0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional F-35A Featured Gencatan Senjata Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Gencatan Senjata Dibahas, AS Justru Kerahkan F-35A ke Iran - Beritasatu

    3 min read

     

    Gencatan Senjata Dibahas, AS Justru Kerahkan F-35A ke Iran



    AS kerahkan armada tempur F-35A ke Timur Tengah untuk perkuat jaring kekuatan udara dan fleksibilitas taktis di tengah ketegangan konflik dengan Iran. (The War Zone/DOK)

    Jakarta, Beritasatu.com - Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel mulai memperlihatkan perkembangan positif dengan adanya komunikasi konstruktif di antara ketiga pihak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirim sinyal tidak akan menyerang Iran selama lima hari. Uniknya, disebutkan The War Zone, Rabu (25/3/2026), Amerika justru mengirim jet tempur baru ke wilayah Timur Tengah untuk memantau Iran yakni F-35A. 

    “Jet tempur F-35C milik Korps Marinir AS dilaporkan tengah bergerak menuju wilayah tanggung jawab Komando Sentral AS (CENTCOM) sebagai bagian dari Operasi Epic Fury. Pergerakan ini menjadi sorotan karena menandai pertama kalinya varian F-35C, yang dirancang khusus untuk kapal induk, dikerahkan untuk menjalankan misi tempur dari pangkalan darat,” tulis The War Zone.

    Berdasarkan laporan sumber terbuka, gelombang pertama dari Skuadron 311 (VMFA-311) "Tomcats" telah mendarat di pangkalan RAF Lakenheath, Inggris, sebelum melanjutkan perjalanan ke garis depan. Kehadiran varian Marinir ini akan melengkapi armada F-35A milik Angkatan Udara AS (USAF) yang sudah lebih dahulu bersiaga di kawasan tersebut. Kombinasi kedua varian ini memberikan fleksibilitas taktis yang sangat tinggi bagi komando militer AS dalam menghadapi berbagai skenario pertempuran.

    F-35A Lightning II yang dioperasikan oleh USAF merupakan varian Conventional Takeoff and Landing (CTOL) yang menjadi tulang punggung kekuatan udara modern. Pesawat ini dirancang dengan teknologi siluman (stealth) tingkat tinggi, yang memungkinkannya menembus radar pertahanan udara musuh tanpa terdeteksi. Kemampuan ini menjadi kunci utama dalam misi penghancuran sistem pertahanan udara lawan (SEAD) pada tahap awal konflik.

    Dari segi performa, F-35A dibekali mesin tunggal Pratt & Whitney F135 yang mampu menghasilkan gaya dorong hingga 43.000 pon. Hal ini memungkinkan pesawat mencapai kecepatan maksimal Mach 1,6 bahkan dengan membawa beban senjata internal penuh. Berbeda dengan jet tempur generasi sebelumnya, F-35A membawa senjatanya di dalam badan pesawat (internal weapon bay) untuk menjaga profil siluman tetap optimal saat menjalankan misi infiltrasi.

    Kecanggihan utama F-35A terletak pada sistem sensor terintegrasi yang disebut Sensor Fusion. Sistem ini menggabungkan data dari radar AESA APG-81, sistem penargetan elektro-optik (EOTS), dan sistem aperture terdistribusi (DAS). Hasilnya, pilot mendapatkan pandangan 360 derajat di sekitar pesawat melalui helm khusus, memberikan kesadaran situasional yang jauh melampaui pesawat tempur musuh mana pun saat ini.

    Dalam hal persenjataan, F-35A adalah satu-satunya varian yang dilengkapi dengan meriam internal GAU-22/A kaliber 25mm untuk pertempuran jarak dekat. Selain itu, pesawat ini mampu membawa kombinasi rudal udara-ke-udara seperti AIM-120 AMRAAM dan bom pintar berpemandu laser atau GPS seperti GBU-31 JDAM. Kapasitas angkut senjatanya dapat ditingkatkan secara drastis melalui mode "Beast Mode" jika keunggulan udara sudah berhasil dikuasai.

    Pengerahan besar-besaran ini juga didukung oleh pergerakan aset strategis lainnya di laut. Kapal serbu amfibi USS Tripoli dilaporkan tengah bergerak cepat menuju kawasan CENTCOM dengan membawa skuadron F-35B. Berbeda dengan varian A dan C, F-35B memiliki kemampuan lepas landas pendek dan mendarat vertikal (STOVL), yang memungkinkannya beroperasi dari dek kapal yang lebih kecil atau landasan pacu darurat yang rusak.

    Dengan integrasi antara F-35A milik Angkatan Udara, F-35C milik Marinir dari pangkalan darat, dan F-35B dari gugus tempur laut, militer AS kini memiliki jaring kekuatan udara yang sangat rapat. Sinergi ini memungkinkan operasi serangan presisi tinggi dilakukan secara simultan dari berbagai arah, sekaligus memberikan perlindungan menyeluruh bagi aset-aset sekutu yang berada di zona konflik tersebut.


    Komentar
    Additional JS