0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial

    Frustasi Hadapi Kekuatan Iran, Israel Sebar Propaganda ke Negara Arab di Media - Viva

    11 min read

     

    Frustasi Hadapi Kekuatan Iran, Israel Sebar Propaganda ke Negara Arab di Media

    Siap – Ketegangan di Timur Tengah saat ini memasuki fase baru. Di tengah konflik yang belum mereda, muncul tudingan bahwa Israel menyebarkan propaganda untuk menyeret negara-negara Arab ke dalam perang melawan Iran.

    BREAKING NEWS: Pasukan Khusus AS Sudah Masuk Iran, Perang Darat Tinggal Tunggu Waktu!

    Sebuah perang opini tengah berlangsung sengit di dunia maya dan media, di mana Israel tengah gencar menyebarkan propaganda untuk menyeret negara-negara Arab ke dalam pusaran konflik.

    Langkah ini dibaca sebagai bentuk frustrasi Tel Aviv dalam menghadapi Teheran yang terus menunjukkan kekuatan, sekaligus upaya strategis untuk mengubah peta konflik regional.

    Pejabat Penting Israel Mati Kena Hantam Rudal Iran di Gedung Kementerian Pertahanan Tel Aviv

    Berbagai laporan menyebutkan, media-media Israel secara aktif mendorong narasi yang dapat memicu ketegangan antara Teheran dan negara-negara Teluk .

    Narasi Qatar Serang Iran Mengemuka

    FOTO: Kondisi Mengerikan Tel Aviv Pagi Ini, Sirene Meraung, Warga Hidup di Bawah Bayang-Bayang Rudal Iran!

    Salah satu pemicu terbaru adalah laporan yang disiarkan oleh Channel 12 Israel.

    Stasiun televisi tersebut mengklaim bahwa Qatar telah melancarkan serangan militer ke wilayah Iran untuk pertama kalinya.

    Laporan ini dikaitkan dengan sumber-sumber Barat tanpa menyebutkan detail spesifik, sebuah metode yang langsung memicu kecurigaan di kalangan pengamat.

    Menurut beberapa sumber, laporan tersebut ditulis oleh jurnalis sayap kanan Emit Segal, seorang pendukung Perdana Menteri Netanyahu yang juga karyawan Channel 12 berbahasa Ibrani.

    Segal disebut memulai hasutannya terhadap Qatar sebagai salah satu musuh terpenting Israel di kawasan Teluk.

    Tuduhan ini muncul saat situasi kawasan memanas. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya meluncurkan 15 gelombang serangan balasan.

    Serangan itu menyasar berbagai aset militer Amerika Serikat dan Israel di sejumlah negara Teluk, termasuk Qatar dan Bahrain.

    Tindakan tersebut menjadi respons atas serangan yang menewaskan hampir 800 warga Iran.

    Yang menarik, klaim Channel 12 ini segera mendapat bantahan.

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menegaskan bahwa negaranya tidak terlibat dalam kampanye militer ofensif terhadap Teheran.

    Ia menyebut laporan tersebut tidak akurat dan menegaskan bahwa Doha hanya menjalankan hak untuk membela diri dari serangan rudal IRGC.

    Bantahan cepat dari Qatar menunjukkan bahaya narasi tersebut jika dibiarkan menyebar.

    Narasi itu dapat memecah solidaritas negara-negara Arab. Saat ini negara-negara Arab berada di garis depan ketegangan dengan Iran.

    Karena itu, Qatar menegaskan posisinya untuk mencegah dampak politik yang lebih luas.

    Jebakan Propaganda 'Hasbara' di Tengah Krisis

    Potret ilustrasi

    Fenomena ini bukan sekadar kesalahan jurnalistik biasa.

    Beberapa sumber Teheran menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari skenario besar yang tengah dimainkan.

    Ada upaya sistematis Israel untuk secara langsung melibatkan negara-negara Arab dalam perang, melalui penyebaran propaganda provokatif.

    Akun-akun Israel dan media elektroniknya aktif mendorong narasi ini. Upaya itu berjalan seiring operasi Mossad di lapangan.

    Langkah-langkah tersebut memperkuat arah narasi yang ingin Israel bangun.

    Kecurigaan ini mendapat justifikasi dari pernyataan kontroversial komentator politik Amerika Serikat, Tucker Carlson.

    Baru-baru ini, Carlson mengungkapkan bahwa Qatar dan Arab Saudi telah menangkap serta menahan agen Mossad Israel.

    Penahanan itu dilakukan setelah adanya dugaan bahwa agen Mossad merancang aksi pemboman di negara-negara tersebut untuk menciptakan ketidakstabilan dan menyeret mereka ke dalam konflik.

    "Bukankah mereka berada di pihak yang sama? Israel ingin menyakiti Iran, Qatar, UEA, Arab Saudi, Bahrain, Oman, dan Kuwait," tegas Carlson dalam acaranya, mempertanyakan logika di balik aksi-aksi yang justru merugikan sekutu AS di kawasan .

    Ancaman Pejabat IRGC

    Di tengah hiruk-pikuk propaganda ini, suara keras kembali muncul dari kubu Iran.

    Seorang pejabat IRGC mengeluarkan peringatan yang sangat tajam, mengimbau siapa pun di Israel yang ingin tetap hidup untuk segera pergi.

    Pernyataan ini menambah daftar panjang retorika keras dari Teheran pasca-eskalasi terbaru.

    "Kita sedang menuju perang yang berkepanjangan, dan akhirnya akan sangat menakutkan," ucap pejabat IRGC tersebut seperti dikutip, Rabu, 4 Maret 2026.

    Pernyataan ini mempertegas sikap Iran yang tidak hanya siap bertahan, tetapi juga melakukan ofensif jangka panjang.

    Peringatan serupa sebelumnya juga disampaikan oleh juru bicara IRGC, yang menyatakan bahwa "gerbang neraka akan terbuka" bagi AS dan Israel .

    Teheran pun telah mengonfirmasi kesiapan penuh mereka untuk melakukan eskalasi.

    "Kami sudah sepenuhnya siap," katanya.

    "Perang ini hanya akan berakhir dengan kehancuran Israel."

    Ancaman ini muncul di tengah laporan bahwa Iran telah memisahkan sistem komando dan pengendalian rudalnya.

    Langkah tersebut memungkinkan militer Iran untuk tetap memiliki daftar target tetap meskipun pusat komando di Teheran terganggu oleh serangan udara lawan.

    Hal ini menunjukkan kesiapan Iran untuk perang yang tidak hanya mengandalkan respons spontan, tetapi juga serangan terencana meskipun dalam situasi terdesak.

    Perang yang Tak Lagi Hitam-Putih

    Rudal Iran guncang kawasan Teluk

    Situasi saat ini menunjukkan sebuah konflik yang telah melewati batas perang konvensional.

    Serangan militer yang melibatkan ratusan drone dan rudal memang menghancurkan, namun perang opini yang tengah dijalankan Israel bisa jadi sama berbahayanya.

    Keterlibatan negara-negara Arab seperti Qatar, yang secara geografis dan politis berada di garis depan, menjadi sangat krusial.

    Tuduhan bahwa Qatar menyerang Iran adalah narasi yang jika dipercaya publik, dapat memicu perang saudara di kawasan yang seharusnya bersatu menghadapi ketidakstabilan.

    Apalagi, para analis militer memperingatkan bahwa konflik ini berisiko melebar menjadi all-out war jika Iran menyerang aset-aset strategis seperti kapal induk AS atau situs-situs nuklir sensitif Israel .

    Di tengah situasi ini, publik global perlu mencermati setiap berita yang beredar. Di balik setiap laporan media, ada kepentingan geopolitik yang bermain.

    Perang tidak lagi hanya tentang rudal dan pesawat tempur, tetapi juga tentang siapa yang berhasil merebut hati dan opini masyarakat dunia.

    Yang jelas, di tengah ancaman perang panjang dan retorika kehancuran yang dilontarkan para pejabat IRGC, langkah waspada dan tidak mudah terprovokasi adalah kunci agar kawasan tidak semakin terjerumus ke dalam jurang kehancuran.


    Komentar
    Additional JS