AS-Iran Memanas, Tarif Tanker Minyak ke China Tembus Rp2,1 Miliar per Hari - SindoNews
AS-Iran Memanas, Tarif Tanker Minyak ke China Tembus Rp2,1 Miliar per Hari
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Rabu, 04 Februari 2026 - 22:08 WIB

Tarif harian kapal tanker super rute Timur Tengah menuju China melonjak terdampak memanasnya Amerika Serikat (AS) dan Iran. FOTO/Reuters
LONDON - Tarif harian kapal tanker super rute Timur Tengah menuju China melonjak hingga mendekati USD129.000 atau setara Rp2,1 miliar per hari pada Senin (3/2), menandai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan tajam ini dipicu oleh akumulasi kekhawatiran pasar terhadap potensi aksi militer di Selat Hormuz serta kondisi pasokan armada kapal yang kian menipis.
"Rute acuan TD3C naik 5,1% pada Senin setelah melonjak 61,6% pada Jumat, mencerminkan pembalikan tajam dari minggu sebelumnya ketika tarif melemah," lapor data dari Baltic Exchange dikutip dari Bloomberg, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga: Jenderal Top Iran: Tak Ada Warga AS yang Aman Jika Perang Pecah!
Kenaikan tarif ini terjadi di tengah peringatan dari Yunani, selaku pemilik armada tanker terbesar dunia, agar para nakhoda menjauhi wilayah pantai Iran saat melintasi Selat Hormuz. Pemilik kapal disarankan untuk berlayar lebih dekat ke wilayah perairan Uni Emirat Arab dan Oman guna menghindari risiko eskalasi menyusul ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz menjadi titik fokus utama karena merupakan jalur krusial bagi 20 persen pasokan minyak dunia dengan lalu lintas harian sekitar 100 kapal dagang. Pasar sempat terguncang oleh laporan rencana latihan tempur laut dengan peluru tajam oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, meskipun laporan tersebut kemudian diklarifikasi oleh pejabat setempat pada akhir pekan.
Secara geopolitik, volatilitas ini diperparah sikap tegas Washington terhadap program nuklir Teheran. Komando Pusat AS (CENTCOM) bahkan telah mengeluarkan peringatan keras terkait risiko destabilisasi di jalur air strategis tersebut, yang memaksa para pelaku industri pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra.
Selain faktor keamanan, kondisi pasar struktural turut menjaga tarif tanker tetap berada di posisi tinggi. Analis dari Jefferies memperkirakan utilisasi armada kapal tanker super akan mencapai 92 persen pada tahun 2026, yang merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
Ketatnya pasokan armada ini juga merupakan dampak dari sanksi Barat terhadap kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan minyak dengan Rusia, Iran, dan Venezuela. Kebijakan tersebut secara otomatis mengurangi jumlah kumpulan kapal yang tersedia di pasar reguler, sehingga meningkatkan persaingan untuk mendapatkan ruang muat.
Di sisi lain, penambahan armada baru di pasar global diprediksi tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pengiriman kapal tanker super baru diperkirakan belum akan meningkatkan pasokan secara signifikan setidaknya hingga paruh kedua tahun 2026, sehingga tren tarif tinggi diproyeksikan masih akan bertahan.
Baca Juga: India Pangkas Impor, Ratusan Ribu Barel Minyak Rusia Terombang-ambing di Laut
Meski sempat terjadi penurunan harga minyak dunia sebesar USD2 per barel pada Senin menyusul tanda-tanda de-eskalasi, industri pengiriman tetap berada dalam posisi siaga. Kementerian Perkapalan Yunani terus memantau dampak sanksi baru Uni Eropa terhadap Iran yang berpotensi memperburuk situasi di Selat Hormuz. Kombinasi antara risiko navigasi di jalur laut sempit tersebut dan keterbatasan armada dunia memastikan bahwa pasar tanker akan tetap berada dalam fase volatilitas tinggi selama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah belum mereda sepenuhnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

China Kelabakan, Pelabuhan Terusan Panama Dijual ke AS