Utang AS Bengkak Tembus Rp637.393 Triliun, Ray Dalio Ingatkan Runtuhnya Sistem Moneter Global - SindoNews
Utang AS Bengkak Tembus Rp637.393 Triliun, Ray Dalio Ingatkan Runtuhnya Sistem Moneter Global
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Minggu, 01 Februari 2026 - 21:00 WIB
Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio memperingatkan sistem moneter global berada di ambang kehancuran seiring lonjakan utang AS. FOTO/Inc.Magazine
JAKARTA - Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio memperingatkan sistem moneter global berada di ambang kehancuran seiring lonjakan utang Amerika Serikat (AS) yang menembus USD38 triliun atau setara Rp637.393 di 2026. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu runtuhnya tatanan keuangan global yang telah menopang perekonomian dunia selama puluhan tahun.
"Kita sekarang sedang menghadapi runtuhnya tatanan moneter, dan kita dihadapkan pada pilihan yang mengerikan. Apakah mencetak uang atau membiarkan krisis utang terjadi?" ujar Ray Dalio dikutip dari Watcher Guru, Minggu (1/2/2026).
Peringatan tersebut disampaikan Dalio dalam berbagai forum internasional, termasuk World Economic Forum (WEF) di Davos. Ia menilai pemerintah AS berada dalam dilema besar, yakni antara mencetak uang yang berisiko mendorong depresiasi nilai mata uang atau membiarkan krisis utang berkembang tanpa kendali.
Dalio menyebut situasi ini sebagai bagian dari teori Big Cycle, yakni fase akhir dari siklus panjang sistem moneter global. Menurut dia, akumulasi utang yang terus membesar telah menciptakan tekanan struktural yang sulit dihindari dan akan berdampak lintas generasi. "Cucu dan cicit saya yang bahkan belum lahir, akan menanggung pembayaran utang ini dalam dolar yang nilainya telah terdepresiasi."
Baca Juga: Khamenei Ancam Perang Besar Akan Terjadi di Timur Tengah jika AS Gelar Invasi ke Iran
Sejumlah analis menilai peringatan Dalio kian relevan seiring meningkatnya upaya dedolarisasi oleh negara-negara BRICS. Rusia dan China, misalnya, telah menyelesaikan sekitar 90% perdagangan bilateral mereka menggunakan rubel dan yuan tanpa melibatkan dolar AS.
Upaya dedolarisasi tersebut juga ditandai dengan peluncuran The Unit pada Desember 2025, yakni mata uang penyelesaian digital BRICS yang didukung emas dan mata uang negara anggota. Langkah ini mencerminkan pergeseran struktural dalam sistem keuangan global yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun.
Emas Jadi Pelindung
Di sisi lain, bank-bank sentral dunia tercatat membeli lebih dari 1.100 ton emas sepanjang 2025 sebagai upaya lindung nilai terhadap risiko mata uang fiat. Dalio pun merekomendasikan investor untuk menempatkan sekitar 10–15% portofolio mereka pada emas sebagai perlindungan terhadap potensi depresiasi mata uang. "Kebanyakan orang biasanya tidak memiliki jumlah emas yang memadai dalam portofolionya."
Negara-negara BRICS secara kolektif menguasai lebih dari 6.000 ton cadangan emas yang digunakan untuk menopang sistem pembayaran alternatif. Peningkatan minat terhadap emas juga tercermin dari data Google Trends yang menunjukkan kecemasan publik terhadap pelemahan dolar AS mencapai rekor tertinggi pada kuartal terakhir 2025.
Baca Juga: Waswas Dolar AS Runtuh, BRICS Timbun Emas Bangun Sistem Keuangan Baru
Harga emas bahkan diproyeksikan mendekati USD6.000 per ons pada pertengahan 2026, setelah pada 2025 mengungguli kinerja indeks S&P 500 hingga sekitar 65%. Strategi lindung nilai berbasis emas kini tidak hanya diadopsi bank sentral, tetapi juga investor swasta.
Meski demikian, dolar AS masih mendominasi sistem keuangan global dengan mencakup sekitar 89% transaksi valuta asing dunia. Namun, porsinya dalam cadangan devisa bank sentral terus menurun, dari 65,3% pada 2016 menjadi sekitar 59,3% pada akhir 2024.
Konvergensi antara lonjakan utang AS, peringatan Dalio, dan percepatan dedolarisasi BRICS dinilai menandai pergeseran bertahap namun fundamental dalam arsitektur keuangan global. Perubahan ini berpotensi membentuk ulang sistem moneter dunia dalam beberapa tahun ke depan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Infografis

3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia