JAKARTA - Citra satelit menunjukkan adanya peningkatan jumlah pesawat pendukung militer, termasuk pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara, di sebuah pangkalan udara Arab Saudi yang digunakan oleh militer Amerika Serikat selama periode empat hari pada bulan Februari.

Peningkatan ini terjadi ketika Washington memperkuat kekuatan militernya di kawasan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Arab Saudi, seperti dikutip Reuters Jumat, (27/2), pada bulan lalu memberi tahu Iran bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun wilayah daratnya digunakan untuk aksi militer terhadap Teheran. Hal ini terjadi ketika Iran menggelar perundingan tidak langsung dengan Washington pada hari Kamis terkait program nuklirnya.

Dalam citra satelit beresolusi tinggi yang diambil pada 21 Februari, terlihat sedikitnya 43 pesawat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi—yang telah menjadi tuan rumah bagi pasukan AS selama puluhan tahun—dibandingkan dengan 27 pesawat yang terlihat dalam citra tanggal 17 Februari.

Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 38 pesawat dalam citra tanggal 25 Februari.

Pesawat yang terlihat dalam citra 21 Februari mencakup 13 pesawat Boeing KC-135 Stratotanker dan enam pesawat Boeing E-3 Sentry yang dikenal sebagai AWACS, dari total 29 pesawat besar bersayap sapuan yang terparkir di pangkalan tersebut, kata William Goodhind, analis citra forensik dari Contested Ground, kepada Reuters.

Dalam citra beresolusi menengah pada 17 Februari, terlihat 11 pesawat besar bersayap sapuan, berdasarkan penghitungan Reuters.

[[ Bersayap sapuan istilah penerbangan untuk sayap pesawat yang miring ke belakang (tidak lurus tegak dari badan pesawat). ]]

Ketika dimintai komentar, Pentagon menyatakan tidak ada yang dapat disampaikan. Militer AS biasanya tidak memberikan komentar terkait pergerakan pasukan.

Kantor media pemerintah Arab Saudi juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Oman, yang berperan sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran, menyatakan bahwa kedua pihak mencapai kemajuan dalam perundingan pada hari Kamis, meski belum ada tanda terobosan yang dapat mencegah kemungkinan serangan AS. 

Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, mengatakan pada hari Kamis bahwa kedua pihak berencana melanjutkan perundingan dalam waktu dekat setelah melakukan konsultasi di ibu kota masing-masing negara, dengan diskusi tingkat teknis dijadwalkan berlangsung pekan depan di Wina.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari mengatakan bahwa Iran harus mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hingga 15 hari, seraya memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan.

Perbandingan citra satelit pada awal Februari dengan citra bulan Januari juga menunjukkan penumpukan pesawat dan peralatan militer lainnya di berbagai lokasi di kawasan tersebut.

Citra satelit terbaru juga menunjukkan bahwa Iran tengah memperbaiki dan memperkuat sejumlah lokasi, termasuk situs militer sensitif yang dilaporkan dibom oleh Israel pada tahun 2024.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Jumat menyatakan kekecewaannya terhadap negosiasi antara Amerika dan Iran mengenai program nuklir Iran, serta memperingatkan bahwa “terkadang penggunaan kekuatan diperlukan”, di tengah kehadiran militer AS yang sangat besar di kawasan yang dapat menjadi pertanda kemungkinan serangan terhadap Republik Islam tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Iran menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap para pengunjuk rasa, dengan tujuan memaksa para penguasa negara itu untuk meninggalkan ambisi senjata nuklir dan aktivitas lain yang oleh Washington dianggap mengganggu stabilitas.

Setelah putaran perundingan terbaru pada hari Kamis di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan, kesabaran Trump tampak mulai menipis, meskipun ia mengatakan belum mengambil keputusan akhir terkait penggunaan kekuatan militer.

“Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dan kami tidak puas dengan cara mereka bernegosiasi. Kita lihat saja bagaimana hasil akhirnya,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih untuk melakukan perjalanan ke Texas.

Iran membantah tengah berupaya mengembangkan senjata nuklir dan menginginkan agar setiap kesepakatan juga mencakup pencabutan sanksi Amerika Serikat terhadap negara tersebut.

Trump berbicara sehari setelah perundingan antara utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan pejabat Iran di Jenewa berakhir tanpa pengumuman kesepakatan, meskipun Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator, mengatakan bahwa pembicaraan tersebut mencapai kemajuan signifikan.

Pasukan militer Amerika Serikat dalam jumlah besar, termasuk dua kelompok kapal induk, saat ini berada di kawasan tersebut dan menunggu perintah Trump.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan penggunaan kekuatan militer, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki militer terkuat di dunia.

“Saya sangat ingin tidak menggunakannya, tetapi terkadang Anda harus melakukannya,” ujarnya. (YS)