0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Spesial

    AS-Iran di Ambang Perang, Sewa Tanker Minyak Menggila Tembus Rp3 Miliar Sehari - SindoNews

    6 min read

     

    AS-Iran di Ambang Perang, Sewa Tanker Minyak Menggila Tembus Rp3 Miliar Sehari


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Jum'at, 27 Februari 2026 - 07:51 WIB


    Biaya sewa kapal tanker untuk mengangkut minyak mentah dari Timur Tengah ke China melonjak tajam. Terminal minyak mentah di Pelabuhan Zhoushan, China. FOTO/bairdmaritim

    JAKARTA - Biaya sewa kapal tanker untuk mengangkut minyak mentah dari Timur Tengah ke China melonjak menembus USD200.000 atau sekitar Rp3 miliar per hari pada Kamis (26/2), tertinggi sejak 2020. Kenaikan tajam ini dipicu kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran.

    "Aksi militer di Timur Tengah kemungkinan akan mendorong tarif VLCC ke level yang belum terlihat sejak 2019," ujar Kepala Riset Pelayaran Global di Oil Brokerage Ltd., Anoop Singh, kepada Bloomberg, dikutip Jumat (27/2/2026).

    Baca Juga: Rebutan Pembeli Minyak di China, Rusia dan Iran Perang Harga Diskon

    Berdasarkan laporan Reuters mengutip data LSEG, tarif acuan TD3 untuk very large crude carriers (VLCC) yang mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak mentah naik ke level Worldscale W218,52 atau setara USD206.141 per hari. Angka tersebut hampir meningkat empat kali lipat sejak awal tahun ketika tarif masih rendah akibat musim sepi.

    Lonjakan tarif terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi terganggu jika konflik terbuka terjadi.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya, sementara AS dilaporkan mengerahkan kapal induk, kapal perang, dan jet tempur ke kawasan tersebut.

    Di sisi lain, pejabat kedua negara memulai putaran ketiga pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada Rabu (25/2). Namun, Kementerian Keuangan AS tetap menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 individu, perusahaan, dan kapal yang terkait dengan perdagangan minyak Iran.

    Faktor lain yang memperketat pasar adalah aksi akuisisi besar-besaran oleh Sinokor Merchant Marine dari Korea Selatan yang membeli sekitar 35 VLCC pada awal 2026. Menurut analisis Breakwave Advisors, perusahaan tersebut kini diproyeksikan menguasai sekitar 24% armada VLCC spot-trading global, meningkatkan konsentrasi pasar secara signifikan.

    Lonjakan permintaan kapal juga terlihat dari langkah perusahaan pelayaran minyak Arab Saudi, Bahri, yang menyewa tiga VLCC untuk pengapalan pertengahan Maret, serta peningkatan pemesanan oleh perusahaan milik negara China.

    Baca Juga: CIA Rekrut Informan di Iran, Teheran Usir 2 Diplomat yang Bawa Modem dan Telepon Satelit

    Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan, produksi minyak mentah global pada Januari lebih tinggi 3,9 juta barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya sehingga memperketat ketersediaan kapal.

    Kenaikan biaya pengiriman diperkirakan akan menekan margin kilang-kilang di Asia yang menanggung beban ongkos angkut impor minyak mentah. CEO Teekay Tankers Kenneth Hvid mengatakan sebagian besar lonjakan tarif saat ini masih didorong antisipasi pasar terhadap potensi konflik.

    "Saat ini lebih karena antisipasi sesuatu yang akan terjadi. Ini situasi yang perlu kita pantau," kata dia.

    (nng)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    Politikus Muslim Mulai...

    Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?


    Komentar
    Additional JS