Dilema Jurnalis Liput Banjir Lahar Semeru: Amankan Gambar atau Menolong Warga Terseret Arus - Kompas
Dilema Jurnalis Liput Banjir Lahar Semeru: Amankan Gambar atau Menolong Warga Terseret Arus
LUMAJANG, KOMPAS.com - Kamera di tangan kanan sudah siap membidik momen sempurna, terjangan banjir lahar hujan Gunung Semeru dengan material vulkanisnya yang meluap dari aliran Sungai Regoyo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Namun, di tangan kiri, naluri kemanusiaan memanggil saat seorang warga berjuang untuk menyelamatkan diri dari seretan banjir lahar Semeru.
Begitulah gambaran suasana hati yang dialami Abdul Rohman, jurnalis KompasTV yang tengah meliput dampak banjir lahar hujan Gunung Semeru.
Bagi seorang jurnalis di kaki Gunung Semeru, seperti Rohman, garis pembatas antara mengabadikan momen penting dan menolong sesama sering kali luntur dalam hitungan detik.
Baca juga: Siswi SD di Lumajang Terseret Banjir Lahar Semeru Saat Berangkat Sekolah
Pada Senin (23/2/2026) pagi, Rohman meliput dampak banjir lahar hujan Gunung Semeru di aliran Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro.
Saat itu, dia berniat untuk meliput perjuangan para siswa mengarungi derasnya aliran Sungai Regoyo agar bisa sekolah.
Tiba-tiba, seorang siswi SDN 3 Jugosari bernama Vita, terseret derasnya banjir lahar saat dibonceng ayahnya menggunakan sepeda motor menyebrangi Sungai Regoyo.
Baca juga: Miftah Hina Pedagang Es Teh, Istana: Presiden Sangat Menghormati Pedagang Kaki Lima
Saat itu, mata dan kaki Rohman tiba-tiba bergerak tidak seirama lagi. Matanya ingin mendapatkan momen eksklusif dari perjuangan siswa agar bisa sekolah.
Namun, kakinya tiba-tiba melangkah maju untuk menghampiri Vita yang tengah meminta pertolongan saat terseret banjir lahar.
"Kaki kayak gerak sendiri maju mau nolong, tapi tangan tetap pegang kamera agar tidak kehilangan momen (gambar liputan)," kata Rohman mengawali cerita, Senin.
Baca juga: Pulang Belanja Kebutuhan Ramadhan, Warga Saling Dorong Motor Seberangi Banjir Lahar Semeru
Rohman mengatakan, kondisi seperti ini tidak sekali dua kali dialaminya saat meliput banjir lahar maupun erupsi Gunung Semeru.
Bahkan, dia pernah berada dalam kondisi antara menyelamatkan diri dari amukan awan panas Semeru atau menyelamatkan gambar eksklusif.
"Waktu erupsi Semeru 2021 dulu juga gitu, kaki ini kayak sudah mau lari karena awan panas sudah ada di depan saya, tapi ada dorongan buat diam sejenak mengamankan gambar dulu," ungkapnya.
Baca juga: Istana Sebut Prabowo Tegur Miftah lewat Mayor Teddy, Usai Olok-olok Pedagang Es Teh
Bagi Rohman, mengamankan liputan adalah caranya membantu warga yang terdampak musibah Semeru.
Dari gambar yang diabadikannya, Rohman berharap banyak orang akan mengulurkan tangan untuk membantu para warga terdampak erupsi maupun banjir lahar Gunung Semeru.
"Kerja jurnalis itu bukan hanya soal mencukupi materi kita, tapi bagaimana orang bisa tergerak untuk saling menolong sesama dari apa yang kita sajikan dalam berita," pungkasnya.
Baca juga: Siswi SD di Lumajang Terseret Banjir Lahar Semeru Saat Berangkat Sekolah
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang