarganya begitu panik.
"Ibu saya sangat cemas. Awalnya terlihat cahaya merah, lalu langit seakan menyala. Kemudian terbentuk awan merah. Saat kami naik ke atap, baru tahu bahwa depo minyak telah terkena serangan."
Warga lain di Karaj menambahkan, "Rasanya seperti malam berubah menjadi siang."
Satu hari sebelumnya, ledakan yang disusul kepulan asap tebal terjadi di Bandara Mehrabadbandara tersibuk di Iran sekaligus bandara utama penerbangan domestik.
Dalam rekaman video yang dibagikan saksi mata di media sosial, tampak sejumlah pesawat dilalap api. Citra satelit yang diambil pada Jumat (06/03) menunjukkan sejumlah pesawat berada di bandara tersebut.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa beberapa bagian bandara menjadi sasaran serangan.
Perkembangan ini terjadi setelah militer Israel mengatakan tengah melancarkan "gelombang serangan baru dalam skala luas" di negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa "tidak akan ada kesepakatan dengan Iran selain penyerahan tanpa syarat."
Dalam pernyataan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menambahkan:
"Setelah terpilihnya seorang pemimpin yang HEBAT & DAPAT DITERIMA, kami bersama para sekutu dan mitra yang luar biasa serta sangat berani akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi dibanding sebelumnya.
"IRAN AKAN MEMILIKI MASA DEPAN YANG GEMILANG. 'MAKE IRAN GREAT AGAIN (MIGA!).'"
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyiarkan pesan video melalui stasiun televisi nasional, pada Sabtu (07/03).
'Saya merasa perlu untuk meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang,' katanya.
'Kami tidak berniat menyerang negara-negara tetangga,' lanjutnya, sambil menyerukan kerja sama regional untuk 'mewujudkan perdamaian dan ketenangan'
Pezeshkian menambahkan bahwa sebuah keputusan telah dikeluarkan kepada angkatan bersenjata Iran: 'mulai sekarang, jangan menyerang negara-negara tetangga kecuali diserang lebih dulu.'
'Mereka yang mempertimbangkan untuk memanfaatkan situasi ini untuk menyerang Iran tidak boleh menjadi boneka imperialisme,' kata Pezeshkian, sambil menambahkan bahwa mendukung Israel atau AS bukanlah "jalan menuju kehormatan dan kebebasan".
Sejauh ini, sebanyak 1.332 warga sipil tewas akibat serangan gabungan AS dan Israel di Iran sejak Sabtu (28/02), menurut Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani.
Berbicara kepada wartawan di markas besar PBB di New York, Iravani menambahkan bahwa menurut Bulan Sabit Merah Iran, perempuan dan anak-anak termasuk di antara korban tewas.
"Ribuan lainnya terluka, dan jumlahnya terus bertambah," ujarnya, seraya menuding bahwa sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sipil lainnya telah dijadikan sasaran secara sengaja.
Pemerintah AS membantah menargetkan infrastruktur sipil, namun tengah menyelidiki serangan mematikan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran. Israel, di sisi lain, menuduh Iran menyerang warga sipilnya.
Di Libanon, sebanyak 217 orang tewas dan 798 lainnya terluka sejak serangan Israel dimulai pada Senin (02/03), menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Pertikaian AS-Israel dan Iran telah meluas ke kawasan Timur Tengah.
Selain di Libanon, pemerintah Bahrain melaporkan terjadi serangan udara terhadap dua hotel dan sebuah bangunan tempat tinggal di wilayahnya.
Sementara Arab Saudi dan Qatar mengklaim bahwa mereka berhasil mencegat serangan rudal dan drone di wilayah udara mereka.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan bahwa dua hotel dan sebuah bangunan tempat tinggal di ibu kota negara itu, Manama, menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan Iran.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain menulis di X-Net bahwa serangan baru tersebut "menyebabkan kerugian finansial, tetapi tidak ada korban jiwa."
Awal pekan ini, pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain juga menjadi sasaran serangan rudal Iran.
Iran belum bereaksi terhadap berita ini, tetapi beberapa jam yang lalu mengumumkan bahwa mereka telah memulai putaran baru serangan rudal dan drone.
Mereka juga mengumumkan telah menggunakan rudal Khyber.
Adapun Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan bahwa angkatan udara mereka berhasil mencegat serangan drone yang menargetkan Pangkalan Udara Adid, pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah.
Sebelumnya pemerintah Qatar telah mengirim peringatan keamanan melalui telepon seluler di seluruh negeri, meminta warganya menjauhi jendela dan ruang terbuka.
Di tempat terpisah, Presiden Donald Trump mengatakan dirinya harus memiliki peran langsung dalam memilih pemimpin baru Iran.
BBC Persia melaporkan, Trump kembali menyerukan kepada tentara Iran agar meletakkan senjata.
Trump juga menyarankan para diplomat negara itu untuk mencari perlindungan di negara tempat mereka bertugas.
Dari Iran dilaporkan serangan udara terus berlanjut, dan pusat-pusat militer dan pemerintah telah menjadi sasaran serangan Israel dan AS.
Pada Kamis, salah satu stadion di kompleks olah raga Azadi menjadi sasaran pemboman.
Organisasi Kesehatan Dunia: 13 pusat medis di Iran hancur
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan telah mengkonfirmasi bahwa "Ada 13 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran dan satu serangan di Lebanon."
Ghebreyesus tidak merinci lebih lanjut atau menyebutkan siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, tetapi mengatakan:
"Berdasarkan hukum humaniter internasional, layanan dan fasilitas kesehatan harus dilindungi dan tidak boleh menjadi sasaran."
Beberapa hari yang lalu, foto-foto dan video menunjukkan kerusakan luas di Rumah Sakit Gandhi Teheran, yang menyebabkan pemindahan semua pasien yang dirawat di rumah sakit.
Kapal selam AS tenggelamkan kapal perang Iran di Samudra Hindia
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth mengklaim kapal selam AS telah menenggelamkan "sebuah kapal perang Iran" di Samudra Hindia.
"Kapal itu merasa aman di perairan internasional, tapi justru dihantam torpedo," ujarnya.
Hegseth tidak menyebut nama kapal Iran yang diserang.
Namun sebelumnya Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan bahwa kapal IRIS Dena tenggelam di Samudra Hindia. Sekitar 140 orang di dalamnya dinyatakan hilang.
Ini "memang bukan pertarungan yang seimbang, dan tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang," kata Hegseth, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat sedang "menghantam Iran saat mereka sedang terpuruk."
"Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya," ujarnya.
Pada Rabu (04/03), Angkatan Laut Sri Lanka menyatakan telah menyelamatkan 32 orang setelah menerima panggilan darurat dari kapal Angkatan Laut Iran IRIS Dena.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Budhika Sampath, mengatakan: "Meski berada di luar wilayah perairan kami, lokasi itu masih termasuk dalam zona pencarian dan penyelamatan kami. Jadi kami berkewajiban merespons sesuai kewajiban internasional."
Ia menambahkan: "Kami menemukan orang-orang terapung di laut, menyelamatkan mereka, dan kemudian mengetahui bahwa mereka berasal dari kapal Iran."
Menurut dokumen kapal tersebut, diperkirakan ada 180 orang di dalamnya.
Sampath mengatakan bahwa ketika operasi penyelamatan berlangsung, pihaknya tidak lagi melihat kapal tersebutyang tampak hanya serpihan minyak di permukaan air dan sekoci-sekoci penyelamat.
"Kami hanya melihat beberapa sekoci. Tidak ada kapal Iran yang terlihat. Kapal itu sudah tenggelam," kata Sampath kepada BBC Sinhala.
Ia juga menegaskan kepada BBC bahwa pihaknya menolak laporan yang menyebut kapal itu tenggelam akibat serangan kapal selam. Penyebab insiden masih belum diketahui.
Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Pertahanan Sri Lanka, Marsekal Muda Sampath Thuiyakontha, mengatakan kepada BBC Sinhala bahwa sekitar 140 orang diyakini masih hilang.
Iran ancam 'bakar' kapal-kapal di Selat Hormuz
Seorang pejabat Iran memperingatkan bahwa negara itu akan "membakar" kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuzjalur minyak dan gas yang sangat pentingseiring dengan berkecamuknya konflik di Timur Tengah.
Peringatan tersebut disampaikan Ebrahim Jabbari, penasihat Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melalui siaran televisi pemerintah.
Dia mengatakan selat tersebut dalam status tertutup dan memperingatkan bahwa kapal-kapal "tidak boleh datang ke wilayah ini, mereka pasti akan menghadapi respons serius dari kami."
Jabbari juga mengatakan bahwa AS "haus akan minyak di wilayah ini" dan bahwa Iran akan "menyerang jalur pipa mereka di wilayah tersebut dan tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari daerah ini".
Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia dan titik transit minyak yang paling vital. Sekitar seperlima minyak dan gas dunia melewati selat tersebut.
Citra satelit tunjukkan kerusakan kilang minyak Saudi
Citra satelit tersebut, yang diambil pada Selasa oleh Vantor, memperlihatkan adanya api dan bekas bangunan yang terlihat hangus di sekitar menara pendingin di area tengah kilang minyak, yang terletak di kilang Ras Tanurayang dioperasikan perusahaan minyak nasional Aramco.
Di area itu terdapat serangkaian pipa yang menghubungkan berbagai unit penyimpanan ke dermaga terdekat.
Di sanalah pasokan minyak itu mampu mengisi empat kapal tanker secara bersamaan.
Lokasi itu memiliki kapasitas produksi 550.000 barel per hari.
Perusahaan minyak Aramco mengatakan, mereka harus menutup sementara kilang tersebut pada Selasa.
Meluasnya konflik makin tampak pada Senin (02/03), tatkala Iran menyasar sektor energi di Arab Saudi dan Qatar.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa kebakaran kecil di kilang Ras Tanurayang dioperasikan perusahaan minyak nasional Aramcoberhasil dipadamkan.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui Saudi Press Agency, disebutkan bahwa kilang tersebut mengalami "kerusakan ringan akibat jatuhan puing" setelah sistem pertahanan udara mencegat "dua drone yang melintas di sekitar fasilitas".
Api dilaporkan "segera ditangani" oleh tim darurat tanpa menimbulkan korban luka maupun jiwa.
Video yang diverifikasi BBC memperlihatkan kobaran api dan kepulan asap besar membumbung dari area kilang tersebut.
Arab Saudi, yang selama ini menjadi tuan rumah bagi pasukan militer Amerika Serikat dan negara-negara Barat, pada Sabtu (28/02) mengeluarkan kecaman terhadap Iran. Mereka menyebutnya sebagai "serangan terang terangan dan pengecut".
Pemerintah Saudi menegaskan serangan itu "berhasil dicegat" dan menargetkan wilayah Riyadh serta Provinsi Timur.
Sementara itu, perusahaan energi milik Qatar, QatarEnergy, menyatakan telah menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah sejumlah fasilitasnya diserang oleh Iran.
Fasilitas yang disasar meliputi Ras Laffanpusat pemrosesan gas daratserta Mesaieed, yang juga menjadi lokasi strategis produksi gas alam Qatar.
Negara Teluk tersebut merupakan salah satu produsen LNG terbesar di dunia, sejajar dengan Amerika Serikat, Australia, dan Rusia.
Lihat juga Video: Momen Rudal Iran Beterbangan di Langit Israel, Sirene Berbunyi
(ita/ita)