Denmark Rogoh Rp757 Miliar untuk Beli Rudal AS, Agar Greenland Tak Dicaplok Trump- SindoNews
Denmark Rogoh Rp757 Miliar untuk Beli Rudal AS, Agar Greenland Tak Dicaplok Trump
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Rabu, 04 Maret 2026 - 19:25 WIB
Tentara memasang rudal AGM-114R Hellfire di helikopter tempur. Foto/us army
KOPENHAGEN - Langkah tak biasa ditempuh Denmark dalam menjaga kedaulatan wilayah Arktiknya. Negara Skandinavia tersebut dikabarkan menggelontorkan dana sekitar USD45 juta atau setara Rp757 miliar untuk membeli rudal buatan Amerika Serikat (AS), di tengah memanasnya dinamika geopolitik terkait Greenland.
Keputusan ini memunculkan ironi politik global. Pasalnya, pembelian sistem persenjataan dari Washington dilakukan setelah sebelumnya Presiden Donald Trump sempat melontarkan keinginan agar Amerika Serikat “membeli” Greenland dari Denmark—pernyataan yang kala itu memicu kegaduhan diplomatik antara dua sekutu NATO tersebut.
Melalui Skema Foreign Military Sales
Pembelian tersebut disetujui melalui program Foreign Military Sales (FMS), mekanisme resmi pemerintah AS untuk menjual peralatan militer kepada negara mitra. Dalam kesepakatan itu, Denmark mengajukan permintaan hingga 100 unit misil AGM-114R Hellfire lengkap dengan perangkat pendukung.
Paket pengadaan mencakup peluncur, simulator pelatihan, suku cadang, serta dukungan teknis dari pihak Amerika. Total nilai transaksi diperkirakan mencapai USD45 juta.
AGM-114R Hellfire sendiri dikenal sebagai sistem senjata presisi tinggi yang fleksibel. Misil ini lazim dipasang pada helikopter tempur maupun drone, dengan kemampuan menghantam target darat secara akurat dalam berbagai kondisi medan.
Ironi: Membeli dari Negara yang Ingin Mencaplok
Langkah Kopenhagen membeli senjata dari Washington memunculkan tanda tanya publik. Wacana akuisisi Greenland yang sempat diungkap Trump beberapa waktu lalu masih membekas dalam memori politik Denmark.
Kala itu, Trump secara terbuka menyebut Greenland sebagai wilayah strategis yang “dibutuhkan” AS. Bahkan ia tidak menutup kemungkinan pembelian wilayah otonom tersebut dari Denmark, memicu protes keras dari pemerintah Kopenhagen.
Kini, di tengah dinamika tersebut, Denmark justru memperkuat militernya dengan alutsista buatan AS. Sejumlah analis melihatnya sebagai paradoks kebijakan pertahanan: membeli perlengkapan dari negara yang sempat mengumbar ambisi atas wilayah yang hendak dilindungi.
Namun pemerintah Denmark menegaskan langkah ini bukan ditujukan untuk menghadapi Amerika Serikat, melainkan bagian dari penguatan sistem pertahanan nasional di kawasan Arktik yang semakin strategis.
Arktik Kian Memanas
Greenland memiliki posisi vital dalam percaturan geopolitik global. Letaknya di kawasan Arktik menjadikannya titik kunci jalur pelayaran baru serta potensi sumber daya alam yang melimpah.
Selain Amerika Serikat, sejumlah kekuatan besar seperti Rusia dan China juga meningkatkan aktivitas dan pengaruhnya di kawasan tersebut. Situasi inilah yang disebut-sebut mendorong Denmark untuk meningkatkan daya tangkal (deterrence) militernya.
Kopenhagen menyatakan pengadaan Hellfire bertujuan memperkuat interoperabilitas dengan aliansi NATO. Artinya, sistem persenjataan yang dibeli kompatibel dan dapat terintegrasi dalam operasi bersama negara-negara anggota NATO lainnya.
Dengan kata lain, pembelian ini lebih diarahkan pada penguatan aliansi dan kesiapan menghadapi dinamika global, bukan sebagai respons langsung terhadap ancaman spesifik dari Washington.
Strategi Deterrence Modern
Konsep deterrence atau daya tangkal menjadi kunci dalam kebijakan pertahanan Denmark. Dalam konteks Arktik yang kian kompetitif, memiliki kemampuan serangan presisi dari udara dianggap penting untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah.
Hellfire memungkinkan respons cepat terhadap ancaman potensial, baik terhadap instalasi strategis maupun pergerakan yang dinilai mengganggu keamanan wilayah.
Secara militer, kehadiran sistem ini akan meningkatkan kapabilitas angkatan bersenjata Denmark, terutama dalam operasi pengawasan dan perlindungan kawasan Greenland yang luas serta memiliki kondisi geografis ekstrem.
Diplomasi dan Realitas Aliansi
Di balik ironi yang tampak di permukaan, realitas hubungan internasional menunjukkan Denmark dan Amerika Serikat tetaplah sekutu dekat dalam NATO. Kerja sama militer, intelijen, dan keamanan kedua negara telah terjalin lama.
Bagi Denmark, membeli dari AS bukan sekadar transaksi dagang, melainkan bagian dari ekosistem pertahanan kolektif Barat. Standarisasi alutsista dengan mitra NATO memudahkan integrasi operasi dan dukungan logistik.
Sementara bagi Washington, penjualan melalui FMS juga memperkuat jejaring pertahanan global sekaligus menjaga pengaruh strategisnya di kawasan Arktik.
Greenland di Persimpangan Strategi Global
Greenland bukan sekadar wilayah otonom Denmark yang dingin dan terpencil. Pulau terbesar di dunia itu kini berada di persimpangan kepentingan kekuatan besar.
Dengan perubahan iklim yang membuka jalur pelayaran Arktik dan potensi eksplorasi sumber daya, kawasan ini semakin bernilai secara ekonomi dan militer. Tidak mengherankan jika Denmark berupaya memastikan wilayah tersebut tetap aman dan berada dalam kendalinya.
Langkah membeli misil dari AS bisa dibaca sebagai pesan tegas: Denmark serius menjaga Greenland, sekaligus tetap bermain dalam kerangka aliansi Barat.
Ironi mungkin tak terhindarkan dalam geopolitik. Namun di balik paradoks itu, kepentingan strategis dan kalkulasi realistis sering kali lebih dominan dibanding sentimen politik sesaat.
Baca juga: Ingin Pecah Belah Iran, CIA Bujuk Milisi Kurdi untuk Memberontak
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

AS Setujui Penjualan Peralatan Senilai Rp5 T untuk F-16 ke Ukraina